Kamis, 29 Januari 2026

Gaji Naik Terus Tiap Tahun tapi Susah Punya Dana Pensiun?

Sebenarnya cukup mudah untuk bisa siap pensiun. Asal mau menabung untuk hari tua, menyisihkan sebagian gaji untuk masa pensiun. Menabung 3% atau 5% dari gaji untuk dicairkan jadi kesinambungan penghasilan sebagai manfaat pensiun saat tidak bekerja lagi. Agar tetap mandiri secara finansial di hari tua dan tidak bergantung kepada siapapun. Tapi sayangnya, banyak pekerja masih terbuai gaya hidup. Sehingga “menganggap” menabung untuk masa pensiun nanti saja. Menunda dan belum mau menyisihkan sebagian gaji untuk hari tua. Gaji tiap tahun naik tapi susah banget siapin masa pensiun?

 

Akibatnya hari ini di Indonesia,  9 dari 10 pekerja sama sekali tidak siap pensiun atau berhenti bekerja. Bahkan 1 dari 2 pensiunan atau lansia mengandalkan transferan dari anak-anaknya untuk biaya hidup setiap bulan. Semuanya terjadi karena tidak tersedianya dana yang memadai untuk membiayai hidup di saat tidak bekerja lagi. Tidak punya uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan di hari tua. Pensiun yang terkesan mudah menjadi susah.  

 

Mempersipakan masa pensiun yang indah memang jadi susah. Banyak orang belum siap pensiun. Setidaknya ada 5 (lima) penyebab, kenapa kita belum siap untuk pensiun yaitu: 1) gemar berperilaku konsumtif di saat bekerja, membeli barang atass dasar keinginan bukan kebutuhan, 2) terbuai gaya hidup yang tidak perlu sehingga biaya hidup jadi tinggi, 3) masih suka utang sehingga gaji tergerus untuk membayar cicilan, 4) terlambat menabung untuk hari tua atau masa pensiun, alasannya gaji tidak cukup untuk tabunngan pensiun, dan 5) takut memiliki program pensiun sehingga tidak punya kesiapan dana untuk hari tua.

 


Cepat atau lambat, siapapun akan pensiun. Saat usia pensiun tiba dan masa kerja berakhir di kantor. Maka tidak ada solusi lain untuk bisa lebih siap pensiun. Selain “bertindak dari sekarang untuk mempersiapkan masa pensiun” kita sendiri. Berani menyisihkan sebagian gaji untuk hari tua. Berani menabung untuk masa pensiun dan mau memiliki dana pensiun sejak dini tanpa ditundqa lagi.

 

Bagaimana caranya? Salah satu ikhtiar yang paling sederhana adalah mulai ikut dalam program DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Karena DPLK adalah program yang dirancang khusus untuk mempersiapkan masa pensiun pekerja. Agar punya kesinambungan penghasilan di hari tua, saat tidak bekerja lagi. Agar tetap manidiri secara finansial da tidak bergantung secara finansial kepada anak atau keluarga.

 

Siapapun yang memiliki DPLK, atas manfaat pensiun yang dibayarkan saat mencapai usia pensiun. Sehingga ada kepastian dana untuk hari tua, bahkan mendapat hasil investasi yang signifikan untuk ketenangan hidup di masa pensiun. Mau nyaman atau tidak di masa pensiun adalah pilihan kita sendiri. Maka bersiaplah untuk pensiun, sebab kalau bukan kita mau siapa lagi? #EdukasiDanaPensiun #YukSiapkanPensiun #MasaPensiun #DanaPensiun

Apa yang Berubah dari Kebiasaan Membaca Buku?

 

Kita sering menaruh buku sebagai simbol pencerahan. Buku diasosiasikan dengan pengetahuan, kebenaran, dan kebijaksanaan. Maka wajar jika muncul anggapan bahwa membaca buku yang baik akan otomatis melahirkan perubahan, baik pada diri manusia maupun pada dunia. Padahal, membaca sebenarnya baru tahap awal, bukan tujuan akhir.

 

Membaca buku, sejatinya bekerja di wilayah kesadaran, bukan langsung di wilayah tindakan. Buku bisa membuka cara pandang, menggoyahkan keyakinan lama, atau menumbuhkan empati, tetapi semua itu masih bersifat potensi. Perubahan nyata baru terjadi ketika hasil bacaan diolah menjadi sikap, pilihan, dan tindakan konkret. Tanpa proses itu, membaca hanya berhenti sebagai konsumsi gagasan.

 

Selain itu, dunia tidak berubah hanya karena individu menjadi lebih tahu. Dunia digerakkan oleh struktur sosial, kekuasaan, ekonomi, dan relasi antarmanusia. Seseorang bisa sangat terpelajar, tetapi tetap hidup di sistem yang tidak adil. Di sinilah kekecewaan sering muncul: kita berharap kebijaksanaan personal langsung menular ke tatanan sosial, padahal perubahan sosial selalu lambat, kolektif, dan penuh tarik-menarik kepentingan.

 


Namun, bukan berarti membaca sia-sia. Justru kekuatannya ada pada efek perlahan dan kumulatif. Buku tidak mengubah dunia secara instan, tetapi membentuk cara manusia berpikir, memperhalus kepekaan moral, dan menyiapkan landasan bagi tindakan yang lebih sadar. Membaca tidak mengubah keadaan, tidak pula menggerakkan dunia. Tapi menyentuh sesuatu yang lebih dasar: manusia itu sendiri.

 

Membaca mengubah cara orang berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan. Jadi berani untuk bertanya, kepekaan untuk peduli, dan tanggung jawab atas pilihan hidup. Perubahan itu pelan, kadang tidak terlihat, tapi menetap. Tinggal di kepala dan hati seseorang, lalu ikut terbawa ke mana pun ia pergi. Dari orang-orang yang membaca itulah dunia bergerak. Dunia tidak berubah oleh kurikulum, tapi oleh manusia yang terdidik dengan kesadaran. Ketika orang berubah, cara bekerja berubah, cara memimpin berubah, cara memperlakukan sesama pun ikut berubah. Dan di sanalah, tanpa banyak suara, dunia perlahan ikut bergeser.

 

Maka, membaca tidak membuat dunia otomatis adil, dan tidak menjamin manusia langsung bijak. Tapi tanpa membaca, harapan akan dunia yang lebih adil dan manusia yang lebih bijak hampir mustahil. Buku bukan tombol ajaib, melainkan benih. Perlu waktu, perawatan, dan keberanian untuk diwujudkan dalam tindakan. Begitulah orang-orang yang membaca. Salam literasi!



LSP Dana Pensiun Gelar Uji Sertifikasi KKNI untuk 36 Pelaku DPPK dan DPLK

Sertifikasi KKNI dana pensiun menjadi fondasi profesionalisme SDM sekaligus tata kelola industri dana pensiun. Melalui sertifikasi KKNI, industri dana pensiun menjawab tiga kebutuhan besar yaitu kompetensi, kepercayaan, dan keberlanjutan. Berangkat dari spirit untuk meningkatkan kompetensi SDM-nya, LSP Dana Pensiun hari ini melakukan asesmen uji kompetensi dan sertifikasi KKNI Dana Pensiun yang diikuti 36 peserta pada jenjang 4, 6C, dan 7 di Jakarta (29/1/2026).

 

Dengan melibatkan 13 asesor kompetensi berlisensi BNSP yang terdiri dari: Arif Hartanto, Edy Rahardja, Asiwardi Gandhi, Bambang Sri Muljadi, Syarifudin Yunus, A. Inderahadi K, Purwaningsih, Edi Pujiyanto, M. Jihadi, Satino, Ganis Widio Ananto, Sularno, dan Junaedi A. Kaelani, asesmen KKNI Dana Pensiun ini dijalankan sesuai dengan SEOJK 12/2025 tentang sertifikasi kompetensi kerja dan sertifikasi kompetensi selain sertifikasi kompetensi kerja bagi dana pensiun dan POJK 34 Tahun 2024 tentang Pengembangan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) pada Dana Pensiun.

 

Peserta uji sertifikasi KKNI berasal dari 25 DPPK/DPLK: Dapen Pusri, Dapen BPK Penabur, PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen, DPLK IFG Life, Dapen PT. BPD Sumatera Selatan dan Bangka Belitung, Dapen Tirta Nusantara, Dapen PT. Pembangunan Perumahan (Persero), Dapen  Gereja Protestan Di Indonesia Bagian Barat, Dapen  PT. BPD Riau Kepri, Dapen Universitas Surabaya, Dapen PPIP-PUSRI, Dapen Goodyear Indonesia, Dapen Syariah PT. Bank Aceh, Dapen Bank Mandiri Empat, Dapen PLN, Dapen Askrida, Dapen PT. BPD Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Dapen PT. BPD Lampung, DPLK Bumiputera, Dapen Bank Mandiri, Dapen Garuda Indonesia, Dapen PT. BPD Bali, Dapen Kaltim Prima Coal, Dapen PT. BPD Nusa Tenggara Timur, dan Dapen Astra Dua. Melalui uji sertifikasi KKNI dana pensiun, LSP Dana Pensiun menjalankan perannya untuk memastikan standar kompetensi, di samping kredibilitas mutu pelaku dana pensiun di Indonesia. Sebab KKNI dana pensiun menjadi cerminan standar pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang sesuai dengan standar yang dipersyaratkan regulasi.

 

“Melalui uji sertifikasi KKNI, LSP Dana Pensiun berkomitmen untuk mengoptimalkan kompetensi SDM dana pensiun. Sertifikasi berbasis KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia) memastikan bahwa pengurus, pengelola, dan pelaksana dana pensiun memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang terstandar, baik dari regulasi dana pensiun, investasi & manajemen risiko, dan tata kelolanya. Tidak hanya berpengalaman, tapi teruji secara objektif, karena dana pensiun mengelola dana jangka panjang yang menyangkut hak peserta” ujar Edi Pujiyanto, Direktur LSP Dana Pensiun saat membuka asesmen uji sertifikasi KKNI Dana Pensiun hari ini.

 


Melalui asesmen sertifikasi KKNI, setiap SDM dana pensiun divalidasi dan diwawancara atas makalah atau kinerja yang dijalankan sesuai standar kompetensi nasional yang disusun oleh BNSP untuk industri dana pensiun. Untuk itu, proses asesmen LSP Dana Pensiun dilakukan secara objektif, adil, dan valid sesuai sistem dan prosedur pengembangan kualitas SDM yang berkelanjutan. Melalui KKNI, SDM industri dana pensiun diharapkan dapat menerapkan tata kelola yang baik dan manajemen risiko yang efektif untuk melindungi peserta dana pensun yang ada.

 

Untuk diketahui, saat ini LSP Dana Pensiun memiliki 29 asesor kompetensi berlisensi BNSP untuk melaksanakan dan memantau realisasi pengembangan kualitas SDM dana pensiun. LSP Dana Pensiun merupakan satu-satunya LSP di bidang dana pensiun yang terdaftar di OJK sesuai dengan Surat Tanda Terdaftar Lembaga Sertifikasi Profesi Sektor Jasa Keuangan No: STTD.LSP-03/MS.1/2025 tertanggal 23 Juli 2025 dan Keputusan Ketua BNSP No: KEP.0015/BNSP/I/2023. Untuk informasi dan program LSP Dana Pensiun dapat disimak melalui: https://lspdapen.com/.

 

Kompetensi sesuai KKNI bidang Dana Pensiun diterapkan semata-mata untuk a) pelaksanaan pendidikan atau pelatihan, b) pelaksanaan sertifikasi kompetensi, c) pengembangan sumber daya manusia, dan d) pengakuan kesetaraan kualifikasi. Melalui KKNI bidang Dana Pensiun diharapkan SDM dana pensiun mampu meningkatkan kompetensinya, sehingga 1) mengetahui ukuran kemampuan yang dimiliki, 2) dapat meningkatkan akses untuk mengembangkan diri, dan 3) menambah produktivitas kerja. Selain berkomitmen dalam mengoptimalkan KKNI dana pensiun, LSP Dana Pensiun terus melakukan koordinasi untuk memastikan kompetensi SDM di sektor dana pensiun sesuai standar nasional dan standar profesionalisme dalam pengelolaan dana pensiun. Salam Kompeten!

 



Rabu, 28 Januari 2026

Jangan Takut Pelan Asal Arah Jelas di Taman Bacaan

Sekarang ini banyak orang terburu-buru, maunya serba cepat. Pengen sukses pengen terkenal tapi prosesnya ditinggalkan. Tergesa-gesa, segala hal dianggap seperti kompetisi atau perlombaan. Bahkan tidak sedikit yang niatnya hanya untuk mengalahkan orang lain. Agar dianggap lebih hebat, lebih tinggi dari yang lainnya.

 

Sayangnya banyak yang lupa. Saat ini banyak yang hidupnya terasa makin cepat, tapi hasilnya justru makin jauh dari harapan? Banyak orang bangun pagi dengan rasa dikejar-kejar, bekerja seharian, lalu pulang dengan kepala mumet dan hati kosong. Di tengah tekanan kebutuhan dan keterbatasan penghasilan, pelan sering dianggap kalah sebelum mulai.

 

Sebuah laporan WHO menyebutkan. Bahwa tekanan hidup yang terus-menerus tanpa rasa kendali meningkatkan risiko stres dan kelelahan mental. Bukan karena hidup terasa berat, tapi karena banyak orang merasa harus cepat, terburu-buru untuk menggapai keinginannya. Padahal arah hidupnya sendiri belum jelas. Akhirnya tenaganya habis untuk bergerak, bukan untuk maju. Tapi untuk berperang dengan obsesi dan pikirannya sendiri.

 

Setelah berkiprah di TBM Lentera Pustaka selama 9 tahun. Ternyata salah satu Pelajaran penting yang diperoleh adalah “jangan takut pelan asal arah jelas”. Di taman bacaan, pelan bukan masalah, selama aktivitas yang dilakukan baik dan bermanfaat. Pelan di taman bacaan justru oke asal langkahnya sadar dan terarah. Anak-anak yang tidak punya akses baca jadi punya kebiasaan baca. Pengguna layanan tadinya hanya 14 orang kini melonjak jadi 366 orang. Tadinya hanya 1 program literasi jadi 15 program literasi dalam 9 tahun. Pelan asal arahnya jelas.

 

Hikmahnya, ternyata kita perlu sadar. Bahwa cepat tidak selalu tepat. Banyak keputusan diambil terburu-buru karena takut ketinggalan. Padahal, pilihan yang dibuat tanpa pertimbangan sering berujung penyesalan dan membuang waktu percuma. Berani pelan memberi ruang untuk berpikir, menimbang, dan menjalaninya dengan lebih tenang. Maka apapun, tentukan arah kcil yang realistis. Arah tidak harus langsung besar dan muluk. Cukup jelas untuk bulan ini atau tiga bulan ke depan, mau seperti apa? Jalani prosesnya dengan konsisten. Arah yang sederhana justru membuat langkah pelan tetap terasa bermakna.

 

Jangan bandingkan kecepatan dengan orang lain. Sebab setiap orang punya titik awal dan beban yang berbeda. Membandingkan langkah hanya membuat pikiran bising dan hati tidak tenang. Fokus pada jalur sendiri, membantu menjaga energi dan semangat untuk terus bergerak. Karenanya, perlu ditopang dengan kebiasaan kecil yang konsisten. Sebab perubahan besar jarang datang dari lonjakan, tapi dari kebiasaan kecil. Sisihakn waktu untuk belajar atau mencatat apapun yang penting untyk lebih maju. Kebiasaan sederhana dapat  menjaga arah agar tetap lurus meski langkah pelan.

 


Banyak orang ingin cepat tapi mengabaikan risiko. Contohnya membeli barang hanya karena keinginan bukan kebutuhan. Agar dibilang keren. Lebih baik ditabung untuk masa depan daripada akhirnya punya utang. Karena itu, jaga komitmen pada proses sendiri. Tidak semua hari haru maju, cukup Jalani prosesnya saja. Yang penting adalah tetap kembali ke arah yang jelas, ke arah yang sudah dipilih.

 

Banyak yang lupa. Kesetiaan pada proses itu membuat langkah pelan tetap membawa hasil. Pada akhirnya, hidup dan apapun bukan perlombaan siapa paling cepat. Tapi perjalanan siapa paling sadar dan sabar. Perubahan tidak menunggu kondisi ideal, melainkan dimulai dari keberanian mengatur langkah sesuai kemampuan dan arah yang jelas. Berjalan pelan dengan arah jelas lebih menenangkan daripada berlari tanpa tahu tujuan. Salam literasi!

 



Milenial Sering Ganti Pekerjaan dan Akrab Teknologi tapi Nggak Punya Dana Pensiun

Berdasarkan data yang ada, generasi milenial (lahir sekitar 1981–1996) diperkirakan berjumlah sekitar 69,90 juta jiwa dari total populasi Indonesia sekitar 270,2 juta jiwa. Atau sekitar 25,87% dari total penduduk Indonesia. Cukup besar ya.

 

Selain akrab dengan teknologi berbasis internet dan gadget, generasi milenial dikenal sering gonta-ganti pekerjaan, selalu mencari peluang yang lebih baik, dan menyukai fleksibilitas. Sayangnya, generasi milenial sama sekali tidak atau belum mau persiapkan dana pensiun. Survei Syarifudin Yunus (2019) menyebut 90% kaum milenial tidak punya dana pensiun. Artinya 1 dari 10 milenial hari ini tidak punya program pensiun. Bahkan 60% dari milenial sama sekali tidak tahu, apa itu dana pensiun?

 

Agak bahaya sih bisa generasi milenial nggak punya dana pensiun. Justru bila mau gonta-ganti pekerjaan, seharusnya punya fundamental keuangan yang memadai. Tidak aware-nya milenial terhadap dana pensiun tentu bertolak belakang dengan pola pikir milenial itu sendiri yang cenderung idealis, kritis, dan visi hidup yang ambisius. 

 

Fenomena milenial sering ganti pekerjaan, akrab teknologi, tetapi tidak punya dana pensiun punya dampak berlapis. Bukan cuma ke individu, tapi juga ke perusahaan, negara, dan sistem sosial nantinya. Dampak bagi individu milenial antara lain: rentan secara finansial di usia tua akibat uangnya habis untuk kebutuhan jangka pendek. Dampaknya, milenial berisiko tetap bekerja di usia lanjut, bukan karena pilihan tapi karena terpaksa. Dihantui ilusi karena teknologi, merasa selalu bisa “cari uang nanti”. Dan akhirnya, mengalamai beban psikologis jangka panjang. Sebab tanpa dana pensiun, saat milenial menginjak usia 40–50-an akan mengalami kecemasan finansial, takut sakit, kehilangan pekerjaan, dan akhirny akonflik keluarga meningkat.

 

Dampak bagi dunia kerja dan perusahaan, akan kesulitan mempertahankan karyawan dan membangun loyalitas SDM. Konsekuensinya, produktivitas jangka panjang menurun. Sebab karyawan tanpa rasa aman finansial akan gampang stres, kurang fokus, dan cenderung oportunistik. Dan ujungnya akan berdampak pada negara dan sistem sosial. Jika mayoritas milenial tidak punya dana pensiun dan hidup lebih panjang, maka negara akan menghadapi lonjakan penduduk lansia miskin di masa depan. Beban negara jadi meningkat, akhirnya butuh bansos, subsidi kesehatan meningkat, dan ketimpangan sosial melebar.

 

Karena itu, generasi milenial perlu menyadari sekalipun bisa dianggap terlalu dini untuk menjelaskan kepada milenial. Tapi setidaknya, ada 3 (tiga) dampak negatif yang signifikan bila milenial tidak memiliki dana pensiun, yaitu: 1) akan jadi beban atau tanggungan orang lain di hari tua, 2) mengalami masalah keuangan di masa pensiun saat tidak bekerja lagi, dan 3) gagal mempertahankan gaya hidup di hari tua seperti saat masih bekerja.  Milenilal tanpa dana pensiun, maka keunggulan itu berubah menjadi kerentanan struktural. Masalahnya, bukan milenial malas menabung. Tapi tidak ada kesadaran dan edukasi tentang pentingny dana pensiun kepada milenial.

 


Nah, sebagai antisipasi dari “lingkaran misterius” hari tua generasi milenial. Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah generasi milenial harus berani punya dana pensiun dari sekarang. Agar lebih disiplin menabung untuk hari tua, sekaligus meredam perilaku konsumtif yang berlebihan. Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah dengan mulai memiliki dana pensiun melalui DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Kebiasaan berpindah kerja dan dominasi teknologi dalam kehidupan milenial, jika tidak diimbangi dengan kepemilikan dana pensiun, berpotensi menimbulkan risiko kesejahteraan jangka panjang yang berdampak sistemik bagi individu dan negara.

 

Maka sudah saatnya, kaum milenial menyisihkan sebagian “uang jajan” untuk nongkrong di kafe-kafe atau gaya hidup ke dana pensiun. Sekaligus menjadi sarana untuk mengatur perencanaan keuangan secara lebih bijak. Agar tetap sejahtera dan nyaman di hari tua. Jangan sampai “dompet tipis” di hari tua akibat terlalu royal di masa muda. DPLK menjadi alternatif yang patut dipilih kaum milenial dalam mempersiapkan hari tuanya sendiri.

 

Sebab cepat atau lambat, generasi milenial pun akan tua, akan pensiun. Pasti akan berhenti dari pekerjaan. Hanya masalahnya, sudah tersediakah dana untuk membiayai hidup di hari tua atau masa pensiun?

Selasa, 27 Januari 2026

Pemimpin Nggak Usah Banyak Omong, Banyakin Kerja

 

Di organisasi bahkan di kantor, sekarang ini ada candu bernama: pengakuan. Biasanya dimiliki yang merasa jadi ketua, pemimpin atau atasan. Saking merasa pentingnya, dia punya kebutuhan aneh yang sering nyamar jadi “cuma pengen jelasin”, “cuma pengen lurusin”, “cuma pengen biar orang paham”. Padahal kalau ditarik ke akar, sering kali itu cuma: pengen diakui sebagai pimpinan.

 

Si pemimpin organsisasi lupa, begitu dia pengen diakui maka dia mulai kebanyakan ngomong. Mulai buka-buka cerita yang sebenernya nggak perlu. Mulai ngasih konteks omongan yang nggak diminta. Dan si pemimpin mulai nambahin detail yang nggak ada gunanya buat anggotanya. Dan tanpa sadar, dia lagi ngasih anggotanya bahan mentah. Ada juga satu jebakan si pemimpin: merasa paling ngerti. Dia “harus” ngomong karena dia ngerasa paling paham. Lalu mulai ceramah. Mulai meremehkan, mulai merendahkan orang lain. Dia lupa, dalam politik dalam konflik dalam kekuasaan, yang bikin orang tumbang itu bukan kebodohan. Tapi kecerobohan yang lahir dari kepercayaan diri berlebihan. Sok paling tahu, sok paling pinter. Lupa, mulut adalah tempat kepercayaan diri bunuh diri pelan-pelan.

 

Si pemimpin organsisasi itu lupa. Kata-katanya bukan cuma ngasih tahu orang lain siapa dia. Tapi juga mengunci dia posisi tertentu. Ngomong di depan orang banyak, nanti kantor akan lebih besar dari sekarang. Tapi besok yang dikerjain ma;ah kantornya dibikin kecil. Hari ini ngomong A, ternyata besok yang dilakukan malah B. ujungnya, nggak ada yang dikerjain buat organisasinya. Semuanya didelegasikan, nyuruh orang lain. Tapi bilangnya, kolaborasi dan bagian dari strategi organisasi. Intinya, dia terlalu suka nunjukin betapa dia merasa lebih tinggi dari orang lain. Setiap pidatonya bukan cuma nyampein ide tapi juga nyampein isi kepalanya yang paling jelek: sombong, meremehkan, dan nggak sabaran. Anggota dan rakyat yang tadinya kagum, jadi muak. Bukan karena idenya salah. Tapi karena mulutnya keburu ngebuka sendiri “siapa dia sebenarnya”. Anggotanya pun saling nomong di belakang, saling lirik-lirikan.

 

Di dunia nyata, banyak pemimpin nggak paham. Yang pertama kali bocor itu hampir selalu yang kalah posisi tawar. Makanya kalua diperhatikan: orang yang kebanyakan klarifikasi biasanya bukan lagi menguatkan posisi tapi dia lagi defensif. Lagi panik. Lagi merasa harus ngejelasin diri. Dan begitu dia harus ngejelasin diri, di situ sebenarnya posisi dia sudah bergeser. Bukan pemimpin tapi hanya strategi kamuflase.

 

Si pemimpin ngomong karena pengen kelihatan pintar. Ngomong karena nggak tahan sama sunyi dan karena takut disalahpahami. Dan justru karena banyak ngmong itu, si pemimpin jadi gampang kebaca. Dia lupa dalam hidup, dalam negosiasi bahkan dalam menulis: yang bikin kuat bukan seberapa banyak yang diomongin. Tapi seberapa banyak yang kita tahan buat nggak kita omongin. Karena sekali kata keluar, dia nggak bisa ditarik balik. Dan sering kali, harga satu kalimat itu lebih mahal dari yang kita kira. Ada satu hal yang lebih dalam: orang jarang jatuh karena musuhnya pinter. Dia jatuh karena dia sendiri terlalu pengen didengar. Kita lupa, pemimpin yang sok tahu sok pinter, itulah yang bikin orang lain jadi apatis.

 


Ada ilusi berbahaya: kalau diam, dikira kalah. Padahal sering kali yang sebenarnya kalah itu justru yang keburu buka mulut duluan. Perhatikan orang kalau lagi debat. Yang posisinya lemah biasanya: nambah volume suara, nambah panjang kalimat, nambah banyak pembelaan dan mengklarifikasi masalah. Tapi yang posisinya kuat biasanya: jawabannya pendek, diam atau langsung resign. Mengambil sikap tegas, untuk menghidari pemimpin yang sok tahu, arogan ddan subjektif.

 

Hari ini banyak pemimpin merasa paing ngerti, apapun. Padahal itu jebakan batman. Nggak ada yang dilakukan, organsisasinya pun nggak lebih baik, bahkan cenderung “kosong”. Ya begitu-begitu saja. Tapi ocehannya diperbanyak agar jadi alasan. Orang yang banyak ngomong itu kaku. Karena dia sudah mengikat dirinya sendiri dengan ucapannya sendiri. Beda dengan orang yang irit ngomong, dia lentur. Dia bisa belok. Bisa mundur. Bisa nyerang. Tanpa harus jelasin apa-apa. Dan ini yang jarang disadari: diam itu bukan kosong. Diam itu menyimpan kemungkinan. Kemungkinan buat berubah sikap. Kemungkinan buat ganti strategi. Kemungkinan buat ninggalin orang lain kejebak sama asumsi mereka sendiri. Jadi penting, kalau kita nggak harus ngomong, jangan ngomong.

 

Pernah nggak kita ketemu orang yang makin dia jelasin sesuatu, kok makin kelihatan nggak meyakinkan? Awalnya dia kelihatan pinter. Terus dia nambah penjelasan. Terus nambah klarifikasi lagi. Sampai di satu titik, dia bukan makin yakin. Dan di situ kita mulai mikir: “Ini orang kenapa sih kayak takut banget nggak dipercaya?” Nah, di situ masalahnya. Mulai insecure atas posisinya.

 

Kebanyakan pemimpin atau orang nggak sadar: setiap kali mereka ngomong, mereka bukan cuma nyampein ide. Mereka lagi buka peta isi kepala mereka sendiri. Dan makin panjang mereka ngomong, makin kelihatan bentuknya: takutnya di mana, pengennya apa, paniknya seperti apa, niat aslinya ke mana? Makanya ada tipe orang yang baru buka mulut dua kalimat, tapi suasana ruangan langsung berubah. Bukan karena dia pinter banget. Tapi karena dia gak ngasih cukup data buat orang lain buat “ngebaca” dia, mau ke mana omongannya?

 

Dan bila di organsisasi udah seperti itu, maka yang terjadi suasana sepi. Tidak dinamis, tidak demokratis. Semuanya satu arah dan tinggal menunggu waktu saja untuk berakhir. Makanya ingat, semakin banyak kita nambah kata, semakin kelihatan kita lagi nutupin sesuatu. Lebih baik fokus kerja, benahi yang harus dibenahi di organsiasi. Nggak usah inscure, harus ngejelasin atau klarifikasi apapun. Di organsiasi dan negara manapun, sejarah pasti ada. Nggak usah menyalah-nyalahkan sejarah cuma mau dibilang hebat. Jangan bilang orang lain buruk bila cuma mau kita dibilang baik. Ada caranya yang elegan, tunjukkan dengan kerja dan bisa diukur pencapainnya.  

 

Ingat, ada cerita klasik soal seorang jenderal Romawi, Coriolanus namanya. Di medan perang, dia legenda. Semua orang takut. Semua orang kagum. Tapi begitu masuk politik, dia hancur. Kenapa? Karena dia nggak bisa ngerem mulutnya dan cuma cari pengakuan. Kerjanya cuma menyalahkan sejarah tanpa bisa berbuat strategi perang lebih baik. Mau kayak jenderal Coriolanus?

Kiprah di Taman Bacaan Tanpa Perlu Pengakuan, Jalani Prosesnya

Ini bukan soal bagus atau tidak bagus. Tapi soal kepuasan batin yang muncul dari aktivitas keseharian di TBM Lentera Pustaka. Sebuah kiprah sosial saat melayani anak-anak KElas PRAsekolah (KEPRA) yang belajar baca-tulis atau mendampingi anak-anak Taman Bacaan (TABA) saat membaca buku. Dari yang tadinya tidak ada akses belajar calistung dan membaca, kini tumbuh menjadi anak-anak yang rutin datang ke taman bacaan. Bersama-sama ada di taman bacaan, minimal seminggu 3 kali.

 

Memang benar, berkiprah di taman bacaan tidak dapat diukur secara kuantitatif. Bukan bicara angka atau pengakuan. Tapi memberikan kepuasan bersifat intrinsik, hanya bisa dirasakan oleh yang melakukannya. Dalam kegiatan sosial, terutama di taman bacaan, hasil nyata seperti jumlah pengunjung, buku yang dibaca, atau penghargaan sering kali bukan tujuan utama. Yang lebih bermakna adalah kesadaran bahwa kehadiran dan usaha kita memberi dampak, sekecil apa pun bagi orang lain. Ada manfaat yang dirasakan dari keberadaan taman bacaan.

 

Ukuran keberhasilan juga tidak melulu dari angka atau pengakuan. Nilai utama dari kiprah sosial di taman bacaan sejatinya terletak pada proses pengabdian, bukan pada validasi sosial atau capaian yang bisa dipamerkan. Ketika sebuah pengabdian hadir sepenuh hati, maka di dalamnya ada ketulusan dan komitmen moral. Kepuasan muncul karena tindakan dilakukan dengan niat memberi, bukan karena dorongan imbalan. Dari sini, muncul rasa tenang dan damai, lebih bermakna, dan ada koneksi dengan sesama. Sesuatu yang tidak bisa dihitung, tetapi bisa dirasakan.

 


Begitu pula dalam hidup. Terkadang ada kepuasan yang tidak bisa diukur dari besar kecilnya hasil. Tapi dari proses dan rasa bahwa sesuatu itu lahir dari keringat sendiri. Sekecil apa pun yang didapat, ia membawa martabat. Ada usaha di sana, ada niat untuk berdiri di atas kaki sendiri. Kadang hasil jerih payah memang tidak langsung mengubah keadaan. Hidup tetap berat, masalah tetap ada. Tapi setidaknya kita tidak menambah beban orang lain. Ada ketenangan kecil saat tahu bahwa kita sedang berusaha menanggung hidup kita sendiri, walau pelan dan jauh dari sempurna.

 

Ikhtiar kita sering luput dari sorotan. Tidak dramatis, tidak mengundang pujian. Namun justru di situlah nilainya. Bertahan tanpa merepotkan, berjuang tanpa banyak suara, dan terus berjalan meski hasilnya kecil. Bagi banyak orang, itu sudah merupakan keberanian yang besar dan manfaat yang luar biasa.

 

Singkatnya, kerja apapun atau kerja sosial adalah kepuasan sejati bukan berasal dari besar-kecilnya hasil yang tampak, melainkan dari makna, ketulusan, dan kesadaran bahwa kita telah berkontribusi dengan sepenuh hati. Kepuasan itu bersifat personal, mendalam, dan sering kali justru paling kuat ketika tidak disertai sorotan atau pujian.

 

Jadi, tetaplah mengabdi untuk sosial dan berbuatlah sesuatu yang lebih baik, apapun hasilnya. Salam literasi!





Literasi Dana Pensiun: Ternyata di Hari Tua, Hidup Kita Tidak Berdiri Sendiri

 

Ini soal pentingnya dana pensiun, sebagai kesinambungan penghasilan di hari tua.

 

Kalau hanya soal rasa takut, mungkin banyak dari kita akan memilih menghindar. Kalau hanya soal masih lama pensiunnya, mungkin kita memilih untuk menunda. Kalau hanya bilang tidak punya uang untuk ditabung, mungkin banyak dari kita akan bilang “nanti saja”. Begitulah adanya, bila merasa belum penting.

 

Dan akhirnya, kita berpura-pura semuanya akan baik-baik saja. Gaji habis untuk biaya hidup, bahkan gaya hidup. Beli pulsa internet bisa berkali-kali sebuat. Bahkan nongkrong di tempat ngopi mampu setiap hari. Entah, berapa uang yang dihabiskan untuk itu semua? Tapi semakin ke sini, saya makin sadar akan satu hal penting: TERNYATA, HIDUP KITA TIDAK BERDIRI SENDIRI.


Beso atau ke depan, masih ada anak-anak yang butuh biaya kuliah. Ada orang tua yang berharap kita masih bisa membantu. Ada pasangan yang menggantungkan masa depannya. Ada biaya kesehatan yang munculnya tidak pernah diduga. Bahkan ada biaya kebutuhan hidup sehari-hari yang harus dibayar. Anak-anak, pasangan dan mereka percaya, bahwa apa pun yang terjadi, kita akan selalu mampu, atau setidaknya kita siapkan segalanya.


Dana pensiun bukan tentang memikirkan akhir hidup. Bukan pula hanya urusan kaum tua atau pensiunan. Dana pensiun bukan soal waktu yang masih lama. Sebab dana pensiun adalah tentang tanggung jawab selama kita masih hidup. Apa yang sudah kita siapkan untuk masa pensiun dan orang-orang tercinta nanti di saat kita tidak bekerja lagi.

 


Soal kesadaran bahwa jika suatu hari kita tidak bekerja lagi. Jika kita tidak punya gaji lagi. Jika kondisi tidak terduga datang tanpa permisi di masa dpena. Dan jika rencana hidup tidak berjalan sesuai harapan di kala kita sudah tua. Apakah hidup orang-orang yang kita cintai tidak ikut runtuh?

 
Justru di situlah makna pentingnya mempersiapkan hari tua, bersiap untuk masa pensiun. perlindungan. Mulai berani untuk menabung untuk masa pensiun kita sendiri. Bukan akhir bekerja yang dramatis, bukan pula untuk menakut-nakuti. Tapi mengambil keputusan yang lahir dari kepedulian akan hari tua kita sendiri, saat nanti tidak bekerjal lagi.


Ini bukan soal karier, pangkat atau jabatan. Tapi soal keberanian untuk menyiapkan hari tua di saat masih bekerja. Sebab kedewasaan bukan diukur dari seberapa berani kita menghadapi risiko, melainkan seberapa siap kita menjaga orang-orang yang dicintai di masa depan. Untuk menjaga standar hidup mereka di kala kita tidak punya gaji lagi.

 

Itulah pentingnya dana pensiun bagi kita. Selain untuk memastikan ketersediaan dana di hari tua, dana pensiun juga menjamin keberlanjutan penghasilan di saat kita tidak bekerja lagi.

Senin, 26 Januari 2026

Taman Bacaan Ajarkan Anak-anak, Jangan Takut Salah

 

Salah satu ajaran yang ditanamkan di TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor adalah “jangan takut keliru”. Salah memilih buku bacaan, salah dalam membaca, bahkan salah dalam menjawab soal tidak apa-apa. Proses belajar dan membaca memang pasti ada salahnya. Maka jangan takut keliru, karena kesalahan adalah guru yang paling jujur.

 

Keliru bukan hanya manusiawi. Setiap kekeliruan menyimpan pelajaran yang tidak bisa digantikan oleh teori atau nasihat. Dari salah, manusia belajar memahami batas, mengasah nalar, dan memperdalam kebijaksanaan. Tanpa kesalahan, hidup menjadi datar, tanpa dinamika, tanpa pertumbuhan.

 

Mau sehebat apapun, teori dan nasihat hanya memberi peta. Tapi kekeliruan memberi pengalaman nyata. Saat keliru, kita merasakan akibatnya, bukan sekadar memahaminya di kepala. Pelajaran dari kesalahan lebih membekas, karena lahir dari proses mencoba, jatuh, lalu bangkit. Itu sulit digantikan oleh kata-kata orang lain atau bacaan sebuah buku.

 

Takut keliru sering membuat orang berhenti melangkah. Padahal tanpa salah, kita jarang benar-benar belajar atau bertumbuh. Kekeliruan bukan tanda gagal, tapi tanda sedang bergerak, bereksperimen, dan bertanggung jawab atas pilihan sendiri.

 


Sering kali, kedewasaan dan kebijaksanaan justru lahir dari kesalahan yang pernah kita hadapi dengan jujur dan rendah hati. Kesalahan bukan tanda kegagalan, melainkan jejak keberanian. Orang yang tifak pernah salah sering kali bukan karena ia sempurna, tetapi karena ia tidak pernah benar-benar melangkah. Dalam hidup, bergerak selalu membawa risiko, risiko itulah yang menempa pengalaman.

 

Maka jangan takut keliru. Lebih baik jatuh lalu bangkit, daripada diam dan tak pernah mencoba. Sebab mereka yang berani berbuat, meski salah, sesungguhnya sedang membangun dirinya sendiri.

 

Seperti anak-anak TBM Lentera Pustaka pun diajak untuk tidak takut salah. Jangan takut keliru, bukan berarti sembrono, melainkan berani mencoba, mau mengakui salah, dan bersedia memperbaiki diri. Itulah bagian penting literasi, menanamkan karakter baik kepada anak-anak. Salam literasi!

Dana Pensiun Mampu Hilangkan Penderitaan di Hari Tua

Dana pensiun sering disalah-pahami. Seolah-olah cuma urusan orang yang umurnya sudah tua, seolah-olah belum butuh sekarang. Makanya, banyak yang bilang “pensiunnya masih lama”. Terus menolak punya dana pensiun karena merasa masih muda. Kira-kira begitu.  

 

Padahal tidak begitu. Masa pensiun juga bagian dari siklus kehidupan yang akan dialami setiap manusia. Ada masa tumbuh kembang, ada masa pendidikan tuntas, ada masa bekerja, dan ada pula masa berhenti bekerja alias pensiun. Jadi, pensiun tentang fase kehidupan yang akan terjadi dan harus tetap berjalan. Masa pensiun, cepat atau lambat akan datang dan tidak dapat dihindari.

 

Masa pensiun, adalah tentang kesinambungan penghasilan di saat tidak bekerja lagi. Tentang standar hidup di hari tua yang tetap dijaga. Tentang biaya kesehatan yang bisa diatasi bila terjadi sakit di hari tua. Tentang ana yang bisa sekolah tanpa harus berhenti di tengah jalan. Tentang utang yang tetap terbayar bila masih harus mencicil. Dan tentang anak-anak dan keluarga yang tidak harus menanggung biaya hidup kita di masa pensiun.

 

Tanggung jawab yang baik adalah mempersiapkan diri pada setiap fase kehidupan. Seperti anak yang mau kuliah di perguruan tinggi negeri yang bagus pun harus mempersiapkan diri. Begitu pula cinta yang tulus pun tidak sibuk berharap akan hal-hal buruk tidak datang. Sebab cinta yang tulus hanya bisa Bersiap. Bila hal buruk datang, orang-orang yang kita cintai tetap bisa baik-baik saja. Bila masa pensiun tiba, kita tidak bergantung secara finansial kepada anak atau keluarga. Semuanya akan baik-baik saja, sekalipun kita sudah tidak lagi bekerja dan tidak punya gaji lagi.


Hidup tidak akan berhenti hanya karena kita pensiun. Biaya hidup tidak akan stop hanya karena kita tua. Dan anak tidak akan berhenti sekolah hanya karena kita tidak punya gaji lagi setiap bulan. Kebutuhan harian tetap ada, Listrik dan internet harus tetap bayar. Tagihan tetap datang. Rekreasi harus tetap jalan. Hidup di hari tua tetap dapat dinikmati. Bahkan standar hidup harus tetap terjaga. Karenanya di masa pensiun, tanggung jawab kita tetap ada.



Dana pensiun bukan soal urusan gimana nanti, tapi nanti gimana. Dana pensiun bukan soal masih lama atau umur belum tua. Tapi dana pensiun soal keberanian untuk bertanggung jawab akan hari tua. Soal antisipasi jika kita berhenti bekerja, soal Bersiap untuk masa pensiun. Bahkan di saat kita sudah tidak ada pun, tanggung jawab pada keluarga masih tetap berlanjut dan kebutuhan hidupnya tetap tersedia.

 

Bisa jadi, dana pensiun adalah bentuk cinta yang paling dewasa. Bentuk tanggung jawab yang paling didambakan anak-anak dan keluarga. Sebab saat punya gaji, kita masih mampu. Tapi di saat tidak punya gaji lagi dan tidak bekerja, apakah kita siap membiayai anak dan keluarga? Itulah pentingnya dana pensiun bagi pekerja. Selain untuk memastikan kepastian dana di hari tua, dana pensiun juga menjamin keberlanjutan penghasilan di saat kita tidak bekerja lagi.

 

Jadi yang paling pas, dana pensiun adalah untuk menghilangkan kemungkinan penderitaan di hari tua, demi memastikan hidup orang-orang tercinta terus berjalan. Agar tidak merana di masa pensiun, tidak gagal mempertahankan gaya hidup seperti saat masih bekerja. Maka, siapkanlah dana pensiun dari sekarang. Agar hari tua kita tetap nyaman dan sejahtera.

TBM Lentera Pustaka Habiskan Biaya Rp. 61,2 Juta di Tahun 2025

Ada yang bertanya, berapa sih biaya operasional yang dibutuhkan taman bacaan masyarakat (TBM)? Bila mengacu pada Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor, sepanjang tahun 2025 lalu, biaya operasional yang dihabiskan mencapai Rp. 61,2 juta atau setara Rp. 5,1 juta per bulan. Dalam 5 tahun terakhir, rata-rata biaya TBM sekitar Rp. 60 juta per tahun. Adapun serapan biaya TBM terdiri dari: 1) Sarana dan Prasarana TBM 10%, 2) Operasional Rutin (Wifi/listrik/air, dsb) 16%, 3) Program dan Kegiatan Literasi 18%, 4) Honorarium/Insentif 24%, 5) Publikasi & Dokumentasi 10%, 6) Administrasi 4%, 7) Pengadaan Koleksi Bahan Bacaan 0%, 8) Biaya lain-lain 7%, dan 9) Biaya Tak Terduga 13%. Artinya, tiga biaya paling besar yang dikeluarkan TBM Lentera Pustaka tahun 2025 adalah honorarium, program – kegiatan literasi, dan operasional rutin seperti listrik, wifi, dan air.

 

Tentu saja, biaya-biaya tersebut ditanggung dari kas TBM Lentera Pustaka. Artinya, tidak termasuk biaya-biaya yang muncul akibat adanya kegiatan dari perusahaan, lembaga atau komunitas. Bila ada event atas inisiatif pihak luar, maka konsekuensi biaya ditanggung oleh pihak tersebut. TBM Lentera Pustaka hanya menyediakan tempat dan audiens, sesuai dengan tema event atau kegiatan yang mau dijalankan pihak luar tersebut, termasuk biaya pembuatan kaos anak-anak pun dari pihak luar atau donatur.

 

Biaya honorarium diberikan kepada wali baca (bukan relawan) yang memang sehari-hari mengelola dan melayani pengguna layanan. Istilahnya “buka tutup TBM” ada di tangan wali baca. Dan untuk itu, Pendiri TBM Lentera Pustaka memberikan honor kepada wali baca. Tujuannya untuk menjalankan program utama TBM dan menjaga keberlanjutan SDM yang mengurusi TBM. Biaya program dan kegiatan literasi dikeluarkan untuk kegiatan TBM yang membutuhkan biaya seperti event bulanan, bahan praktik atau media pembelajaran termasuk jajan kampung gratis yang sudah jagi tradisi di TBM Lentera Pustaka. Biaya ini untuk menghidupkan aktivitas di TBM (karena TBM harus aktif berkegiatan, bukan hanya tempat baca dan rak buku saja). Biaya operasional rutin menyangkut bayar listrik, air, wi-fi setiap bulan. Tujuannya agar TBM tetap berjalan setiap hari setiap minggunya. Menariknya di TBM Lentera Pusatka tidak ada biaya pengadaan koleksi buku atau bahan bacaan. Karena selama ini menerima donasi buku yang cukup melimpah. Sepanjang tahun 2025 lalu, TBM Lentera Pustaka menerima donasi 4.138 buku dari 19 donatur, dengan valuasi mencapi Rp. 103,2 juta. Saat ini TBM Lentera Pustaka memiliki koleksi lebih dari 12.000 buku.

 

Seian itu, ada pula biaya lain-lain dan biaya tidak terduga. Biaya lain-lain, prinsipnya sudah diperkirakan ada, tapi tidak pas dimasukkan ke pos tertentu seperti air minum tamu, biaya kebersihan, dsb. Sedangkan biaya tidak terduga adalah biaya yang tidak direncanakan sama sekali, muncul karena kondisi di luar rencana, seperti sumbangan untuk lingkungan, peralatan rusak, dsb.

 


Lalu dari mana uang untuk menutupi biaya operasional TBM? Alhamdulillah, biaya itu semua diperoleh dari sponsor CSR di TBM Lentera Pustaka sepanjang tahun 2025, yaitu Bank Sinarmas, AAI Perancis, dan Kopi Lentera. Bila masing-masing Rp. 20-25 juta, maka kebutuhan biaya bisa tercukupi. Prinsip di TBM Lentera Pustaka, biaya apapun tidak boleh keluar dari “kantong” pengelola atau relawan. Harus cari sponsor atau penyandang dana, pengelola atau relawan cukup eksekusi program dan kegiatan literasi di taman bacaan. Agar benar-benar TBM menjadi jalan pengabdian sosial, tanpa perlu keluarkan “uang sendiri”. Sudah sosial ditambah mengeluarkan uang sendiri, bisa-bisa kapok atau mundur perlahan mengabdi di taman bacaan

 

Alhamdulillah lagi di tahun 2026 ini pun TBM Lentera Pustaka didukung oleh CSR korporasi dari Bank sinarmas, Chubb Life Insurance, dan AAI Perancis. Sehingga seluruh biaya operasional dan program sudah tercukupi. TBM Lentera Pustaka tinggal menjalankan aktivitasnya secara konsisten, sesuai jadwal dan program yang dicanangkan.

 

Sekalipun taman bacaan bersifat sosial, pasti ada biaya yang harus dikeluarkan. Sebab biaya adalah keniscayaan di taman bacaan. Harus ada dan sangat diperlukan dalam menjalankan aktivitas dan program literasi. Tentu, besaran biaya setiap TBM berbeda-beda, sesuai dengan jumlah pengguna layanan dan program yang dijalankan. Secara umum, bila TBM sederhana setidaknya butuh anggaran sekitar 5–15 juta/tahun, sedangkan TBM yang aktif dan programatik mencapai 20–50 juta/tahun.

 

Dan tidak kalah penting, pengelola TBM juga harus bisa dan pandai mengelola uang. Untuk keberlanjutan aktivitas taman bacaan ke depannya. Salam literasi!



Minggu, 25 Januari 2026

Nasihat Literasi: Jangan Membuat Orang Lain Terlihat Buruk Agar Kamu Terlihat Baik

Zaman begini, kata-kata sering dijadikan senjata yang tidak terlihat. Bergosip atau membuka aib orang demi terlihat unggul mungkin tampak kecil. Tapi dampaknya panjang dan sangat esensial. Reputasi orang lain bisa hancur dalam sekejap, sementara hati kita perlahan menjadi tumpul terhadap empati. Orang yang kuat tidak perlu membuktikan diri dengan melukai, ia memilih menjaga martabat, termasuk martabat orang yang tidak hadir untuk membela diri.

 

Di dunia yang gemar membandingkan dan menaikkan diri sering terasa lebih mudah dengan cara merendahkan orang lain. Sorotan, pujian, dan pengakuan kadang membuat hati lupa bahwa nilai diri tidak pernah lahir dari jatuhnya sesama. Nafsu yang mendorong kita untuk menang dengan cara apa pun boleh saja ada. Tapi semesta hakikatnya akan menuntun kita untuk bertumbuh tanpa mengorbankan siapa pun.

 

Pilihannya hanya ada dua: memilih jalan cepat yang melukai, atau jalan benar yang membangun. Sejatinya, harga diri tidak lahir dari perbandingan. Saat kita merasa perlu menjatuhkan orang lain, sering kali itu tanda bahwa kita belum berdamai dengan diri sendiri. Membandingkan hanya menumbuhkan cemas dan iri, bukan damai. Nilai diri yang sehat justru lahir dari penerimaan. Bahwa setiap orang punya lintasan hidup yang berbeda, dan kita tidak perlu “lebih” dari orang lain untuk menjadi “cukup” di hadapan sang pencipta.

 

Dalam hidup, kita disuruh untuk menang bersama, bukan sendiri. Di dunia kerja, sosial, atau pergaulan, sejatinya kemajuan terjadi ketika kita saling menguatkan. Mengangkat orang lain bukan menjatuhkan, meninggikan sesama bukan merendahkan, dan menjaga kebaikan bukan keburukan. Saat kita ikut bersukacita atas keberhasilan orang lain, hati kita pasti dibebaskan dari persaingan yang melelahkan dan diganti dengan sukacita yang menenangkan.

 

Ketahuilah, keunggulan yang dibangun di atas luka orang lain tidak pernah kokoh. Prestasi yang diraih dengan menjatuhkan sesama ibarat “rumah di atas pasir”. Mungkin berdiri sesaat, tetapi mudah runtuh ketika kebenaran datang. Semesta hanya memuliakan proses yang jujur, kerja keras, ketekunan, dan kerendahan hati. Bukan taktik dan strategi yang mengorbankan orang lain demi tepuk tangan singkat.

 


Memang dunia sering berkata, “Tampil dulu, urusan benar belakangan.” Tapi semesta menyuruh, “Benar dulu, kemuliaan akan menyusul.” Karakter tidak dibangun di panggung, melainkan dalam keputusan sunyi: memilih jujur saat bisa curang, memilih menghormati saat bisa meremehkan, memilih membangun saat bisa menjatuhkan. Maka, jangan membuat orang lain terlihat buruk agar kamu terlihat baik.

 

Kita sering lupa, kerendahan hati itu membuka pintu yang tidak bisa dibuka oleh kesombongan. Orang yang rendah hati mau belajar, mau dikoreksi, dan mau mengakui keterbatasan. Sikap ini mengundang kepercayaan, tapi juga dapat memperluas relasi dan membuat orang lain senang bersama-sama. Sebaliknya, kesombongan akan menutup telinga dan mempersempit langkah, karena merasa sudah “paling benar”. Ketahuilah, semesta yang meninggikan pada waktu-Nya yang tepat. Kita tidak perlu mempromosikan diri dengan cara yang melukai orang lain. Biar bagaimana pun, semesta melihat kerja yang tersembunyi, kesetiaan yang tidak dipuji, dan niat yang tulus. Selalu berbuat baik dan menebar manfaat untuk sesama. Ketika waktunya tiba, semesta sendiri yang membuka jalan dan meninggikan kita, dengan damai, tanpa drama, tanpa harus menjatuhkan siapa pun.

 

Di zaman begini, memilih untuk tidak membuat orang lain terlihat buruk adalah keputusan yang melawan arus. Tapi sesuangguhnya, itulah jalan yang memulihkan hati. Kita tidak dipanggil untuk bersinar di atas reruntuhan sesama, melainkan menjadi terang yang menuntun banyak orang untuk bangkit. Biarlah hidup kita dikenal bukan karena siapa yang kita jatuhkan, tetapi karena siapa yang kita kuatkan.

 

Sebab sadar, untuk tidak membuat orang lain terlihat buruk agar kita terlihat baik. Membacalah bersama-sama, bukan membaca sendiri untuk menyebut orang lain bodoh. Salam literasi!