Tampilkan postingan dengan label Lotang Yunus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lotang Yunus. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Juni 2021

Literasi Ayah, Kenapa Rela Lapar Demi Anak-anaknya? (In Memoriam A. Lotang Yunus)

Sosok ayah, sering kali jadi figur sentral dalam keluarga. Ayah juga yang jadi panutan anak-anaknya. Siapa pun saat Bersama ayahnya, pasti punya kenangan. Apalagi di masa kecil. Karena ayah selalu jadi orang pertama yang melindungi anak-anaknya. Biasanya ayah, tidak banyak bicara. Tapi setiap tetes keringatnya dan perjuangan keras hidupnya selalu didedikasikan untuk anak-anaknya.

 

Siapa pun, sejatinya pasti punya cerita dan kenangan tentang figur ayah. Tentang sosok yang berani bertarung dalam hidup untuk anak-anaknya. Kekuatan cinta seorang ayah. Seperti juga Almarhum Ambo Lotang Yunus bin Koto, ayah saya yang meningga dunia pada Selasa, 8 Juni 2021 lalu. Saya pun menyebutnya “sang prajurit teladan”. Ia mengehmbuskan nafas terakhir diusia 76 tahun, dalam keadaan tidur di kursi tamu. Tenang dan tiada merepotkan. Kini, ia dimakamkan satu liang lahat dengan istrinya, almarhumah Ibu Tati Raenawaty binti Raenan di TPU Munjul.

 

In Memoriam ke-6, almarhum A. Lotang Yunus ini pun saya tuliskan. Seorang pensiunan tantara berpangkat Peltu dan kelahiran Bengo Maros. Figur ayah yang patutu diteladani. Karena dalam dirinya, ada banyak pelajaran yang bisa diambil hikmahnya. Untuk kehidupan anak-anak dan cucu-cucunya ke depan. Agar menjadi manusia yang lebih baik, lebih bertakwa kepada Allah SWT.

 

Sebagai tantara yang pangkatnya tidak tinggi, Ambo Lotang Yunus boleh disebut sosok ayah yang rela “perutnya lapar” asal anak-anaknya bisa makan. Maka ia “terpaksa” menambah waktu untuk tetap bekerja sepulang jadi tantara. Sebagai tenaga security di perusahaan swasta di daerah Jl. Juanda. Saya masih ingat, bagaimana ia mencarikan makan malam saya saat ikut menemaninya berjaga. Padahal malam itu, bukan hari gajian. Uang di kantong pun hanya seadanya. Ia rela lapar asal anaknya bisa makan.

 

Cerita sedih lainnya pun terjadi. Saat ia tetap berjaga di rumah Jl. Prapatan dalam keadaan tidak punya uang sama sekali. Hingga ibu saya, menjual beras ke warung dan menyuruh adik perempuan saya untuk mengantar uang hasil jual beras itu ke Bapak Ambo Lotang Yunus. Agar beliau bisa makan. Ini hanya bukti, betapa sang prajurit teladan itu rela perutnya kosong asal anak-anaknya bisa makan. Bukti bahwa sosok ayah pasti akan berbuat apa saja demi anak-anaknya.

 

Dulu pada masanya. Bapak Ambo Lotang Yunus, rela bertahun-tahun jadi Danru petugas PRJ saat di Monas dan berjaga setiap malam hanya untuk menghidupi keluarganya. Pulang larut malam pukul 01.00 WIB sambil membawakan se-dus donat. Bahkan ia rela menjadi koordinator keamanan kawasan Jl. Salemba Raya. Mengontrol lingkungan setiap malam, berkelililing dan entah apa yang diperolehnya? Sekali lagi, Bapak Ambo Lotang Yunus rela perutnya kosong demi anak-anaknya.

 


Cukupkah perjuangannya samai di situ?

Ternyata tidak. Sejak pensiun dari tantara tahun 2021. Cobaan pun datang saat istrinya Tati Raenawaty sakit akibat serangan stroke. Ibu saya lumpuh setelah badan. Dan sejak itu, Bapak Ambo Lotang Yunus yang merawatnya walau anak-anaknya ikut membantu silih berganti. Dan patut diacungi jempol, dia pula yang akhirnya merawat sang istri selama 20 tahun hingga menghembuskan nafas terakhir di 1 Juni 2017. Sosok suami yang begitu setia merawat dan menemani istrinya yang sakit selama 20 tahun. Meenyuapi, memandikan, menggantikan pakaian, bahkan mencebokinya. Bapak Ambo Lotang Yunus, rela berkorban apapun untuk istri dan anak-anaknya. Sekalipun di masa pensiunnya.

 

Hingga akhirnya suatu siang, Bapak Ambo Lotang Yunus yang rela perutnya kosong demi anak-anaknya pun mengeluh dadanya sakit. Dan terlihat lemas. Agak sulit berjalan. Tapi saat diajak ke rumah sakit, dia menjawab, “Tidak usah, Nak”. Hanya bisa terduduk di dalam kamarnya. Sesekali berjalan di sekitar rumah dengan lemah. Tidak lagi bisa berkeliling dengan motor kesayangannya walau hanya mencari sarapan. Dan akhirnya di suatu sore Selasa 8 Juni 2021 pukul 15.16 WIB, sang prajurit teladan pun menghembuskan nafas terakhir menyusul sang istri. Innnalilalhi wainna ilaihi rojiun. Insya Allah, beliau husnul khotimah.

 

Lalu, apa artinya tulisan ini?

Sungguh, selama ini banyak anak-anak yang tidak paham betapa besar pengorbanan dan cinta seorang ayah. Kasih sayang pun bukan hanya milik Ibu. Tapi ayah pun punya kekuatan tersendiri untuk menyatakan cinta kepada anak-anaknya. Tanpa kata-kata, hanya dengan perbuatan dan perjuangan dalam hidupnya. Maka kini saatnya, wujudkanlah cinta dan kasih sayang kepada ayah dan ibu, selagi masih ada waktu.

 

Hikmahnya, cintai ayah kita, sayangi orang tua kita. Selagi mereka masih ada di samping kita. Karena mereka sudah buktikan cinta dan kasih sayangnya melalui perbuatan, melalui pengorbanan yang besar untuk anak-anaknya. Tanpa kata-kata, tanpa pamrih.

 

Agar esok, tidak ada lagi anak-anak yang lupa bertanya kepada sosok ayah. Atau skeadar bercengkrama dengan ibu. Karena seberapa hebat anak-anak hari ini, hanya dibutuhkan perhatian kepada orang tuanya. Dan orang tua itu bukan handphone, bukan gawai. #InMemoriamLotangYunus #AmboLotangYunus #PensiunanTentara #SangPrajuritTeladan #SelamatJalanPakLotang





Minggu, 13 Juni 2021

Literasi Ayah, In Memoriam ke-4 Bapak Lotang Yunus

Memang benar dan sulit dibantah. Cinta, mampu menggerakkan segalanya. Karena cinta seseorang mau melakukan apapun tanpa diminta. Kekuatan cinta, bukan hanya bisa membuat seorang laki-laki menangis. Tapi lebih dari itu, cinta pun bisa menjadikan laki-laki bekerja keras dan berjuang sepenuh hati untuk perempuan yang dicintainya. Itu pula yang nyata terjadi pada seorang suami di KPAD Cibubur, Ambo Lotang Yunus (ALY) kepada Tati Raenawaty, istrinya.

 

ALY-lah sejak tahun 1997, saat istrinya mengalami sakit stroke praktis dia yang merawatnya. Dari mulai mengantar terapi jalan, menyuapi makan, hingga mendorong krusi roda. Di usia pernikahannya ke-28, ALY harus menghadapi kenyataan. Merawat dan menemani sehari-hari istrinya. Tahun demi tahun, kondisi istrinya tidak kunjung membaik. Bahkan di tahun 2012, praktis sang istri hanya bisa terbaring di tempat tidur. Sebagai suami, ALY pun kian tegar untuk terus merawat dan mengabdi kepada sang istri. Mulai dari menyuapi makan, memandikan bahkan menceboki. Walau sering kali pula ke-4 anak-anaknya datang silih berganti untuk membantu merawat sang ibunda. Apa mau dikata? Pada 1 Juni 2017, ALY pun mendapati istrinya menghembuskan nafas terakhir di dekatnya. Tidak ada raut muka penyesalan di wajah ALY. Karena dialah yang merawat istrinya selama 20 tahun dalam sakitnya. Sebuah bukti cinta sejati seorang suami kepada istrinya. ALY, di mata saya, adalah sosok lelaki sejati yang paripurna. Sang prajurit teladan yang tidak ada tandingannya. Tidak mau nikah lagi dan justru dihabiskan waktu masa pensiunnya untuk merawat sang istri.

 

Pak Lotang, begitu panggilan ALY sehari-hari. Selama 48 tahun mengarungi pernikahan dengan 4 anak (Syarif, Leha, Udin, Andri). Sepeninggal istrinya di tahun 2017, ALY mengisi hari-harinya dengan kesibukan sebagai pensiunan tantara. Berkeliling komplek cari sarapan, bermain catur dengan kawan, atau menata apa saja yang ada di rumahnya. Di sela waktu tertentu pun, dia rutin ziarah ke makam istrinya di TPU Munjul. Menariknya, setiap kali ziarah. ALY selalumembawa air mineral dari rumah lalu diusapkan air itu batu nisan sang istri. Sambil memotong rumput yang meninggi serta menabur kembang yang dibawa dari rumah.

 

Begitulah cinta, memang sulit diterka. Siapa sangka, pada 8 Juni 2021, Ambo Lotrang Yunus sang suami setia pun meninggal dunia. Di kursi ruang tamu saat tertidur. Mengembuskan nafas terakhir dnegan mudah dan tanpa merepotkan orang lain. IUnnalillahi wainna ilaihi rojiun. Telah berpulang ke rahmatullah Bapak A. Lotang Yunus di usainya ke-76. ALY, kemarin mengusap batu nisan istrinya. Kini dia menemani di dalamnya satu liang lahat.




 

Suatu kali di tahun 2010 saat ibunda terbaring sakit, saya pernah berkata kepada Bapak ALY. Untuk dipersilakan menikah lagi, karena ibu saya terbaring sakit. Hal ini  sebagai sikap pengertian anak kepada Bapaknya. Apalagi kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit. Rutinitas ini terus dilakukannya selama 20 tahun dengan sabar merawat istrinya. Tetapi apa kata Bapak ALY kala itu. “Tidak Nak, saya tidak akan menikah lagi. Karena tidak seberapa perjuangan saya bila dibandingkan perjuangan Ibu kamu yang telah mendidikan dan membesarkan ke-4 anak-anak saya, termasuk kamu. Maka saya akan rawat dan mengabdi untuk ibu kamu”. Maka saya pun tertegun dan bersyukur. Betapa hebat sosok Bapak ALY. Setia dan begitu cinta kepada istrinya, yang notabene ibu saya.

 

Belajar dari sosok Bapak ALY. Ada pesan moral. Bahwa suami, di manapun, rela melakukan apa saja demi istrinya. Karena istri adalah separuh nyawa hidup seorang suami. Merawat istri 20 tahun di masa sakitnya, tetap berjuang agar istrinya sembuh, berjuang sekuat tenaga adalah ungkapan betapa cintanya ALY kepada sang istri. Sebuah kisah kesetiaan dan perjuangan suami yang langka. Sangat sulit dilakukan di zaman gitial seperti sekarang.

 

Kini Bapak ALY telah tiada. Menyusul sang istri dan dimakamkan satu liang lahat dengan sang istri. Kemarin dia mengusap batu nisan istrinya. Kini dia menemani di dalamnya. Bapak A. Lotang Yunus telah “pergi” untuk selamanya di usia 76 tahun. Sang prajurit teladan asal Bengo Maros Sulsel. Bapak yang punya segudang teladan untuk anak-anaknya. Kakek yang bersahaja dan berkesan di mata cucu-cucunya.

 

Inilah In Memoriam ke-4, almarhum A. Lotang Yunus. Agar menjadi hikmah bagi semua laki-laki. Untuk selalu berbuat yang terbaik untuk istrinya, hingga batas umur yang memisahkannya. Teriring doa untuk amarhum Bapak Ambo Lotang Yunus. Semoga diterima amal ibadahnya, diampuni dosa dan salahnya. Serta mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT, amiin. Selamat Jalan Bapak, insya Allah batu nisan Bapak dan Ibu akan kami tuliskan di pusara kubur. Sebagai pengantar doa untuk Bapak dan Ibu. Peluk cium dari anakmu …

#InMemoriamLotangYunus #AmboLotangYunus #PensiunanTentara #SangPrajuritTeladan #SelamatJalanPakLotang