Kamis, 09 Juli 2026

Mengejar Validasi, Seperti Utang yang Tidak Perlu Dibayar

Pernah perhatikan nggak, kita sering melihat Bapak-bapak sepulang kerja di angkutan umum duduk bersandar sambil pejamkan mata? Ada juga Bapak-bapak lagi ngopi di warung tapi tatapan matanya kosong? Bahkan ada Bapak-bapak yang bawa mobil sesampainya di garasi rumah, tapi memilih duduk diam di dalam mobil 5-10 menit. Lelah banget kayaknya Bapak-bapak itu?

 

Banyak orang mengira kondisi Bapak-bapak yang begitu untuk menenangkan diri setelah kerja seharian. Atau butuh waktu 'me time'. Ternyata, perilaku bapak-bapak begitu bukan cuma lelah fisik biasa. Tapi tentang apa yang diharapkan akan didapat dari dunia luar namun nggak pernah bisa terpenuhi.  

 

Sejak kecil, banyak dari Bapak-bapak itu tumbuh tanpa pernah mendengar satu kalimat sederhana dari figur ayah mereka: "Aku bangga sama kamu." Kalimat yang bisa jadi motivasi dan fondasi identitas diri. Bayangkan, sudah puluhan tahun mereka bekerja, menafkahi keluarga bahkan berjuang sekuat tenaga. Tanpa ada pengakuan dari mana pun.

 

Mengejar pengakuan, berharap validasi. Cerita Bapak-bapak itu hanya analogi. Seperti kita yang pernah merasa semua pencapaian kita terasa hampa, seolah-olah ada yang kurang? Karena di otak kita itu ada mesin pencari validasi. Kalau validasi penting dari orang terdekat (seperri ayah) tidak didapat, maka kita akan otomatis mencari dari orang lain. Makanya, banyak orang berharap validasi dari bos di kantor atau dari klien. Ada juga mengejar pengakuan dari organisasi. Minimal dapat jumlah 'like' di media sosial. Begitulah adanya.

 

Kita bekerja keras bertahun-tahun, bukan cuma buat uang atau status. Tapi juga untuk mengumpulkan 'pujian' yang nggak pernah terucap itu. Dan tanpa sadar, kita sedang berusaha mengisi “ember bocor” dengan air dari keran yang salah. Mengejar sesuatu yang tidak ada maknanya. Validasi kosong.

 

Itulah yang disebut psikolog sebagai external locus of control. Gejala seseorang mencari validasi terus-menerus dari luar dirinya. Kita terlalu percaya bahwa hasil dan kebahagiaan itu ditentukan oleh faktor di luar kendali kita. Seperti pujian dari atasan atau orang lain. Pengen dibilang hebat oleh orang lain. Ironisnya, semakin kita kejar, makin cepat rasa puas itu hilang. Mirip lari mengejar bayangan sendiri di siang bolong. Seperti fatamorgana.  

 


Apa yang terjadi kemudian? Rasa takut nggak diakui atau berharap validasi akhirnya membungkus diri jadi 'logika'. Otaknya menyuruh untuk kerja lebih keras dan lebih sukses, biar dapat validasi. Hingga kita lupa bertanya pada diri sendiri. Apa yang kita lakukan sekarang sebenarnya untuk apa? Untuk mendapat validasi orang lain atau untuk aktualisasi dri?

 

Kita sering gampang marah saat dikritik hal-hal kecil. Karena di bawah sadar kita, kritik sekecil apapun terasa seperti ancaman ke identitas kita. Dan di titik itulah, sejatinya kita bukan lagi mengejar kebahagiaan. Tapi cuma menghindari rasa kalah yang selama ini kita pendam sendiri.  Dan akhirnya, kita sering merasa gagal. Padahal, kita hanya sedang mencoba melunasi utang emosional masa lalu yang sebenarnya tidak perlu kita bayar.  

 

Maka sadarilah, pengakuan yang paling kita butuhkan justru ada di dalam diri kita sendiri. Bukan di dompet, bukan di mobil. Apalagi di ucapan orang lain. Logika atau otak kita terkadang sering “salah jalan” tapi kita sering membiarkannya. Persis seperti ponsel atau sepatu yang sedang kita pakai sekarang, sudah berapa lama kita biarkan rusak tapi nggak diganti? Jadi, nggak usah mengejar validasi tapi teruslah memperbaiki diri!

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar