Selasa, 19 Mei 2026

Orang yang Cukup Tidak Sibuk Berebut, Lebih Baik Baca

Orang yang cukup tidak sibuk berebut. Orang yang berilmu tidak sibuk berdebat. Dan orang yang mulia tidak sibuk mencaci. Begitulah ungkapan yang patut jadi renungan literasi.

 

Ungkapan itu mengajarkan kedewasaan seseorang terlihat dari cara ia mengelola energi, pikiran, dan waktunya. Orang yang merasa cukup tidak terus-menerus sibuk berebut pengakuan, jabatan, atau harta, karena ia memahami bahwa hidup bukan sekadar perlombaan untuk menang dari orang lain. Rasa cukup melahirkan ketenangan batin. Dalam kehidupan sehari-hari, orang seperti ini cenderung lebih fokus pada pengembangan diri dibanding membandingkan hidupnya dengan orang lain.

 

Orang yang berilmu juga tidak gemar berdebat tanpa tujuan. Semakin luas wawasan seseorang, biasanya semakin ia sadar bahwa pengetahuan manusia memiliki batas. Ia tidak merasa perlu memenangkan semua perdebatan demi terlihat pintar. Sebaliknya, ia lebih suka berdiskusi untuk saling memahami. Kebiasaan membaca buku banyak membentuk sikap ini, karena buku mempertemukan seseorang dengan berbagai sudut pandang, pengalaman, dan pemikiran yang membuatnya lebih rendah hati dalam menyikapi perbedaan.

 


Dan begitu pula, orang yang mulia tidak sibuk mencaci karena ia memahami bahwa ucapan mencerminkan kualitas diri. Mencela orang lain sering kali lahir dari hati yang penuh kemarahan, iri, atau kekosongan. Orang yang berkarakter baik akan lebih memilih memberi manfaat daripada menyakiti. Membaca buku, terutama buku-buku tentang kehidupan, sejarah, dan kebijaksanaan, dapat membantu seseorang melatih empati dan memahami perjuangan manusia lain. Dari sana lahir sikap yang lebih bijak dalam berbicara maupun bertindak.

 


Pada akhirnya, kebiasaan membaca buku bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membentuk kepribadian. Buku melatih seseorang untuk berpikir lebih dalam, mendengar lebih banyak, dan berbicara lebih seperlunya. Orang yang rajin membaca biasanya tidak mudah terpancing untuk berebut, berdebat tanpa arah, atau mencaci, karena pikirannya dipenuhi pemahaman dan refleksi. Semakin banyak seseorang belajar, semakin ia sadar bahwa hidup bukan tentang menjadi paling keras suaranya, melainkan tentang menjadi paling matang sikapnya. Tradisi membaca buku itulah yang terus dikembangkan di TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan #PegiatLiterasi

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar