Minggu, 05 April 2026

Literasi Jabatan dan Kekuasaan: Panggung Membongkar Siapa Kita Sebenarnya?

Jabatan dan kekuasaan sering dikejar, bahkan diperebutkan banyak orang. Di kantor, di organisasi profesi bahkan komunitas, jabatan dan kekuasaan sering diburu. Sayangnya, banyak pemburu jabatan dan kekuasaan itu lupa. Bahwa jabatan dan kekuasaan sebenarnya bukan tempat untuk membentuk karakter orang. Tapi "panggung" yang akan membongkar siapa kita sebenarnya? ​Orang kalau sudah diberi jabatan, kekuasaan dan kedudukan, maka sifat aslinya yang selama ini tersembunyi akan keluar tanpa filter dengan sendirinya.  

 

Ketika seseorang belum memiliki jabatan dan kekuasaan, banyak sikap dan kecenderungan dirinya masih tertahan oleh aturan, tekanan sosial, atau keterbatasan ruang gerak. Namun, saat ia diberi wewenang, kontrol atas keputusan, dan pengaruh terhadap orang lain, batas-batas itu mulai longgar. Di titik inilah nilai-nilai yang selama ini diyakini seperti integritas, empati, atau justru ambisi dan ego akan tampak lebih jelas dalam tindakan nyata. Karena itu, kekuasaan sering disebut sebagai “panggung” yang membongkar jati diri. Orang yang sejak awal memiliki karakter baik cenderung menggunakan kekuasaan untuk melayani dan memberi manfaat, sementara yang menyimpan kecenderungan negatif bisa menjadi lebih dominan dan arogan, bahkan tanpa disadari. Jabatan dan kekuasaan memang tidak mengubah seseorang sepenuhnya, tetapi ia memperbesar dan mempercepat kemunculan sifat asli yang sebelumnya tersembunyi. Inilah sebabnya, sebelum mengejar jabatan, yang lebih penting adalah membangun karakter yang kuat, karena ketika panggung itu datang, yang tampil bukan lagi topeng, melainkan diri yang sebenarnya.

 

Di dekat kita, ada orang yang sebelum menjabat terlihat ramah, peduli, dan rendah hati. Tapi begitu menjabat dan memegang kuasa, mendadak jadi arogan, subjektif dan sulit diberi saran. Sebaliknya, ada orang yang justru menggunakan otoritasnya untuk benar-benar melayani spepenuh hati untuk kemajuan organisasinya. Sebelum dipilih dan menjabat terlihat tidak punya ambisi. Tapi begitu terpilih dan menjabat, karakternya berubah. Merasa berkuasa sehingga meminta akses, kontrol, dan privilese bahkan ego meningkat. Merasa butuh akan pengakuan atau dorongan dominasi yang sebelumnya tersembunyi menjadi lebih dominan dan tampak sebagai arogansi. Sebaliknya, pada orang yang sejak awal memiliki nilai integritas dan orientasi pelayanan yang kuat, kekuasaan justru memperluas kapasitas untuk berbuat baik, membuat keputusan yang berpihak pada kepentingan umum, dan melayani secara konsisten tanpa syarat, sehingga otoritas menjadi sarana kemajuan, bukan alat untuk meninggikan diri.

 

Ada sebuah organisasi, yang kini dipimpin orang yang ambisi meraih jabatan dan kekuasaan. Bersikap arogan dan subjektif dengan segala argument yang terkesan baik. Tapi faktanya saat memimpin, kantor organisasinya yang “dijanjikan” akan dijadikan lebih besar malah berubahn jadi lebih kecil atas alasan efisiensi. Keputusan organisasi yang selama ini dibangun atas demokrasi kini berubah jadi subjektif alias “terserah” si pemilik jabatan dan kekuasaan. Bahkan fungsi pelayanan dan akomodasi anggota akhirnya “hilang”. Tentu, semuanya atas dalih dan argument yang Menurut si pemiliki jabatan dan kekuasaan “masuk akal”.

 


Ternyata, jabatan dan kekuasaan itu seperti mikroskop. Dia memperbesar apa yang sudah ada di dalam hati. Kalau dasarnya arogan dan subjektif akan makin terlihat. Kalau dasarnya tulus, akan makin terasa manfaat bagi anggotanya. Maka jabatan dan kekuasaan sama sekali tidak menciptakan sifat baru, melainkan memperjelas dan memperbesar apa yang sudah ada dalam diri seseorang. Ketika seseorang memiliki kecenderungan subjektif misalnya memihak, egois, atau tidak adil maka saat ia memegang jabatan, sikap tersebut akan semakin tampak dalam keputusan dan tindakannya. Sebaliknya, jika dasar hatinya tulus, berintegritas, dan berorientasi pada kepentingan bersama, maka kekuasaan akan menjadi sarana untuk memperluas kebaikan dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi banyak orang. Dengan kata lain, jabatan bukan penentu baik atau buruknya seseorang, tetapi alat yang membuat kualitas batin seseorang menjadi lebih nyata dan terlihat.

 

Maka hati-hati dengan jabatan dan "sindrom merasa lebih tinggi." Ketahuilah, jabatan itu titipan yang ada masa kedaluwarsa-nya, tapi integritas dan nama baik akan diingat selamanya. ​ Jangan pernah “merasa lebih tinggi” di mana pun, karena cenderung merasa paling berkuasa, paling benar, atau sulit dikritik, padahal posisi itu hanyalah amanah yang sifatnya sementara dan bisa berakhir kapan saja. Ketika seseorang terlena oleh kekuasaan, ia berisiko mengambil keputusan yang arogan dan merusak hubungan dengan orang lain. Sebaliknya, jika ia menyadari bahwa jabatan adalah titipan, maka ia akan lebih rendah hati, berhati-hati, dan bertanggung jawab dalam bertindak.

 

Sebab pada akhirnya, yang paling bertahan bukanlah jabatan yang pernah dipegang, melainkan integritas dan nama baik yang akan terus diingat dan dinilai oleh orang lain dalam jangka panjang. Pernah punya pengalaman melihat perubahan sifat seseorang setelah  meraih jabatan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar