Pak Darto (56) masih mengingat jelas percakapan sederhana dengan anak sulungnya dua tahun sebelum ia pensiun. “Kalau Bapak sudah pensiun nanti, Bapak tinggal saja bersama kami. Biar kami yang menanggung kebutuhan Bapak,” kata anak sulungnya dengan tulus.
Kalimat
itu seharusnya menenangkan. Namun bagi Pak Darto, justru menimbulkan
kegelisahan yang sulit dijelaskan. Ia bersyukur memiliki anak-anak yang peduli,
tetapi jauh di dalam hatinya, ia tidak ingin masa tuanya menjadi beban bagi
mereka. Tidak mau massa pensiunnya bergantung kepada anak-anaknya.
Selama
lebih dari dua puluh enam tahun bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan
distribusi di Jakarta, Pak Darto menyadari satu hal penting: suatu hari nanti
gaji itu akan berhenti datang. Karena itulah sejak lama ia mengikuti program Dana
Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK), dengan menyisihkan sebagian penghasilannya
setiap bulan untuk ditabung.
Awalnya
Pak Darto tidak terlalu memikirkan hasilnya. Potongan iuran terasa kecil,
bahkan kadang terlupakan di tengah kebutuhan keluarga yang begitu banyak: biaya
sekolah anak, cicilan rumah, hingga kebutuhan sehari-hari. Namun ketika hari
pensiun benar-benar tiba, Pak Darto merasakan arti dari keputusan kecil yang
dulu ia buat. Selama lebih dari 26 tahun
bekerja, ia rutin mengikuti program pensiun melalui Dana Pensiun Lembaga
Keuangan (DPLK) yang difasilitasi kantornya.
Kini
setelah pensiun, manfaat pensiun yang Pak Darto terima setiap bulan menjadi
penopang utama kehidupannya. Setiap bulan, ia menerima manfaat pensiun secara bulanan
dari DPLK. Seperti gaji saat bekerja tetap mengalir ke rekeningnya. Jumlahnya
mungkin tidak sebesar gaji ketika masih aktif bekerja. Tapi cukup untuk
memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari bersama istrinya.
Dengan
uang pensiun bulanan, Pak Darto masih bisa membeli kebutuhan dapur sendiri. Ia
masih bisa membayar listrik dan air tanpa meminta bantuan anaknya. Bahkan
sesekali ia masih bisa memberikan uang saku kepada cucunya, Aleena.
“Yang
paling penting bagi saya bukan besar kecilnya uang pensiun bulanan,” kata Pak Darto.
“Tetapi perasaan bahwa saya masih bisa berdiri di atas kaki sendiri setelah
pensiun.”
Kini
setiap kali bertemu rekan-rekan yang masih bekerja, Pak Darto selalu
menyampaikan pesan yang sama. “Jangan menunggu tua untuk memikirkan pensiun.
Kalau kita tidak menyiapkannya sejak bekerja, nanti pilihan kita hanya dua:
bekerja terus tanpa henti, atau bergantung pada anak-anak.”
Bagi
Pak Darto, manfaat terbesar dari program pensiun DPLK bukan hanya soal uang, tapi
soal harga diri. Baginya, dana pensiun bukan sekadar tabungan. Ia adalah cara
menjaga martabat di usia tua, saat pensiun.
“Saya
bersyukur tidak harus bergantung pada anak di hari tua. Sebab sehebat apapun
anak, pasti punya kehidupan sendiri. Dengan dana pensiun, saya tetap bisa
mandiri secara finansial dan hidup lebih tenang” ujar Pak Darto.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar