Survei membuktikan, Mayoritas taman bacaan masyarakat (TBM) di Indonesia beroperasi secara mandiri/swadaya, sementara sebagian kecil lainnya terintegrasi dengan lembaga pendidikan formal seperti PAUD/PKBM/sekolah. Keberadaan taman bacaan pun mendapatkan dukungan yang sangat kuat dari warga lokal di sekitarnya. Hanya sebagian kecil responden yang merasa ragu atau tidak merasakan adanya sokongan dari lingkungan sosialnya. Kondisi ini jadi bukti, adanya peran vital inisiatif masyarakat dalam memperluas akses membaca di tingkat daerah, di samping memberikan gambaran nyata mengenai ekosistem literasi akar rumput.
Hasil survei yang diperbaharui oleh Syarifudin Yunus (TBM Lentera Pustaka Bogor) menyebutkan 75% TBM di Indonesia didirikan dan dikelola secara mandiri/swadaya sekaligus jadi bukti mayoritas TBM bersifat independen, 21% berafiliasi dengan PKBM/pendidikan formal, dan 4% kategori lainnya. Tingkat penerimaan dan dukungan masyarakat sekitar terhadap keberadaan TBM pun sangat positif. Ada 81% TBM mendapat dukungan masyarakat sekitarnya, 18% mungkin mendukung, dan ada 1% tidak mendukung. Kondisi ini menunjukkan bahwa gerakan literasi melalui TBM di Indonesia didominasi oleh inisiatif swadaya masyarakat dengan dukungan sosial yang sangat kuat dari lingkungan sekitarnya. Survei bertajuk “Potret TBM di Indonesia” ini dilakukan oleh Syarifudin Yunus (TBM Lentera Pustaka Bogor pada Juli 2026 yang melibatkan 172 pengelola TBM yang tersebar di 97 Kabupaten/Kota di 27 Provinsi melalui google form.
Kendala TBM (Taman Bacaan Masyarakat) yang dikelola secara mandiri/swadaya
umumnya berkaitan dengan keterbatasan sumber daya, baik finansial, sarana,
maupun sumber daya manusia. Sebagian besar TBM bergantung pada dana pribadi
pengelola, donasi masyarakat, atau bantuan yang sifatnya tidak berkelanjutan,
sehingga mengalami kesulitan dalam menambah koleksi buku, memperbaiki
fasilitas, maupun menyelenggarakan program literasi secara rutin. Selain itu,
pengelolaan TBM sering dilakukan oleh relawan dengan waktu yang terbatas
sehingga kegiatan administrasi, promosi, dan pengembangan program belum
optimal. Tantangan lainnya adalah rendahnya minat baca masyarakat di beberapa
wilayah, persaingan dengan media digital yang lebih menarik, serta belum
terbangunnya jejaring kemitraan yang kuat dengan pemerintah, sekolah, perguruan
tinggi, dunia usaha, maupun komunitas literasi. Akibatnya, banyak TBM
menghadapi kesulitan mempertahankan keberlangsungan layanan dalam jangka
panjang.
Karena itu, strategi pengembangan TBM mandiri/swadaya perlu diarahkan
pada penguatan kelembagaan, diversifikasi sumber pendanaan, dan inovasi layanan
berbasis kebutuhan masyarakat. Pengelola dapat membangun kemitraan dengan
pemerintah daerah, perpustakaan, sekolah, perguruan tinggi, perusahaan melalui
program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), serta organisasi masyarakat
untuk memperoleh dukungan koleksi, pelatihan, maupun pembiayaan. Di sisi lain,
TBM perlu bertransformasi menjadi pusat pembelajaran masyarakat yang tidak
hanya menyediakan buku, tetapi juga menyelenggarakan kegiatan seperti kelas
literasi digital, pelatihan keterampilan, pendampingan belajar anak, klub
membaca, diskusi komunitas, hingga pelatihan kewirausahaan. Pemanfaatan media
sosial dan platform digital juga penting untuk memperluas jangkauan layanan,
membangun jejaring relawan, dan meningkatkan partisipasi masyarakat. Dengan
strategi tersebut, TBM tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi berkembang
sebagai ruang belajar sepanjang hayat (lifelong learning center) yang
berkelanjutan, inklusif, dan memiliki dampak sosial yang lebih luas. Salam
literasi!
%20rev.png)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar