Orang yang cukup tidak sibuk berebut. Orang yang berilmu tidak sibuk berdebat. Dan orang yang mulia tidak sibuk mencaci. Begitulah ungkapan yang patut jadi renungan literasi.
Ungkapan itu mengajarkan kedewasaan
seseorang terlihat dari cara ia mengelola energi, pikiran, dan waktunya. Orang
yang merasa cukup tidak terus-menerus sibuk berebut pengakuan, jabatan, atau
harta, karena ia memahami bahwa hidup bukan sekadar perlombaan untuk menang
dari orang lain. Rasa cukup melahirkan ketenangan batin. Dalam kehidupan
sehari-hari, orang seperti ini cenderung lebih fokus pada pengembangan diri
dibanding membandingkan hidupnya dengan orang lain.
Orang yang berilmu juga tidak
gemar berdebat tanpa tujuan. Semakin luas wawasan seseorang, biasanya semakin
ia sadar bahwa pengetahuan manusia memiliki batas. Ia tidak merasa perlu
memenangkan semua perdebatan demi terlihat pintar. Sebaliknya, ia lebih suka
berdiskusi untuk saling memahami. Kebiasaan membaca buku banyak membentuk sikap
ini, karena buku mempertemukan seseorang dengan berbagai sudut pandang,
pengalaman, dan pemikiran yang membuatnya lebih rendah hati dalam menyikapi
perbedaan.
Dan begitu pula, orang yang
mulia tidak sibuk mencaci karena ia memahami bahwa ucapan mencerminkan kualitas
diri. Mencela orang lain sering kali lahir dari hati yang penuh kemarahan, iri,
atau kekosongan. Orang yang berkarakter baik akan lebih memilih memberi manfaat
daripada menyakiti. Membaca buku, terutama buku-buku tentang kehidupan,
sejarah, dan kebijaksanaan, dapat membantu seseorang melatih empati dan
memahami perjuangan manusia lain. Dari sana lahir sikap yang lebih bijak dalam
berbicara maupun bertindak.
Pada akhirnya, kebiasaan membaca buku bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi
juga membentuk kepribadian. Buku melatih seseorang untuk berpikir lebih dalam,
mendengar lebih banyak, dan berbicara lebih seperlunya. Orang yang rajin
membaca biasanya tidak mudah terpancing untuk berebut, berdebat tanpa arah,
atau mencaci, karena pikirannya dipenuhi pemahaman dan refleksi. Semakin banyak
seseorang belajar, semakin ia sadar bahwa hidup bukan tentang menjadi paling
keras suaranya, melainkan tentang menjadi paling matang sikapnya. Tradisi membaca
buku itulah yang terus dikembangkan di TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak
Bogor. #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan #PegiatLiterasi
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar