Ini sebuah pesan literasi. Jangan terlalu sibuk merendahkan langkah orang lain, sementara jejak kita sendiri masih penuh lumpur. Apalagi sampai mengukur harga diri seseorang, seolah derajat manusia ditentukan oleh lidah kita. Bahkan bila orang lain pun salah, kita belum tentu benar pula.
Ketahuilah, manusia yang
paling tinggi kedudukannya adalah mereka yang tidak melihat kedudukan dirinya.
Dan manusia yang paling banyak memiliki kelebihan, adalah mereka yang sama
sekali tidak memamerkan kelebihannya. Tetaplah merendah hati seperti ilmu padi.
Lebih baik ikhtiar untuk terus memperbaiki diri, sambil tetap berbuat baik dan
menebar manfaat seperti berkiprah di taman bacaan masyarakat. Mengabdi secara
sosial tanpa pamrih sepenuh hati, dilihat atau tidak dilihat orang lain.
Surga itu sangat luas, namun
seringkali prasangka manusialah yang sempit. Kadang, yang sempit itu bukan
jalan menuju surga, melainkan cara kita melihat orang lain, sehingga dengan
mudahnya kita memberikan cap atau stempel buruk pada orang lain. Maka jangan
terlalu sibuk merendahkan orang lain, apalagi meremehkannya.
Jika hari ini kita belum punya
materi untuk diberikan, cukup bersedekah dengan tutur kata yang baik, senyum
yang tulus, sikap yang baik, dan perlakukan sesama dengan akhlak yang mulia.
Bila belum mampu berbuat baik secara fisik, maka cukup diam saja karena itu
jalan yang paling mudah.
Bahkan bila hidup terasa
terlalu gaduh dan berisik, menyingkirlah sambil membaca buku. Asal baik dan
bermanfaat, kerjakanlah. Mari saling mengingatkan dalam kebaikan, bukan
sebaliknya. Salam literasi!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar