Di sebuah siang, seorang lelaki bersandal jepit sedang
terduduk menata jalan yang luas. Tanpa ditemani secangkir kopi hangat,
pikirannya melayang jauh ke masa depan. Ia bukan orang kaya, bukan pula pemilik
jabatan tinggi. Hanya seorang karyawan biasa. Namun di usianya yang mulai
menua, ia mulai bertanya pada dirinya sendiri, "Bagaimana hidupku saat
pensiun nanti?" Pertanyaan itu terus berputar di benaknya, mengiringi
setiap langkah kaki dan pikiran yang menghantuinya.
Selama puluhan tahun ia bekerja keras untuk memenuhi
kebutuhan keluarga. Gaji yang diterimanya sering kali habis untuk biaya sekolah
anak, kebutuhan rumah tangga, dan berbagai keperluan mendadak. Ia sadar bahwa
selama ini hampir seluruh energinya digunakan untuk bertahan hari ini,
sementara hari tua sering kali hanya menjadi rencana yang ditunda. Kini, ketika
rambutnya mulai memutih, ia menyadari bahwa pensiun bukan sekadar berhenti
bekerja, melainkan fase kehidupan yang juga membutuhkan persiapan. Entah bagaimana
dirinya di masa pensiun?
Sambil terus menatap jalanan, lelaki bersandal jepit
itu mulai menghitung-hitung kemungkinan. Ia membayangkan biaya hidup yang tetap
harus berjalan meski gaji bulanan sudah tidak ada. Ia pun bertekad mulai
menyisihkan sebagian penghasilannya, sekecil apa pun nilainya. Baginya, dana
pensiun bukan hanya soal angka, tetapi tentang menjaga martabat agar tetap
mandiri secara finansial dan tidak menjadi beban bagi anak-anaknya kelak.
Hingga sore hari, akhirnya ia pulang dengan langkah
yang lebih ringan. Sandal jepit yang dipakainya mungkin tampak biasa, tetapi
pikirannya telah melangkah jauh ke depan. Ia memahami bahwa masa pensiun yang
nyaman tidak ditentukan oleh seberapa mahal sepatu yang dikenakan hari ini,
melainkan oleh keputusan-keputusan bijak yang dibuat sejak sekarang. Dan sejak
hari itu, lelaki bersandal jepit tersebut percaya bahwa setiap orang,
sesederhana apa pun kehidupannya, berhak memiliki hari tua yang tenang dan
sejahtera.
Setibanya di rumah, lekaki bersandal jepit pun mencari cara untuk bisa
punya dana pensiun atau DPLK. Ingin mendaftar dan menjadi peserta DPLK secara
online. agar lebih transparan dan layanannya cepat hingga bisa memantau dananya
sendiri secara riil time. Dan lelaki bersandal jepit pun mendapati aplikasi
“SimPensiun”, sebuah platform digital untuk DPLK dari DPLK Sinarmas Asset
Management (DPLK SAM). Dengan iuran Rp 50.000 per bulan, kini lelaki bersandal
jepit sudah menjadi peserta DPLK. Untuk hari tua yang lebih baik, lebih mandiri
secara finansial.
Dan kini lelaki bersandal jepit sudah punya dana
pensiun. Tidak besar iurannya tapi sudah memulainya untuk mempersiapkan masa
pensiunnya sendiri. Agar kerja yes pensiun oke...
.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar