Ini cerita anak muda yang lagi pacaran. Sebulan lalu, di hari Sabtu. Saat pacar gue menelpon dan bilang ada kegiatan badminton sama teman-teman kantor. Ohh, olah raga. Biasa aja dong, nothing suspicious. Tidak ada yang mencurigakan.
Teruss gue nawarin jemput
pake motor. Dia bilang “nggak usah, aku pulang sendiri aja.” Oke deh, ya gue
iya-in dong. Tapi dia bilang habis itu mau ke SM (Semanggi Mall). Lucunya, gue
juga lagi di SM. Jadi gue stay aja di situ, mikirnya nanti pulang bareng kan. Begitulah
rencana simpel dan normal aja buat lelaki yang punya pacar. Nggak ada yang aneh
kan?
Sabtu itu terasa biasa saja.
Langit mendung tipis, seperti ragu untuk hujan atau sekadar lewat. Gue masih
ingat nada suaranya di telepon. ringan, santai, tanpa beban. Katanya ada
badminton bareng teman kantor. Gue percaya, karena memang nggak ada alasan
untuk curiga. Bahkan ketika gue menawarkan untuk menjemput, dia menolak dengan
lembut. “Nggak usah, aku pulang sendiri.” Itu kalimat biasa dan sederhana di
kalangan orang yang lagi pacarana. Tidak berarti apa-apa.
Lalu dia menyebut akan ke Semanggi
Mall setelahnya. Kebetulan yang terasa seperti takdir kecil, gue juga sedang di
sana. Gue nggak bilang ke dia. Gue memilih diam, sambil berpikir akan jadi
kejutan kecil yang manis. Gue nunggu dong di SM, berjalan pelan dari lantai ke
lantai, sesekali mengecek ponsel, membayangkan wajahnya. Saat melihat dia
tiba-tiba muncul. Rencana sederhana seorang lelaki, sama seperyi yang lainnya.
Waktu berjalan lebih lama
dari yang gue kira sih. Satu jam. Dua jam. Pesan gue hanya dibalas singkat,
atau kadang tidak sama sekali. Gue mulai merasa ada yang aneh, tapi gue tepis sendiri.
Nggak boleh mikir macam-macam. Mungkin dia masih di jalan. Mungkin macet.
Mungkin baterainya habis. Gue terus menunggu, duduk di sudut kafe dengan kopi
yang sudah dingin, berharap setiap orang yang lewat adalah dia. Kebayang dong
elo?
Sampai akhirnya gue melihat
dia. Bukan sendirian. Dia berjalan pelan, tertawa kecil, bersama seseorang yang
nggak gue kenal. Atau mungkin nggak pernah gue sadari sebelumnya. Siapa yang
jalan bareng pacar gue itu?
Tapi dari cara jalan mereka bukan
sekadar teman. Dari cara berdiri yang terlalu dekat melebihi sekadar kawan.
Bahakn cara dia menatap orang itu bukan tatapan yang biasa. Dan gue mulia mikis
sih. Lalu, dunia terasa mengecil saat itu juga, seolah semua suara di mall
menghilang, menyisakan hanya detak jantung gue yang tiba-tiba berat. Apaan sih
ini, batin gue.
Gue nggak menghampiri. Nggak
juga memanggil namanya. Gue hanya berdiri di tempat, menyadari bahwa rencana
sederhana itu tidak pernah benar-benar ada untuk gue. Tadinya gue berpikir seolah
nggak sengaja bisa ketemu dia di mall, lalu pulang bareng. Namanya juga rencana
tapi realitas beda.
Ternyata “aku pulang sendiri”
memang bukan sekadar judul novel atau film. Hari Sabtu itu mungkin tetap
terlihat biasa bagi orang lain, tapi nggak buat gue. Itu adalah hari ketika
sesuatu yang gue kira pasti… diam-diam sudah pergi tanpa pernah benar-benar
berpamitan.
Dan gue, akhirnya berjalan ke
parkiran motor sambil menutup kepala dengan jaket kupluk. Melangkah pelan,
sepelan kura-kura yang abis cari makan. Gue kira kejutan manis di hari sabtu,
nggak tahunya kejutan pahit seperti yang dirasakan banyak anak muda lainnya. #CukstawCerpen

Tidak ada komentar:
Posting Komentar