Di sebuah kantor kecil yang
sibuk, ada seorang karyawan bernama Raka yang dikenal ramah dan suka membantu.
Ia sering menggantikan rekan kerja yang izin, membantu menyelesaikan tugas
orang lain, bahkan rela lembur tanpa banyak bicara. Namun anehnya, ada satu
orang di timnya yang tetap memandang Raka dengan sinis. Apa pun yang Raka
lakukan, selalu saja dianggap salah atau penuh kepentingan tersembunyi.
Suatu hari, Raka membantu
orang itu menyelesaikan laporan penting yang hampir terlambat dikumpulkan. Ia
mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, memastikan semuanya rapi dan tepat
waktu. Alih-alih berterima kasih, orang itu justru berkata dingin, "Nggak
usah sok baik. Saya tahu kamu cuma cari muka." Kalimat itu menusuk, tapi
Raka memilih diam. Ia sadar, tidak semua kebaikan akan diterima dengan hati
yang lapang.
Hari demi hari berlalu, dan
Raka mulai memahami sesuatu. Bahwa masalahnya bukan selalu pada apa yang ia
lakukan, tetapi pada cara orang lain melihat. Ada hati yang sudah dipenuhi
prasangka, sehingga kebaikan pun tampak seperti ancaman. Ada luka yang belum
sembuh, sehingga kehadiran orang lain terasa mengganggu. Dan dalam kondisi
seperti itu, sebaik apa pun usaha kita, tetap tidak akan cukup di mata mereka.
Kita selalu salah di matanya.
Raka pun berhenti berusaha
menyenangkan semua orang. Ia tetap berbuat baik, tetapi bukan lagi untuk
mendapat pengakuan. Ia melakukannya karena baik adalah nilai yang ia pegang. Ia
tidak lagi menghabiskan energi untuk menjelaskan dirinya pada orang yang memang
tidak ingin mengerti. Ia sadar, hidup bukan tentang disukai semua orang, tetapi
tentang tetap menjadi pribadi yang benar di hadapan diri sendiri. Orientasinya
dalam hidup hanya berbuat baik dan menebar manfaat.
Pada akhirnya, waktulah yang
akan menjawab segalanya. Orang-orang mulai melihat ketulusan Raka dari
konsistensinya, bukan dari kata-katanya. Sementara mereka yang tetap
membencinya akan terus membencinya. Hingga perlahan tenggelam dalam penilaian
dan prasangka buruknya sendiri. Dari situ Raka belajar, bahwa semesta memang
punya caranya sendiri untuk menimbang. Dan kadang, kebencian orang lain
bukanlah cerminan siapa kita, melainkan cerminan apa yang ada di dalam hati si
pembenci.
Jadi dalam hidup, meskipun
kita pernah berbuat baik pada orang yang tidak menyukai, kita akan tetap tidak
disukai. Mau sebaik apapun hal yang kita lakukan, akan tetap dibenci. Maka
teruslah berbuat baik dan menebar manfaat, jangan menyerah. Semesta memang
mempunyai hukumnya sendiri. Permasalahannya bukan di diri kita tapi kotornya
hati orang yang menilai kita. Begitulah hidup, semoga Allah SWT selalu
melindungi orang-orang baik yang tidak butuh validasi sekalipun dibenci
sebagian orang. Semangat kawan!
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar