Pernah perhatikan nggak, kita sering melihat Bapak-bapak sepulang kerja di angkutan umum duduk bersandar sambil pejamkan mata? Ada juga Bapak-bapak lagi ngopi di warung tapi tatapan matanya kosong? Bahkan ada Bapak-bapak yang bawa mobil sesampainya di garasi rumah, tapi memilih duduk diam di dalam mobil 5-10 menit. Lelah banget kayaknya Bapak-bapak itu?
Banyak orang mengira kondisi
Bapak-bapak yang begitu untuk menenangkan diri setelah kerja seharian. Atau
butuh waktu 'me time'. Ternyata, perilaku bapak-bapak begitu bukan cuma lelah
fisik biasa. Tapi tentang apa yang diharapkan akan didapat dari dunia luar
namun nggak pernah bisa terpenuhi.
Sejak kecil, banyak dari Bapak-bapak
itu tumbuh tanpa pernah mendengar satu kalimat sederhana dari figur ayah
mereka: "Aku bangga sama kamu." Kalimat yang bisa jadi motivasi dan fondasi
identitas diri. Bayangkan, sudah puluhan tahun mereka bekerja, menafkahi
keluarga bahkan berjuang sekuat tenaga. Tanpa ada pengakuan dari mana pun.
Mengejar pengakuan, berharap
validasi. Cerita Bapak-bapak itu hanya analogi. Seperti kita yang pernah merasa
semua pencapaian kita terasa hampa, seolah-olah ada yang kurang? Karena di
otak kita itu ada mesin pencari validasi. Kalau validasi penting dari orang
terdekat (seperri ayah) tidak didapat, maka kita akan otomatis mencari dari
orang lain. Makanya, banyak orang berharap validasi dari bos di kantor atau dari
klien. Ada juga mengejar pengakuan dari organisasi. Minimal dapat jumlah 'like'
di media sosial. Begitulah adanya.
Kita bekerja keras
bertahun-tahun, bukan cuma buat uang atau status. Tapi juga untuk mengumpulkan
'pujian' yang nggak pernah terucap itu. Dan tanpa sadar, kita sedang berusaha
mengisi “ember bocor” dengan air dari keran yang salah. Mengejar sesuatu
yang tidak ada maknanya. Validasi kosong.
Itulah yang disebut psikolog sebagai
external locus of control. Gejala seseorang mencari validasi terus-menerus dari
luar dirinya. Kita terlalu percaya bahwa hasil dan kebahagiaan itu ditentukan
oleh faktor di luar kendali kita. Seperti pujian dari atasan atau orang lain.
Pengen dibilang hebat oleh orang lain. Ironisnya, semakin kita kejar, makin
cepat rasa puas itu hilang. Mirip lari mengejar bayangan sendiri di siang
bolong. Seperti fatamorgana.
Apa yang terjadi kemudian? Rasa
takut nggak diakui atau berharap validasi akhirnya membungkus diri jadi
'logika'. Otaknya menyuruh untuk kerja lebih keras dan lebih sukses, biar dapat
validasi. Hingga kita lupa bertanya pada diri sendiri. Apa yang kita lakukan sekarang
sebenarnya untuk apa? Untuk mendapat validasi orang lain atau untuk aktualisasi
dri?
Kita sering gampang marah
saat dikritik hal-hal kecil. Karena di bawah sadar kita, kritik sekecil apapun
terasa seperti ancaman ke identitas kita. Dan di titik itulah, sejatinya kita bukan
lagi mengejar kebahagiaan. Tapi cuma menghindari rasa kalah yang selama ini kita
pendam sendiri. Dan akhirnya, kita sering merasa gagal. Padahal,
kita hanya sedang mencoba melunasi utang emosional masa lalu yang sebenarnya
tidak perlu kita bayar.
Maka sadarilah, pengakuan
yang paling kita butuhkan justru ada di dalam diri kita sendiri. Bukan di
dompet, bukan di mobil. Apalagi di ucapan orang lain. Logika atau otak kita
terkadang sering “salah jalan” tapi kita sering membiarkannya. Persis seperti ponsel
atau sepatu yang sedang kita pakai sekarang, sudah berapa lama kita biarkan
rusak tapi nggak diganti? Jadi, nggak usah mengejar validasi tapi teruslah
memperbaiki diri!
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar