Sebuah hasil survei persiapan dana pensiun terhadap 100 pekerja di Jabodetabek menyoroti tingkat kepercayaan diri para pekerja dalam menghadapi masa pensiun. Sebanyak 55% pekerja merasa tidak yakin mampu mencukupi kebutuhan ekonomi setelah berhenti bekerja atau pensiun. Sebaliknya, hanya terdapat 45% pekerja yang merasa optimis terhadap kondisi finansial di hari tua. Survei ini menunjukkan adanya kerentanan ekonomi yang signifikan di kalangan pekerja terkait biaya hidup saat pensiun. Artinya, ada risiko masalah keuangan yang membayangi lebih dari separuh populasi pekerja. Ketidakpastian ini menegaskan perlunya perhatian lebih terhadap perencanaan hari tua agar kemandirian finansial pekerja dapat tercapai. Survei bertajuk “Analisis Kesiapan Pensiun Pekerja Biasa di Jabodetabek dan Tantangan Industri Dana Pensiun di Indonesia” dilakukan oleh Syarifudin Yunus, peneliti dana pensiun dari DPLK Sinarmas Asset Management (DPLK SAM) pada Agustus 20205 dan terbit di jurnal ilmiah JiMaKeBiDI (link: https://ejournal.arimbi.or.id/index.php/JIMaKeBiDi/article/view/776).
Mengcau pada survei tersebut, maka implikasi risiko keuangan bagi
pekerja yang tidak memiliki dana pensiun adalah sebagai berikut:
1. Kerentanan
terhadap Masalah Keuangan: Pekerja menjadi sangat rentan terhadap risiko
masalah keuangan di hari tua atau masa pensiun.
2.
Ketidakpastian Biaya Hidup: Terdapat tingkat
ketidakyakinan yang tinggi dalam memenuhi kebutuhan dasar, di mana 1 dari 2
pekerja merasa tidak yakin dapat memenuhi biaya hidupnya saat masa pensiun tiba
atau ketika sudah tidak bekerja lagi.
3.
Rendahnya Kepercayaan Diri Finansial: Data
menunjukkan bahwa mayoritas pekerja (55%) merasa "Tidak Yakin" dengan
keamanan finansial di masa depan, dibandingkan dengan 45% yang merasa yakin.
Tingkat keyakinan pekerja terkait kemampuan memenuhi biaya hidup di
hari tua (saat tidak lagi bekerja) menunjukkan kesenjangan yang signifikan
yaitu pekerja yang tidak yakin (55%) dan pekerja yang yakin (45%). Hal ini menunjukkan
bahwa lebih banyak pekerja yang merasa terancam secara finansial dibandingkan pekerja
yang merasa aman di hari tua. Karena itu, beberapa poin penting terkait
strategi pekerja untuk menghindari kerentanan di hari tua:
1. Pentingnya
dana pensiun/DPLK sebagai langkah utama agar pekerja untuk menjaga kesinambungan
penghasilan di hari tua sekaligus menghindari "masalah keuangan” di masa
pensiun.
2.
Meningkatkan keyakinan finansial dengan berfokus
pada upaya-upaya yang dapat mengubah status "Tidak Yakin" menjadi
"Yakin" (seperti kelompok 45% lainnya) melalui perencanaan keuangan
yang lebih matang, menekan perilaku konsumtif, dan menghindari gaya hidup
berlebihan.
3.
Kesadaran akan risiko agar terhidndar dari kesulitan
memenuhi biaya hidup saat sudah tidak bekerja lagi.
Maka sebagai solusi, pekerja harus mulai berani menabung untuk masa
pensiun atau hari tua. Tentu di era digital begini, pilihlah DPLK yang punya
akses digital (mendaftar secara online).
Karena melalui aplikasi digital, setiap pekerja bisa mendapat edukasi
dan akses langusng untuk punya dana pensiun. Pekerja harus terlibat aktif dalam
mempersiapkan masa pensiunnya sendiri, di samping dapat memantau akumulasi dana
dan mengelola perencanaan pensiun secara digital. Untuk bisa mendaftar DPLK
secara online, salah satunya melalui
aplikasi “SimPensiun” dari DPLK Sinarmas Asset Management (DPLK SAM)
yang berkomitmen memberi kemudahan akses pekerja (formal dan informal) untuk
membeli DPLK. Di DPLK SAM, setiap pekerja bisa menjadi peserta DPLK dengan
iuran minimal Rp. 50.000 per bulan (silakan kunjungi: https://simpensiun.com/).
Jadi, solusi mendasar untuk pekerja adalah memulai atau mengoptimalkan
kepemilikan dana pensiun di DPLK. Agar pekerja tidak lagi menjadi kelompok yang
"rentan terhadap risiko masalah keuangan" saat sudah tidak bekerja
lagi. Mengubah dari tidak yakin menjadi yakin soal urusan finansial di hari
tua. #YukSiapkPensiun #DPLKSAM #EdukasiDPLK
%20rev.png)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar