Seorang pensiunan cerita. Bangun jam 10 pagi, melihat rumah sudah sepi. Tidak ada yang dikerjakan lagi. Yang dirasakan bukan "asyik libur" tapi hatinya merasa gelisah. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba dipikirkan. Padahal, si pensiunan nggak lagi melakukan kesalahan fatal. Kan sudah pensiun, yaw ajar saja bangun siang dan tidak ada kerjaan lagi sehari-hari.
Banyak orang yang bilang,
musuh terbesar seorang pensiunan adalah nggak punya uang. Salah. Uang itu
masalah teknis. Masalah mentalnya jauh lebih horor dari soal uang. Bila mau jujur,
pensiunan merasa gelisah bukan bukan status "tidak bekerja" di KTP. Bukan
pula karena nggak ada kerjaan sehari-hari. Tapi karena merasa “sudah nggak
berguna” lagi, buat banyak orang atau keluarga.
Itulah cara pandang yang
kurang pas tentang pensiunan. Selama ini, lingkungan membentuk kita buat
percaya kalau "bekerja = hidup" dan "pensiun = manusia nggak
berdaya". Kita dipaksa percaya kalau nilai diri seorang manusia itu diukur
dari ID Card yang dikalungin di leher atau slip gaji yang masuk tiap tanggal
25. Dampaknya apa? Begitu kerjaan itu hilang dan pensiun datang, kita merasa
diri kita juga ikutan hilang. Kita merasa jadi rongsokan yang cuma ngabisin
nasi di magic com dan hanya menuh-menuhin space di rumah. Mondar-mandir dari teras
ke dalam rumah, dan sebaliknya.
Sayangny akita sering nggak
sadar. Waktu kita sibuk bekerja, 8 sampai 12 jam sehari penuh. Bahkan berangkat
gelap pulang gelap. Sering banget mengeluh pengen bebas, pengen punya banyak
waktu buat diri sendiri, pengen punya waktu untuk keluarga. Dan pengen belajar
ini itu tapi nggak sempat.
Sekarang di masa pensiun, justru
semesta lagi memberi kita waktu itu secara cuma-cuma. Kita dikasih kemewahan
paling mahal di dunia yang nggak bisa dibeli sama bos perusahaan lama tempat kita
bekerja yaitu “waktu luang”.
Terus kenapa kita saat
pensiun malah gelisah? Karena kita belum siap mental jadi "CEO" buat
hidup kita sendiri. Selama ini kita cuma bisa gerak kalau disuruh bos, dikasih
target sama kantor, atau dikejar deadline. Begitu nggak ada yang nyuruh, kita bingung
mau ngapain? Lalu kita menyimpulkan diri merasa nggak berguna. Nggak bisa lagi
aktualisasi diri.
Pikiran seperti itu adalah jebakan
psikologis yang paling jahat yang kita ciptain sendiri. Pensiun alias berhenti bekerja
karena usia itu bukan akhir dari dunia. Pensiun itu cuma momen di mana kita berhenti
jadi robot orang lain, dan dipaksa buat mulai membangun "kepercayaan
diri" paling penting di dunia.
Makanya, mulai hari ini, stop
memposisikan diri kita sebagai “korban” yang layak dikasihani. Jangan biarkan
isi kepala kita didominasi sama pertanyaan ketakutan kayak, "Besok gue mau
ngapain?". Seolah-olah hari esok dan masa depan kita itu barang ghaib yang
nggak bisa kita kontrol.
Masa depan pensiunan itu bukan
ditebak besok. Tapi ditentukan dari apa yang kitapegang di tangan hari ini
selama 24 jam ke depan. Kita punya kuota internet, punya HP, punya otak yang
masih utuh. Justru waktu luang kita di masa pensiun sekarang jadi modal awal paling
gede yang kita punya. Tinggal kita mau putar modal itu buat belajar
keterampilan baru, memgabdi pada orang lain. Atau kita habiskan buat dengerin
suara-suara di kepala kita yang makin hari makin beracun.
Sebagian pekerja bilang
pensiun itu akhir. Salah banget. Justru masa pensiun itu awal untuk melanjutkan
hidup menjadi lebih berguna untuk banyak orang. Mimpi yang nggak bisa dilakukan
saat masih bekerja, semua bisa diwujudkan saat pensiun. Agar tetap sehat, waras
dan lebih berdaya. Sebab “khoirunnass anfa’uhum linnass”, sebaik-baik manusia
adalah yang paling bermanfaat untuk manusia lainnya.
Mau lebih bermanfaat di masa
pensiun, masa siapkan dana pensiun dari sekarang. Asal punya dana yang cukup
untuk berkiprah dan bermanfaat bagi banyak orang di hari tua.
#YukSiapkanPensiun

Tidak ada komentar:
Posting Komentar