Ini kisah orang kerja. Teman saya di kantor dikenal pekerja keras dang sangat loyal. Sudah 12 tahun kerja di kantor itu, sebuah perusahaan swasta. Dia selalu cerita saat makan siang bareng. Selama kerja nggak pernah absen, jarang ambil cuti. Bahkan nggak pernah complain urusan kantor. Selalu bilang ke teman-teman, "Yang penting kita loyal." Keren dan luar biasa banget teman saya ini.
Tapi setelah
lebaran kemarin. Katanya, dia dipanggil HRD. Agak mendadak, sekitar jam 10-an. Lalu
sorenya, meja kerjanya sudah kosong. Atas alasan apapun, kantor akhirnya
mem-PHK teman saya. Itu hari terakhirnya di kantor.
Sebagai teman,
saya ikut prihatin sih. Kok bisa ya? Pekerja yang loyal dan berdedikasi di PHK.
Sedih, tapi mau bagaimana? Saat dia cerita kenapa di PHK, saya agak terkejut.
Ternyata, dia bukan dipecat karena nggak perform. Dia dipecat karena angkanya nggak
cocok lagi di level dia. Gajinya dianggap kegedean untuk posisi dia.
"Gue kira kantor
bakal pertimbangkan kontribusi gue selama ini" kata teman saya.
Hebatnya, teman
saya sama sekali nggak marah. Dia hanya bingung, karena dia nggak nyangka itu
bisa terjadi pada dirinya yang selama ini loyal ke perusahaan.
Dari kisah teman saya
ini. Akhirnya, saya makin paham tentang dunia kerja. Ngggak ada posisi yang “aman”
di kantor. Semuanya bisa terjadi, bahkan loyalitas pun bisa jadi dikorbankan.
Terbukti, biar bagaimana pun “perusahaan bukan keluarga”. Bukan karena kantor jahat.
Tapi karena memang dari awal strukturnya berbeda. Keluarga nggak punya opsi
buat restrukturisasi. Tapi perusahaan bisa kapan saja bikin retsruktirasai.
Ketika nggak masuk bagan, maka kita akan dikeluarkan alias PHK.
Mungkin, banyak
pekerja masih ingat. Momen di mana ikut gathering perusahaan. Saat dikasih
bahasa yang bikin kita begitu nyaman bekerja. “Kita semua satu tim", mari
kita maju bersama. "Kita bekerja sebagai keluarga besar" atau "Kami
peduli dengan perkembangan karyawan". Nggak ada yang salah dengan kalimat
itu. Hanya saja, kalimat itu bisa hilang seketika dalam satu rapat direksi atau
pimpinan yang karyawannya sama sekali nggak tahu.
Apa yang terjadi
pada teman saya, tentu bukan untuk sinis. Apalagi jadi nggak loyal ke perusahaan.
Bukan itu tapi itulah realitas di dunia kerja. Jadi, kita harus realistis. Nggak
ada yang abadi selama masih kerja. Hari ini bisa dipuji, besok di-PHK. Kasih
yang terbaik di kerjaan boleh dan wajib. Tapi jangan taruh seluruh identitas atau
kepercayaan ke kantor. Karena identitas
yang cuma hidup di satu tempat, rapuh banget. Nggak ada jaminan!
Kalau kita
sadari, justru aset yang kita bangun di luar jam kerja itulah yang nggak bisa
di-PHK. Skill yang kita asah sendiri. Relasi yang kita jaga bukan karena
jabatan. Karya atas anam kita, bukan atas nama perusahaan. Itulah kompetensi yang
tetap ada sekalipun meja kerja sudah kosong.
Gimana sekarang teman
saya? Alhamdulillah, dia baik-baik saja. Walau sampai sekarang masih nggak percata
atas apa yang dia alami sendiri. Dia tetap survive bukan karena uang pesangon
dari kantornya. Karena pesangon gampang habisnya. Dia juga punya dana pensiun
alias DPLK tapi belum bisa diambil. Karena belum sampai usia pensiun
dipercepat. Dia tetap survive karena jaringan dan skill yang dia miliki di luar
kantor, yang selama ini dia anggap hobi.
Hikmahnya, selagi
masih kerja jangan taruh seluruh identitas atau kepercayaan ke kantor. Tetap
bangun aset di luar jam kantor. Sama seperti uang, jangan bangga masih punya
gaji. Tapi siapkan juga dana pensiun, untuk masa pensiun kita sendiri. Sebab
hari tua atau saat berhenti kerja, biaya hidup tetap jalan. Kerja biasa-biasa
saja asal tetap punya dana pensiun, itu baru keren. #YukSiapkanPensiun
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar