Sob, pernah nggak sekantor atau ketemu orang kantoran yang kerjanya mengeluh. Apa-apa dikeluhin. Sebabnya, bukan soal kebijakan atau sistem yang jelek. Tapi soal kinerja orang lain, kayak kesel sama rekan kerja. Setiap meeting, setiap coffee break, bahkan pas makan siang. Selalu ada aja yang di-komplain. "Si A kerjanya lambat benget deh" atau bilang "Si B nggak proaktif". Dan ujungnya bilang, "Si C itu kurang komunikasi".
Kita sering lupa,
di tengah tuntutan dunia kerja yang makin kompleks dan serba cepat, tekanan
buat perform memang tinggi. Tapi ada satu tipe karyawan yang justru jadi
penghambat terbesar. Ironisnya, dia sering nggak sadar. Boleh setuju boleh
nggak sih, “karyaawa yang paling bkomplain soal orang lain di kantor, biasanya
adalah sumber masalahnya ada di dirinya sendiri”.
Kenapa? Karena
komplain itu bentuk dari externalized blame. Fokusnya hanya mencari kesalahan
di luar dirinya. Gagal dan nggak mau melihat ke dirinya sendiri. Di matanya,
semua orang salah dan dirinya selalu benar. Sadar nggak sih, orang begitu itu cuma
sibuk mengamati kekurangan orang lain sampai lupa memperbaiki diri
sendiri.
Data menunjukkan,
satu karyawan 'toxic' bisa menurunkan moral tim dan efisiensi kerja sampai 30%
dalam sebulan. Dan 7 dari 10 karyawan menganggap 'tukang komplain' itu sebagai
faktor penghancur budaya kerja di mana pun. Kerjanya menghabiskan energi untuk
bergosip dan menyalahkan. Padahal,
energi itu bisa dipakai untuk kontribusi nyata. Ujungnya, pekerjaan utama jadi
terbengkalai atau cuma dikerjakan sesuai standar saka.
Apa orang tukang complain
itu korban? Bukan, ini soal mindset. Orang yang punya victim mentality di
kantor itu cirinya khas: selalu jadi yang “paling lantang” nunjuk jari ke orang
lain. Tapi pas ditanya solusi, jawabnya “nol”. Bandingkan sama
karyawan yang punya impact. Hanya fokus pada apa yang bisa dikontrol. Kalau ada
masalah, ya cari solusi. Kalau ada kekurangan, mereka menawarkan bantuan, bukan
cuma komentar pedas.
Pernah lihat
nggak, satu tim yang tadinya solid, hancur lebur cuma gara-gara satu orang
'toxic'. Output jadi turun, meeting jadi arena drama, semua jadi serba nggak
nyaman. Lingkungan kerja jadi penuh prasangka. Inovasi mati. Kolaborasi
jadi berat. Semua gara-gara ada orang yang kerjaannya cuma nyinyir, tapi
kontribusinya “nol besar”. Akhirnya, biaya yang ditanggung perusahaan bukan
cuma dari penurunan produktivitas. Tapi juga tingginya turnover karyawan lain
yang nggak betah. Jelas, realitas itu jadi cost yang mahal buat perusahaan.
Si karyawan
tukang mengeluh lupa ya, mendingan keluhin punya dana pensiun atau nggak kalau
nanti pensiun atau berhenti kerja. Daripada ngeluhin orang lai, lebih baik ngeluhin
“apa yang sudah disiapkan untuk hari tua?”. Kerja puluhan tahun tapi tidak
punya dana pensiun, jelas itu bahaya banget sih.
Orang kantoran
tapi kok kerjanya ngeluh, apalagi saat pensiun nanti saat tidak punya gaji
lagi. #YuksiapkanPensiun

Tidak ada komentar:
Posting Komentar