Jumat, 17 April 2026

Jangan Terlalu Sibuk Merendahkan Langkah Orang Lain

Ini sebuah pesan literasi. Jangan terlalu sibuk merendahkan langkah orang lain, sementara jejak kita sendiri masih penuh lumpur. Apalagi sampai mengukur harga diri seseorang, seolah derajat manusia ditentukan oleh lidah kita. Bahkan bila orang lain pun salah, kita belum tentu benar pula.

  

Ketahuilah, manusia yang paling tinggi kedudukannya adalah mereka yang tidak melihat kedudukan dirinya. Dan manusia yang paling banyak memiliki kelebihan, adalah mereka yang sama sekali tidak memamerkan kelebihannya. Tetaplah merendah hati seperti ilmu padi. Lebih baik ikhtiar untuk terus memperbaiki diri, sambil tetap berbuat baik dan menebar manfaat seperti berkiprah di taman bacaan masyarakat. Mengabdi secara sosial tanpa pamrih sepenuh hati, dilihat atau tidak dilihat orang lain.

 

Surga itu sangat luas, namun seringkali prasangka manusialah yang sempit. Kadang, yang sempit itu bukan jalan menuju surga, melainkan cara kita melihat orang lain, sehingga dengan mudahnya kita memberikan cap atau stempel buruk pada orang lain. Maka jangan terlalu sibuk merendahkan orang lain, apalagi meremehkannya.

 


Jika hari ini kita belum punya materi untuk diberikan, cukup bersedekah dengan tutur kata yang baik, senyum yang tulus, sikap yang baik, dan perlakukan sesama dengan akhlak yang mulia. Bila belum mampu berbuat baik secara fisik, maka cukup diam saja karena itu jalan yang paling mudah.

 

Bahkan bila hidup terasa terlalu gaduh dan berisik, menyingkirlah sambil membaca buku. Asal baik dan bermanfaat, kerjakanlah. Mari saling mengingatkan dalam kebaikan, bukan sebaliknya. Salam literasi!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar