Ini literasi tentang gosip di kantor. Dari berbagai kawan yang cerita kondisinya, ternyata gosip di kantor itu rumit ya. Satu sisi, seperti hiburan di tengah kerja yang melelahkan. Tapi di sisi lain, bila tidak dikendalikan, gosip di kantor bisa berubah jadi racun. Seperti kawan saya yang rusak reputasinya. Bahkan gosip di kantor, bisa memecah tim, membuat orang saling curiga, dan mengubah kantor jadi tempat yang tidak nyaman. Sebut saja jadi kantor toxic.
Survei sih membuktikan kebanyakan
pekerja tidak benar-benar suka gosip. Tapi faktanya, gosip di kantro sudah jadi
budaya. Apalagi di sebagian perusahaan yang memang “maju” karena gosip. Dan siapapun
sulit menghindar dari gosip di kantornya. Di pantry ada obrolan. Di grup kecil
ada sindiran. Saat makan siang ada cerita. Saat lembur ada curhatan. Saat ada
skandal, semua orang tiba-tiba punya versi masing-masing. Anehnya, kalau tidak
ikut, dianggap sok suci. Tapi kalau ikutan gosip, lama-lama jadi terseret.
Maka ada yang bilang, gosip di
kantor itu memberi rasa dekat yang “palsu”. Saat dua orang membicarakan orang
ketiga, keduanya merasa punya rahasia bersama. Terkesan akrab. Tapi kedekatan
yang dibangun dari “membongkar aib orang lain” biasanya tidak aman. Hari ini kita
membicarakan orang lain. Tapi besok, bisa jadi giliran kita yang dibicarakan
teman kantor sendiri.
Suatu kali, seorang pekerja telat
masuk kerja, telat datang. Langsung muncul cerita: “Kayaknya dia mulai malas”.
Ada yang bilang lagi “Dia memang dari dulu begitu”. “Katanya lagi ada masalah
rumah”. “Dengar-dengar mau resign”. Itu semua gosip yang terjadi dan jadi
cerota kantor saat temannya telat masuk kerja. Padahal faktanya sederhana: si
pekerja itu lagi sakit, bisa jadi ada urusan keluarga, atau ada masalah
transportasi di jalan. Ya begitulah gosip beredar di kantor, tidak butuh fakta
lengkap. Gosip di kantor itu hanya butuh celah.
Gosip di kantor sih sah-sah
saja. Hanya saja, kita harus sadar, Tidak semua pembicaraan tentang orang lain
adalah gosip buruk. Tidak semua gosip di kantor itu harus yang jelek-jelek. Kadang
kita perlu membahas perilaku kerja yang berdampak. Memang bedanya ada pada
tujuan. Kalau tujuannya mencari solusi, itu diskusi. Kalau tujuannya menikmati
aib orang lain itulah gosip. Bahkan kalau setelah ngobrol tidak ada tindakan
selain makin sinis, mungkin itu bukan kepedulian. Itu konsumsi drama semata.
Karenanya, siapapun yang
kerja di kantor. Hati-hati dan penting punya cara menyikapi gosip di kantor. Sebaiknya,
jangan buru-buru menambah informasi yang belum jelas. Tanya dulu, “Kita bahas
ini untuk apa?”. Kalau menyangkut urusan kerjaan, arahkan ke solusi. Tapi kalau
mulai masuk urusan personal, tahan diri dna hindari saja. Jangan kirim
screenshot WA ke grup lain. Jangan jadi penyambung lidah drama. Ketika gosip terjadi
di kantor, kita tidak harus menegur semua orang. Terkadang cukup tidak ikut
memberi “bahan bakar” saja.
Yang agak aneh dari gosip di
kantor, biasanya datang dari pekerja-pekerja yang “nggak becus” kerja. Kerja Cuma
sebagai gaya hidupm bukan sebagai “passion”. Dan sering terjadi, penggosip di
kantor biasanya ekonominya lebih “berantakan” dari kawan yang di-gosipin. Lebih
serem lagi, penggosip di kantor biasayanya tidak punya dana pensiun. Masa
pensiunnya nggak jelas, tidak mandiri secara finansial, dan berpotensi bergantung
pada anak di hari tuanya. Karena itu, sebaiknya pastikan dulu sudah punya dana
pensiun atau DPLK sebelum gosipin kawan sendiri diri kantor. Gamang kok untuk
punya DPLK, cukup nabung dengan iuran minimal Rp. 50.000 per bulan (silakan cek:
https://simpensiun.com/).
Jadi hati-hati bila terlibat
gosip di kantor. Memang gosip di kantor terasa kecil. Tapi reputasi orang bisa
hancur dari cerita yang bahkan belum tentu benar. Di kantor itu bahaya bila ada
orang yang mulai gosipndan diam-diam menyebarkannya ke banyak orang padahal
mereka hanya “tahu sedikit” saja. Jangan gosip di kantor! #YukSiapkanPensiun
.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar