Mungkin ini penting buat pekerja. Di kantor atau di tempat kerja, ternyata kerja keras itu tidak otomatis bikin si pekerja dihargai. Karena kalau di hargai, harusnya sekarang posisi si pekerja sudah naik. Bisa gajinya, bisa pangkatnya. Tapi kenyataannya? Kok tetap begitu-begitu saja. Si pekerja malah makin capek, bukan makin dilirik. Akhirnya, stuck dan menjalani rutinitas semata. Tentu, bukan karena si pekerja kurang usaha tapi karena “main” di aturan yang salah.
Begitu juga
urusan pensiun, banyak pekerja punya gaji tapi tidak mau menabung untuk hari
tua. Alasannya, gaji tidak cukup untuk menabung di dana pensiun. Selalu ada
alasan untuk merasa belum perlu menyiapkan masa pensiun. Akhirnya, kerja
puluhan tahun tapi dihantui rasa “tidak aman” bila pensiun atau berhenti
bekerja. Ternyata, urusan pensiun bukan soal gaji tidak cukup tapi tidak mau
mempersiapkan masa pensiunnya sendiri.
Di tempat kerja, kita
bisa mengerjakan banyak hal. Datang tepat waktu, beresin tugas yang tertunda,
bahkan membantu kerjaan orang lain. Kita jadi orang yang bisa diandalkan. Tapi
di balik itu, kita justru sering merasa capek sendirian. Merasa kerja banyak
tapi tidak pernah dianggap penting. Bila ada pekerja yang merasa seperti itu, harus
paham itu terjadi bukan karena kita lemah. Dan bukan pula karena kita kurang
kerja keras. Masalahnya bukan di effort kita. Tapi di cara tempat kerja kita menilai
orang. Karena tempat kerja tidak sesimpel “siapa yang paling
capek”.
Makanya jangan
heran, yang kerjanya biasa saja, malah bisa naik duluan. Bukan karena dia lebih
rajin. Tapi karena dia keliatan lebih “bernilai”. Sementara kita? Merasa kerja
keras tiap hari, tapi tidak terlihat penting di mata atasan atau di “politik”
kantor. Begitu pula urusan pensiun, ada pekerja yang gajinya tidak
besar tapi punya dana pensiun lumayan karena punya komitmen untuk menyisihkan
sebagian gajinya ke dana pensiun. Biar lebih tenang dan nyaman di hari tua.
Selain itu, ternyata
di tempat kerja itu yang dihargai bukan effort tapi impact. Bukan kerja kerasnya
tapi dampaknya. Bukan siapa yang paling sibuk tapi siapa yang paling berngaruh
ke hasil. Karenanya, selama kita masih fokus ke capeknya kerja, kita bakal
terus kalah sama yang paham “politik” kantor. Maka solusinya bukan kerja lebih
keras. Tapi ubah cara kita “main” di kantor. Apapun alasannya, gimana caranya
kerja kita bisa terlihat berdampak? Gimana caranya orang lihat kita sebagai
aset? Dan berdampak itu beda jauh dari sekadar rajin. Sayangnya, banyak pekerja
yang tidak sadar dan mungkin tidak mau jujur soal ini. Seberapa dampak kita terhadap
pekerjaan dan kantor?
Banyak pekerja tahu
kondisi ini tapi tetap kerja dengan cara lama. Capek iya, naik posisi tidak.
Bahkan dalam 2-3 tahun ke depan, posisinya masih sama. Sama persis dengan
menyiapkan masa pensiun, kerja bertahun-tahun tapi tetap tidak punya dana
pensiun. Lupa, segala hal itu tergantung kita, bukan tergantung tempat kerja.
Sebab apapun, kalau bukan kita mau siapa lagi? #YukSiapkanPensiun
.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar