Kamis, 16 April 2026

Kerja Loyal Sama Perusahaan, Ujungnya Nggak Punya Dana Pensiun

Ini pelajaran penting untuk pekerja. Kemarin sempat ngobrol sama seorang Bapak yang sudah bekerja lebih dari 25 tahun. Bukan hanya berpengalaman tapi sudah “makan asam garam” dalam pekerjaannya. Awalnya sih basa-basi doang. Tapi ujungnya, si Bapak bercerita dengan penuh semangat lagi berapi-api. Alhamdulillah, saya malah dapat nasihat yang bikin berpikir keras tentang dunia kerja.

 

Bapak itu bukan CEO, bukan direktur. Bukan tergolong pimpinan di kantornya. Dia cuma staf biasa di sebuah perusahaan manufaktur. Tapi pengalamannya, apalagi soal realitas dunia kerja tergolong luar biasa. Terkadang bikin tercengang. 

 

Dulu kita sering dengar di dunia kerja. Tentang hebatnya bekerja atas dasar "passion". Pentingnya kerja keras, bahkan dimotivasi saat training tentang kerennya pekerja yang punya inovasi dan kreatif. Berhari-hari training tentang gimana cara berkontribusi lebih hebat kepada perusahaan. Tapi di tahun 2026 ini, semua sesi motivasi berantakan. AI sudah lebih pintar. Perusahaan lebih bercaya AI daripada keluarin baudget untuk tingkatkan kualitas SDM-nya. Masalahnya, bukan di karyawan tapi di sistem-nya. Sistem dunia kerja sudah berubah.

  

Nah menariknya, Bapak itu bilang begini: "Kamu tahu nggak, setelah 25 tahun bekerja, gue baru sadar satu hal: “loyalitas di perusahaan itu bohong". Dia lanjut cerita, dulu dia pernah menolak tawaran kerja di perusahaan lain karena merasa "berhutang budi" sama perusahaan yang sudah menerima dia bekerja untuk pertama kalinya. Tapi faktanya, si Bapak itu setiap tahun dia cuma dapat kenaikan gaji 3-5%, rata-rata di bawah inflasi. Sementara teman-temannya yang pindah kerja setiap 3 sampai 5 tahun, bisa dapat kenaikan gaji 20-30% setiap kali pindah. Angka memang nggak bisa bohong!, katanya.

 

"Makanya gue nyesel, Nak," katanya lagi. "Gue buang waktu dan potensi gue demi sesuatu yang nggak pernah ada: loyalitas perusahaan." Ternyata, perusahaan itu nggak loyal sama karyawan. Perusahaan hanya loyal sama profit. Kalau karyawan nggak menguntungkan, maka si karyawan bakal diganti. Sesederhana itulah prinsip perusahaan.

 

Si Bapak cerita lagi. Ada temennya yang sudah kerja 20 tahun di perusahaan yang sama. Pas perusahaan lagi butuh "efisiensi", temannya itu langsung kena PHK tanpa pesangon yang layak. Alasannya? "Karena gaji dan biayanya sudah terlalu mahal."  Terlalu lama bekerja, beban perusahaan maikin besar.

 

Simpel kata, pesan dari si Bapak itu jelas. Jangan terlalu percaya sama perusahaan. Anggap saja tempat kerja itu kayak halte bus. Kita bisa naik, bisa turun kapan pun. Nggak ada yang abadi. Maka selagi masih pekerja, fokus sama diri sendiri saja. Tetap upgrade skill, bangun relasi, dan cari peluang yang lebih baik.  

 




Di tahun 2026 begini ini, skill yang relevan itu kayak aset digital. Semakin kita punya banyak skill, semakin tinggi nilai pakai kita di pasar kerja. Dan tidak kalah penting, jangan hanya mengandakan satu skill. Kuasai beberapa skill yang saling melengkapi. Si Bapak itu mencontohkan, dia sekarang lagi belajar data analysis. Padahal umurnya sudah 56 tahun lebih. Apa alasannya? "Gue nggak mau jadi dinosaurus yang punah karena nggak bisa adaptasi." Keren banget nasihat si Bapak ya.  

 

Gara-gara ngobrol sama si Bapak. Saya jadi ingat sama cerita teman yang kerja di startup beberapa tahun lalu. Dia kerja keras banget, lembur tiap hari, sampai akhirnya burnout. Capek sendiri sama kerjaannya. Pas dia minta naik gaji, bosnya malah bilang: "Kamu harus lebih loyal sama perusahaan."

  

 

Intinya, di dunia kerja yang serba nggak pasti ini, satu-satunya orang yang bisa kita andalkan adalah diri kita sendiri. Jangan buang waktu dan energi untuk sesuatu yang semu. Kita disuruh loyak sama petrusahaan. Tapi sebaliknya, perusahaan nggak loyal sama karyawannya. Karenanya, lebih baik fokus sama pengembangan diri, bangun personal branding, dan jangan takut untuk pindah kalau ada kesempatan yang lebih baik.  

 

Ngobrol bareng si Bapak itu luar biasa. Dapat nasihat yang kahirnya membuka mata banyak pekerja. Selama ini kita terlalu fokus sama "apa kata orang", "aturan perusahaan", atau "budaya kerja". Loyalitas, passion, kerja keras, hingga inovasi tapi akhirnya saat perusahaan sudah tidak perlu, gampang banget dibuang. Di situlah, sebagai pekerja yang penting fokus pada “nilai diri sendiri”.

 

Dan si Bapak pun menutup obrolan. “Tahu nggak, biarpun gue sudah bekerja lebih dari 25 tahun ternyata perusahaan nggak sediakan dana pensiun”. Jadi, gue nggak tahu akan seperti apa saat pensiun nanti? #YukSiapkanPensiun 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar