BPS menyebut 82,96% rumah tangga lansia (pensiunan) masih bergantung secara ekonomi pada anggota keluarga yang bekerja (2025). Artinya, banyak pekerja mengalami kesulitan finansial di hari tua karena pendapatan tetap berhenti, sementara kebutuhan dan biaya hidup cenderung meningkat. Kondisi ini diperparah oleh rendahnya kepemilikan tabungan atau dana pensiun dan minimnya perencanaan keuangan jangka panjang. Akibatnya, tidak sedikit pensiunan yang mengalami penurunan kesejahteraan dan masih bergantung pada keluarga atau bantuan sosial untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Untuk membuktikan, apa penyebab pekerja mengalami masalah finansial di hari tua. Syarifudin Yunus, edukator DPLK Sinarmas Asset Management (DPLK SAM) melalukan survei kepada 100 pekerja di Jabodetabek (Juli 2026) dengan pertanyaan sederhana, apa yang menyebabkan kita susah secara keuangan di hari tua? Ternyata, jawabannya adalah karena 1) sulit menabung saat bekerja 40%, 2) perilaku konsumtif 25%, 3) gaya hidup 15%, 4) kebiasaan utang 15%, dan 5) malas bekerja 5%. Karena itu, sebagian besar pekerja memang tidak memiliki perencanaan masa pensiun.
Jika digabungkan, sulit
menabung (40%) ditambah gaya hidup, perilaku konsumtif, dan utang (55%) dari
total penyebab masalah keuangan saat pensiun, maka 95% pekerja akan mengalami
masalah finansial di hari tua. Akibat tidak mampu mengendalikan pengeluaran
untuk sifat konsumtif, gaya hidup, dan utang. Sulit menabung dan utang, bisa
jadi akibat gagalnya mengendalikan pegeluaran. Alias “lebih besar pasak
daripada tiang”. Maka wajar seperti data BPS, 8 dari 10 pensiunan sangat
bergantung kepada anak atau keluarga di hari tuanya.
Lalu, kenapa pekerja sulit menabung (penyebab terbesar (40%)? Tentu, alasan paling klasik “gaji tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari”. Dan agak sulit memitigasi, kenapa gaji tidak cukup? Tapi bila mau dicermati, kesulitan menabung bisa jadi karena faktor penyebab lainnya yaitu:
· Belum mampu mengendalikan perilaku konsumtif
(25%). Inilah area prioritas yang jadi sebab sulit menabung. Maka perli
dimitigasi, perilaku konsumtif akibat keinginan dan kebutuhan? serta
menghindari pembelian impulsif terhadap barang-barang yang tidak mendesak.
· Gagal mengelola gaya hidup (15%). Seringkali
pekerja merasa ber-gaji diikuti denngan kenaikan gaya hidup. Menjaga gaya hidup
agar tetap berada di bawah kemampuan finansial sebenarnya akan memberikan ruang
lebih besar untuk dialokasikan ke tabungan masa tua.
· Sulit menghindari kebiasaan ber-utang (15%).
Mengurangi atau meniadakan utang konsumtif sangat krusial. Agar tidak terbebani
“cicilan utang” dan seharusnya bisa menjadi tabungan.
Maka, kata kunci untuk mengatasi
kesulitan menabung bukan hanya tentang meningkatkan pendapatan. Tapi secara
disiplin menekan perilaku konsumtif, utang, dan gaya hidup berlebihan yang
secara kolektif yang menyumbang 55% dari risiko kegagalan finansial di masa
tua.
Seperti kawan saya saat
ditanya, kenapa belum punya DPLK untuk persiapan hari tua? Jawabnya, kebutuhan
bulanan masih banyak tapi perilaku konsumtif dan gaya hidupnya selalu “membengkak”.
Maka wajar, banyak pekerja berpotensi mengalami masalah finansial di masa
pensiun. Bagaimana dengan Anda? #YuksiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DPLKSAM
%20rev.png)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar