Kamis, 23 Juli 2026

95% Pekerja Terancam Masalah Finasial di Hari Tua, Inilah 5 Penyebabnya

BPS menyebut 82,96% rumah tangga lansia (pensiunan) masih bergantung secara ekonomi pada anggota keluarga yang bekerja (2025). Artinya, banyak pekerja mengalami kesulitan finansial di hari tua karena pendapatan tetap berhenti, sementara kebutuhan dan biaya hidup  cenderung meningkat. Kondisi ini diperparah oleh rendahnya kepemilikan tabungan atau dana pensiun dan minimnya perencanaan keuangan jangka panjang. Akibatnya, tidak sedikit pensiunan yang mengalami penurunan kesejahteraan dan masih bergantung pada keluarga atau bantuan sosial untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

 

Untuk membuktikan, apa penyebab pekerja mengalami masalah finansial di hari tua. Syarifudin Yunus, edukator DPLK Sinarmas Asset Management (DPLK SAM) melalukan survei kepada 100 pekerja di Jabodetabek (Juli 2026) dengan pertanyaan sederhana, apa yang menyebabkan kita susah secara keuangan di hari tua?  Ternyata, jawabannya adalah karena 1) sulit menabung saat bekerja 40%, 2) perilaku konsumtif 25%, 3) gaya hidup 15%, 4) kebiasaan utang 15%, dan 5) malas bekerja 5%. Karena itu, sebagian besar pekerja memang tidak memiliki perencanaan masa pensiun.

 

Jika digabungkan, sulit menabung (40%) ditambah gaya hidup, perilaku konsumtif, dan utang (55%) dari total penyebab masalah keuangan saat pensiun, maka 95% pekerja akan mengalami masalah finansial di hari tua. Akibat tidak mampu mengendalikan pengeluaran untuk sifat konsumtif, gaya hidup, dan utang. Sulit menabung dan utang, bisa jadi akibat gagalnya mengendalikan pegeluaran. Alias “lebih besar pasak daripada tiang”. Maka wajar seperti data BPS, 8 dari 10 pensiunan sangat bergantung kepada anak atau keluarga di hari tuanya.

 


Lalu, kenapa pekerja sulit menabung (penyebab terbesar (40%)? Tentu, alasan paling klasik “gaji tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari”. Dan agak sulit memitigasi, kenapa gaji tidak cukup? Tapi bila mau dicermati, kesulitan menabung bisa jadi karena faktor penyebab lainnya yaitu:

·      Belum mampu mengendalikan perilaku konsumtif (25%). Inilah area prioritas yang jadi sebab sulit menabung. Maka perli dimitigasi, perilaku konsumtif akibat keinginan dan kebutuhan? serta menghindari pembelian impulsif terhadap barang-barang yang tidak mendesak.

·      Gagal mengelola gaya hidup (15%). Seringkali pekerja merasa ber-gaji diikuti denngan kenaikan gaya hidup. Menjaga gaya hidup agar tetap berada di bawah kemampuan finansial sebenarnya akan memberikan ruang lebih besar untuk dialokasikan ke tabungan masa tua.

·      Sulit menghindari kebiasaan ber-utang (15%). Mengurangi atau meniadakan utang konsumtif sangat krusial. Agar tidak terbebani “cicilan utang” dan seharusnya bisa menjadi tabungan.

Maka, kata kunci untuk mengatasi kesulitan menabung bukan hanya tentang meningkatkan pendapatan. Tapi secara disiplin menekan perilaku konsumtif, utang, dan gaya hidup berlebihan yang secara kolektif yang menyumbang 55% dari risiko kegagalan finansial di masa tua.

 

Seperti kawan saya saat ditanya, kenapa belum punya DPLK untuk persiapan hari tua? Jawabnya, kebutuhan bulanan masih banyak tapi perilaku konsumtif dan gaya hidupnya selalu “membengkak”. Maka wajar, banyak pekerja berpotensi mengalami masalah finansial di masa pensiun. Bagaimana dengan Anda? #YuksiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DPLKSAM

 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar