Jumat, 08 Mei 2026

Literasi Orang Kerja, Loyal tapi di-PHK

Ini kisah orang kerja. Teman saya di kantor dikenal pekerja keras dang sangat loyal.  Sudah 12 tahun kerja di kantor itu, sebuah perusahaan swasta. Dia selalu cerita saat makan siang bareng. Selama kerja nggak pernah absen, jarang ambil cuti. Bahkan nggak pernah complain urusan kantor. Selalu bilang ke teman-teman, "Yang penting kita loyal." Keren dan luar biasa banget teman saya ini.

 

Tapi setelah lebaran kemarin. Katanya, dia dipanggil HRD. Agak mendadak, sekitar jam 10-an. Lalu sorenya, meja kerjanya sudah kosong. Atas alasan apapun, kantor akhirnya mem-PHK teman saya. Itu hari terakhirnya di kantor. 

 

Sebagai teman, saya ikut prihatin sih. Kok bisa ya? Pekerja yang loyal dan berdedikasi di PHK. Sedih, tapi mau bagaimana? Saat dia cerita kenapa di PHK, saya agak terkejut. Ternyata, dia bukan dipecat karena nggak perform. Dia dipecat karena angkanya nggak cocok lagi di level dia. Gajinya dianggap kegedean untuk posisi dia.

"Gue kira kantor bakal pertimbangkan kontribusi gue selama ini" kata teman saya.

Hebatnya, teman saya sama sekali nggak marah. Dia hanya bingung, karena dia nggak nyangka itu bisa terjadi pada dirinya yang selama ini loyal ke perusahaan.

 

Dari kisah teman saya ini. Akhirnya, saya makin paham tentang dunia kerja. Ngggak ada posisi yang “aman” di kantor. Semuanya bisa terjadi, bahkan loyalitas pun bisa jadi dikorbankan. Terbukti, biar bagaimana pun “perusahaan bukan keluarga”. Bukan karena kantor jahat. Tapi karena memang dari awal strukturnya berbeda. Keluarga nggak punya opsi buat restrukturisasi. Tapi perusahaan bisa kapan saja bikin retsruktirasai. Ketika nggak masuk bagan, maka kita akan dikeluarkan alias PHK.

 

Mungkin, banyak pekerja masih ingat. Momen di mana ikut gathering perusahaan. Saat dikasih bahasa yang bikin kita begitu nyaman bekerja. “Kita semua satu tim", mari kita maju bersama. "Kita bekerja sebagai keluarga besar" atau "Kami peduli dengan perkembangan karyawan". Nggak ada yang salah dengan kalimat itu. Hanya saja, kalimat itu bisa hilang seketika dalam satu rapat direksi atau pimpinan yang karyawannya sama sekali nggak tahu.

 


Apa yang terjadi pada teman saya, tentu bukan untuk sinis. Apalagi jadi nggak loyal ke perusahaan. Bukan itu tapi itulah realitas di dunia kerja. Jadi, kita harus realistis. Nggak ada yang abadi selama masih kerja. Hari ini bisa dipuji, besok di-PHK. Kasih yang terbaik di kerjaan boleh dan wajib. Tapi jangan taruh seluruh identitas atau kepercayaan ke kantor.  Karena identitas yang cuma hidup di satu tempat, rapuh banget. Nggak ada jaminan!  

 

Kalau kita sadari, justru aset yang kita bangun di luar jam kerja itulah yang nggak bisa di-PHK. Skill yang kita asah sendiri. Relasi yang kita jaga bukan karena jabatan. Karya atas anam kita, bukan atas nama perusahaan. Itulah kompetensi yang tetap ada sekalipun meja kerja sudah kosong.  

 

Gimana sekarang teman saya? Alhamdulillah, dia baik-baik saja. Walau sampai sekarang masih nggak percata atas apa yang dia alami sendiri. Dia tetap survive bukan karena uang pesangon dari kantornya. Karena pesangon gampang habisnya. Dia juga punya dana pensiun alias DPLK tapi belum bisa diambil. Karena belum sampai usia pensiun dipercepat. Dia tetap survive karena jaringan dan skill yang dia miliki di luar kantor, yang selama ini dia anggap hobi.

 

Hikmahnya, selagi masih kerja jangan taruh seluruh identitas atau kepercayaan ke kantor. Tetap bangun aset di luar jam kantor. Sama seperti uang, jangan bangga masih punya gaji. Tapi siapkan juga dana pensiun, untuk masa pensiun kita sendiri. Sebab hari tua atau saat berhenti kerja, biaya hidup tetap jalan. Kerja biasa-biasa saja asal tetap punya dana pensiun, itu baru keren. #YukSiapkanPensiun    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar