Selasa, 24 Maret 2026

Pegiat Literasi yang Mengabdi: Saya Bermanfaat Untukmu, Bukan Saya Lebih Keren Darimu

Mungkin, kita sering melihat orang yang banyak gaya tapi minim manfaat. Bicaranya pandai tapi sulit diandalkan. Pakaiannya mentereng tapi sering manipulatif. Bahkan mengaku hebat padahal sehari-harinya tidak jelas ngapain. Sebaliknya di sekitar kita, ada pula  orang yang sederhana. Tidak banyak bicara tapi aktivitasnya selalu bermanfaat untuk bayak orang. Santai tapi selalu hadir saat dibutuhkan.

 

Seorang pegiat literasi yang mengabdi di taman bacaan, pedagang kecil yang jujur, seorang guru yang sabar, atau bahkan seorang tetangga yang suka membantu: bisa jadi mereka tidak terlihat hebat. Tapi keberadaannya sangat dirasakan. Tetap berbuat di segala keadaan dan selalu mau menebar manfaat kepada sesama. Itulah contoh nyata dari “saya bermanfaat untukmu”.

 

Sayangnya hari ini, banyak orang justru sibuk mengejar citra. Merasa penting mendapat pengakuan dari orang lain walau tidak ada manfaatnya. Ingin terlihat hebat, ingin dianggap pintar, ingin dipuji banyak orang. Namun lupa bahwa nilai sejati seseorang bukan pada penampilannya, melainkan pada dampaknya. Bukan pada omongannya dan kerasnya bicara tapi pada manfaatnya untuk orang lain.

 

Maka dalam hidup, jangan pernah mengukur kebahagiaan dari sisi orang lain. Jangan pula mengukur kesuksesan dari “pintu” orang lain. Sebab, bahagia out berbeda maknanya bagi orang per orang. Bahagian bukan soal memiliki segalanya, tapi tentang hidup yang merasa cukup. Tentang bisa tidur dengan hati tenang karena tidak menyakiti siapa pun. Tentang bisa tersenyum karena tahu hidupnya memberi arti bagi orang lain.

 

Seperti mahasiswa yang tekun belajar lebih punya makna. Anak-anak yang masih mau membaca lebih bermakna daripada anak-anak yang main gawai. Bukan karena ingin berprestasi di sekolah, bukan sekadar untuk terlihat pintar. Tapi agar ilmu pengetahuan itu bisa digunakan untuk membantu orang lain. Punya ilmu yang bermanfaat itu membahagiakan.

 

Bila hari ini kita ingin memperbaiki hidup, maka tidak perlu bertekad melakukan hal-hal besar. Lakukan saja hal kecil tapi baik dan bermanfaat. Mulailah dari dua hal sederhana: jadilah orang yang menyenangkan dan bermanfaat. Tidak usah banyak mengeluh dan jangan berprasangka buruk pada apapun. Tidak usah sibuk mengurusi hidup orang lain, apalagi membandingkannya. Insya allah, perlahan hidup kita akan berubah dengan sendirinya. Menjadi lebih baik dan berkah.

 


Sungguh, dunia ini sudah disesaki oleh orang yang ingin terlihat hebat. Penuh dengan orang-orang yang mengejar pengakuan bahkan ingin dipuji. Akhirnya jadi banyak gaya dan sibuk untuk hal-hal yang tidak manfaat. Kita sering lupa, justru yang paling dicari saat ini adalah orang yang tidak banyak gaya tapi diam-diam membuat hidup orang lain terasa lebih mudah. Diam tapi tidak pernah menyakiti orang lain. Diam tanpa membenci dan prasangka buruk.

 

Di momen Idul Fitri ini patut direnungkan. Tidak harus menunggu kaya untuk berbuat baik. Tidak perlu menunggu punya jabatan untuk menebar manfaat kepada orang lain. Tidak perlu modal besar untuk membenahi hidup. Kita bisa memulainya dari hal kecil dan sederhana. Caranya bisa dimulai dari hal kecil: 1) menjaga lisan, 2) memperbaiki sikap, dan 3) peduli terhadap sesama.

 

Di sinilah kita belajar, biar bagaimana pun akhlak tetap di atas ilmu. Pangkat, jabatan atau status sosial hanya titipan. Bukan jaminan untuk bisa bermanfaat untuk orang lain. Itulah pentinganya kekuatan iman, bukan hebatnya pergaulan. Semakin kuat iman dan keyakinan seseorang kepada Allah, semakin tenang hatinya dan semakin tulus perbuatannya. Saat kita berbuat baik dan bermanfaat bukan demi pujian, tapi karena kesadaran. Mengerjakan sesuatu yang kecil tapi bermanfaat. Salam literasi!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar