Tidak sedikit orang hidup di masa kini tapi pikirannya ada di masa lalu. Fisiknya ada di hari ini tapi emosinya di hari kemarin. Memang, melepaskan masa lalu sering terdengar mudah. Tapi dalam praktiknya sangat sulit, bahkan tidak sedikit yang jadi ujian batin. Banyak orang membawa kenangan lama ke dalam hubungan baru tanpa sadar. Perasaan masa lalu yang belum selesai, membuat hatinya setengah hadir untuk hari ini. Seolah mencintai sambil tetap menoleh ke belakang. Akhirnya, cinta pun kehilangan ruang untuk tumbuh dengan utuh.
Siapapun tidak bisa menikmati cinta yang baru tanpa melepaskan
cinta yang lama. Ini hanya ungkapan reflektif, tentang proses melepaskan
keterikatan emosional pada hal-hal lama atau masa lalu. Agar ruang batin lebih terbuka
untuk pengalaman baru. Seperti ornag bekerja di kantor baru, akan sulit berkembang
bila masih terkenang dengan kantor yang lama. Begitu pula cinta. Cinta lama yang
terkekang dengan hubungan masa lalu, perasaan yang belum selesai, dan harapan
yang tidak terwujud. Tentu akan sulit melahirkan cinta baru. Selama hati masih
terikat pada yang lama, cinta baru akhirnya sering dibanding-bandingkan, tidak
diterima utuh, dan dijalani setengah hati. Melepaskan cinta masa lalu bukan
berarti membenci atau melupakan, tetapi menerima bahwa ia sudah selesai.
Ikatan lama memang bukan selalu tentang orangnya, melainkan
tentang emosi yang tertinggal. Ada luka, harapan, atau rasa nyaman yang belum
dilepaskan. Selama hal itu masih disimpan, perasaan baru hanya menjadi
pengganti sementara, bukan pengalaman yang benar-benar dihidupi dengan
kesadaran penuh. Contoh yang sering terjadi adalah seseorang yang terus
membandingkan pasangan barunya dengan mantannya. Caranya berbicara, perhatiannya,
bahkan kesalahan kecil selalu ditimbang dengan standar lama. Hubungan menjadi
berat sebelah karena diisi bayangan masa lalu, bukan realitas yang sedang
dijalani hari ini.
Kita sering lupa. Cinta yang baru itu membutuhkan ruang yang
bersih. Bukan berarti melupakan semua kenangan, tetapi menempatkannya sebagai
bagian hidup yang sudah selesai. Saat hati tidak lagi sibuk mengoreksi masa
lalu, ia menjadi lebih jujur menerima apa adanya. Lebih terbuka dan mau
menerima apa adanya. Tampak pada orang yang memberi kesempatan penuh pada
hubungan barunya. Ia mendengar tanpa prasangka, mencintai tanpa ketakutan lama,
dan membangun kepercayaan tanpa membawa luka sebelumnya. Hubungan terasa lebih
ringan karena dijalani dengan tulus dan utuh. Susah memang tapi bukan berati
tidak bisa kan?
Cinta masa lalu memang harus dilepaskna. Bukan berarti tanda
kalah, melainkan bentuk kedewasaan emosional. Dengan merelakan yang telah
pergi, hati membuka ruang bagi pengalaman baru yang lebih sehat. Dari situlah
cinta bisa hadir bukan sebagai pelarian, tetapi sebagai pilihan sadar. Seperti
berkiprah di taman bacaan, sebaiknya bukan pelarian atau sekadar mengisi waktu
kosong. Tapi menjadi pilihan sadar untuk berbuat baik dan menebar manfaat
kepada sesama. Itulah prinsip yang harus dilatih, bukan diperdebatkan!
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar