Senin, 20 Juli 2026

Kota Bogor Juara Literasi! Pimpin Tingkat Kegemaran Membaca Se-Jawa Barat dengan Skor Fantastis 91,79.

Gimana kondisi tingkat kegemaran membaca (TGM) masyarakat di Jawa Barat? Sesuai data BPS Jawa Barat tahun 2024, terdapat 13 kabupaten atau kota yang berhasil mencapai kategori sangat tinggi. Kota Bogor menempati posisi puncak sebagai daerah dengan minat baca paling aktif, diikuti oleh Bandung dan Depok. Secara keseluruhan, Provinsi Jawa Barat memiliki skor rata-rata yang cukup bersaing di angka 75,07.

 

Perbandingan tingkat kegemaran membaca (TGM) antar wilayah di Jawa Barat pada tahun 2024 menunjukkan variasi yang cukup signifikan, dengan rincian sebagai berikut:

·      Rata-rata Provinsi. Tingkat kegemaran membaca untuk wilayah Jawa Barat secara keseluruhan berada di angka 75,07, yang masuk dalam kategori "Sangat Tinggi" (di atas skor 75).

·      Wilayah dengan Capaian Tertinggi. Terdapat 13 kabupaten/kota yang memiliki indeks TGM dengan kategori Sangat Tinggi. Lima wilayah teratas adalah: Kota Bogor 91,79, Kabupaten Bandung: 87,14, Kota Depok: 86,19., Kota Bandung: 82,54, dan Kota Tasikmalaya: 82,09.

·      Wilayah dengan Capaian Terendah. Meskipun dengan skor paling rendah adalah Subang dengan skor 57,03, diikuti oleh Purwakarta (60,21) dan Kabupaten Bekasi (64,65).

·      Distribusi Kategori. Wilayah yang berada di atas rata-rata provinsi (skor > 75,07) mencakup 13 daerah, mulai dari Kota Bogor hingga Indramayu (76,58) dan wilayah lainnya (sebanyak 14 daerah) memiliki skor di bawah rata-rata provinsi namun tetap berada dalam kategori "Tinggi" (skor 50-75), seperti Kota Banjar (74,65) hingga Subang.

Intinya, wilayah perkotaan seperti Kota Bogor, Kota Depok, dan Kota Bandung cenderung mendominasi peringkat atas dibandingkan dengan beberapa wilayah kabupaten.

 

Berdasarkan grafik Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) Tahun 2024, diperoleh data di Jawa Barat dari skor tertinggi ke terendah adalah:

1.       Kota Bogor: 91,79.

2.       Kabupaten Bandung: 87,14.

3.       Kota Depok: 86,19.

4.       Kota Bandung: 82,54.

5.       Kota Tasikmalaya: 82,09.

6.       Kota Banjar (74,65)

7.       Sumedang (72,27)

8.       Tasikmalaya (72,15)

9.       Kota Cirebon (71,18)

10.    Pangandaran (70,87)

11.    Ciamis (70,42)

12.    Kota Sukabumi (69,27)

13.    Cirebon (68,97)

14.    Garut (68,64)

15.    Bogor (Kabupaten) (65,96)

16.    Bandung Barat (64,74)

17.    Bekasi (Kabupaten) (64,65)

18.    Purwakarta (60,21)

19.    Subang (57,03)

 

Patut dipahami, skor Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) merupakan indikator yang digunakan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) untuk mengukur budaya membaca masyarakat di suatu daerah (provinsi maupun kabupaten/kota). TGM tidak hanya mengukur "berapa banyak orang membaca", tetapi juga mengukur kebiasaan dan dukungan terhadap aktivitas membaca.

 


Setidaknya, ada 5 (lima) dimensi utama yang memengaruhi skor TGM:

Dimensi

Indikator yang diukur

Contoh

1. Frekuensi membaca

Seberapa sering seseorang membaca

Membaca setiap hari atau beberapa kali seminggu

2. Durasi membaca

Lama waktu yang digunakan untuk membaca

1–2 jam per hari, 30 menit per hari, dll.

3. Jumlah bahan bacaan

Banyaknya bahan bacaan yang dibaca dalam periode tertentu

Buku, majalah, koran, e-book, artikel digital

4. Frekuensi akses internet untuk membaca

Seberapa sering internet digunakan sebagai media membaca

Membaca berita online, jurnal, e-book, website edukasi

5. Durasi akses internet untuk membaca

Lama waktu menggunakan internet khusus untuk aktivitas membaca

Misalnya 1 jam membaca artikel atau e-book

 

Walaupun bukan komponen langsung dalam perhitungan indeks, beberapa kondisi yang memengaruhi tinggi-rendahnya TGM suatu daerah adalah sebagi berikut:

1. .      1. Ketersediaan perpustakaan atau taman bacaan

2.      2. Koleksi bahan Pustaka (jumlah buku dan keberagaman koleksi) 

       3. Akses terhadap bahan bacaan.

      4. Program literasi dan kampanye gemar membaca.

      5. Dukungan pemerintah daerah. 

  6. Karakteristik sosial masyarakat (tingkat pendidikan, pendapatan, akses teknologi, budaya membaca dalam keluarga)

 

Maka jadi “pekerjaan rumah” ke depan, untukterus mengembangkan perpustakaan atau taman bacaan masyarakat yang aktif mengadakan kegiatan literasi dan menjangkau masyarakat untuk sediakan akses bacaan dan layanan motor baca keliling/perpustakaan keliling. Salam literasi!

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar