Selama lebih dari dua puluh enam tahun, Pak Darto bekerja sebagai manajer operasional di sebuah perusahaan swasta. Jas rapi, sepatu mengkilap, dan jatah mobil dinas menjadi bagian dari kesehariannya. Selama bekerja, banyak orang datang meminta keputusan darinya, dan tidak sedikit pula yang menaruh hormat. Pak Darto dulu, dikenal sebagai sosok yang disegani di kantornya. Namun, di balik semua itu, ia tidak pernah benar-benar memikirkan satu hal penting: kehidupan setelah pensiun. Hidup saat sudah tidak bekerja lagi karena usia.
Waktu berjalan
cepat. Tanpa terasa, usia 56 tahun tiba, dan masa pensiun Pak Darto pun datang.
Hari terakhirnya di kantor diwarnai ucapan terima kasih dan pemberian cenderamata.
Ia pulang dengan senyum, tapi juga dengan kekosongan yang belum ia pahami
sepenuhnya. Mau apa setelah pensiun? Tabungan yang dimiliki ternyata tidak
cukup untuk menopang biaya hidup sehari-hari dalam jangka panjang. Apalagi
tanpa ada dana pensiun yang dimilikinya. Entah, bagaimana hidupnya setelah tidak
punya gaji lagi?
Setelah pensiun,
beberapa bulan pertama terasa seperti liburan panjang. Namun, perlahan
kenyataan mulai mengetuk. Pengeluaran tetap berjalan, biaya hari-hari harus
tetap terpenuhi. Sementara pemasukan sudah tidak ada lagi. Pak Darto mulai gelisah.
Dalam diam, ia menghitung ulang sisa tabungan, mencoba berhemat, dan menahan
diri dari kebutuhan yang dulu terasa sepele. Di sisi lain, ia melihat
anak-anaknya yang juga sedang berjuang dengan kehidupan masing-masing. Tidak
terbayangkan di benaknya untuk merepotkan anak-anaknya secara finansial.
Pak Darto sebenarnya
bisa saja meminta bantuan kepada anak-anaknya. Namun, harga dirinya sebagai
seorang ayah menolak pilihan itu. Ia tidak ingin menjadi beban. Ia ingin tetap
berdiri di atas kakinya sendiri, meski usia tidak lagi muda. Setelah berpikir
panjang, ia mengambil keputusan yang mengejutkan banyak orang: menjadi driver
ojek online. Dari manajer saat bekerja “banting setir” jadi driver ojol di masa
pensiun. Itu pekerjaan paling mungkin dilakukan baginya setelah pensiun.
Hari pertama ia
mengenakan jaket hijau itu terasa berat. Bukan karena pekerjaannya, tetapi
karena perasaan yang bercampur antara gengsi dan kenyataan. Dari ruang rapat
ber-AC, kini ia menyusuri jalanan panas dan macet. Dari memberi perintah, kini
ia menerima pesanan. Namun, setiap kali keraguan datang, ia mengingat satu hal:
ini adalah pilihan untuk tetap mandiri secara finansial, untuk bisa bertahan
hidup di masa pensiun.
Perlahan, Pak
Darto mulai menikmati rutinitas barunya. Ia bertemu banyak orang dengan cerita
yang beragam. Ada penumpang yang ramah, ada pula yang diam sepanjang
perjalanan. Kadang ia mengantar makanan, kadang menjemput penumpang hingga
larut malam. Di balik lelahnya, ada kepuasan tersendiri ketika ia pulang dengan
hasil jerih payahnya sendiri. Dua ratus ribuan sehari, masih bisa diperolehnya
untuk menutupi biaya hidup di hari tuanya.
Suatu sore,
saat menunggu order, Pak Darto tersenyum kecil. Hidupnya memang berubah
drastis, tapi ia tidak merasa kalah. Ia justru merasa lebih kuat. Masih bisa
bekerja walau hanya jadi driver ojol. Dari perjalanan hidupnya di masa pensiun,
Pak Darto belajar satu hal penting: kejayaan saat bekerja tidak menjamin
ketenangan saat pensiun. Dan kemandirian, sekecil apa pun bentuknya, adalah
harga diri yang tidak ternilai.
Tapi di balik
semua itu, Pak Darto sadar akan pentingnya menyiapkan masa pensiun sejak dini.
Minimal punya dana pensiun sebagai tabungan untuk hari tua, saat tidak bekerja
dan tidak punya gaji lagi. Agar pensiunan sekeren apapun tidak mengalami nasib seperti
dirinya, banting setir di hari tua jadi drivel ojol. #YukSiapkanPensiun
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar