Mungkin, kita sering melihat orang yang banyak gaya tapi minim manfaat. Bicaranya pandai tapi sulit diandalkan. Pakaiannya mentereng tapi sering manipulatif. Bahkan mengaku hebat padahal sehari-harinya tidak jelas ngapain. Sebaliknya di sekitar kita, ada pula orang yang sederhana. Tidak banyak bicara tapi aktivitasnya selalu bermanfaat untuk bayak orang. Santai tapi selalu hadir saat dibutuhkan.
Seorang pegiat literasi yang mengabdi di taman bacaan, pedagang
kecil yang jujur, seorang guru yang sabar, atau bahkan seorang tetangga yang
suka membantu: bisa jadi mereka tidak terlihat hebat. Tapi keberadaannya sangat
dirasakan. Tetap berbuat di segala keadaan dan selalu mau menebar manfaat
kepada sesama. Itulah contoh nyata dari “saya bermanfaat untukmu”.
Sayangnya hari ini, banyak orang justru sibuk mengejar citra. Merasa
penting mendapat pengakuan dari orang lain walau tidak ada manfaatnya. Ingin
terlihat hebat, ingin dianggap pintar, ingin dipuji banyak orang. Namun lupa
bahwa nilai sejati seseorang bukan pada penampilannya, melainkan pada
dampaknya. Bukan pada omongannya dan kerasnya bicara tapi pada manfaatnya untuk
orang lain.
Maka dalam hidup, jangan pernah mengukur kebahagiaan dari sisi
orang lain. Jangan pula mengukur kesuksesan dari “pintu” orang lain. Sebab, bahagia
out berbeda maknanya bagi orang per orang. Bahagian bukan soal memiliki
segalanya, tapi tentang hidup yang merasa cukup. Tentang bisa tidur dengan hati
tenang karena tidak menyakiti siapa pun. Tentang bisa tersenyum karena tahu
hidupnya memberi arti bagi orang lain.
Seperti mahasiswa yang tekun belajar lebih punya makna. Anak-anak yang
masih mau membaca lebih bermakna daripada anak-anak yang main gawai. Bukan karena
ingin berprestasi di sekolah, bukan sekadar untuk terlihat pintar. Tapi agar
ilmu pengetahuan itu bisa digunakan untuk membantu orang lain. Punya ilmu yang
bermanfaat itu membahagiakan.
Bila hari ini kita ingin memperbaiki hidup, maka tidak perlu bertekad
melakukan hal-hal besar. Lakukan saja hal kecil tapi baik dan bermanfaat. Mulailah
dari dua hal sederhana: jadilah orang yang menyenangkan dan bermanfaat. Tidak
usah banyak mengeluh dan jangan berprasangka buruk pada apapun. Tidak usah
sibuk mengurusi hidup orang lain, apalagi membandingkannya. Insya allah, perlahan
hidup kita akan berubah dengan sendirinya. Menjadi lebih baik dan berkah.
Sungguh, dunia ini sudah disesaki oleh orang yang ingin terlihat
hebat. Penuh dengan orang-orang yang mengejar pengakuan bahkan ingin dipuji. Akhirnya
jadi banyak gaya dan sibuk untuk hal-hal yang tidak manfaat. Kita sering lupa, justru
yang paling dicari saat ini adalah orang yang tidak banyak gaya tapi diam-diam
membuat hidup orang lain terasa lebih mudah. Diam tapi tidak pernah menyakiti
orang lain. Diam tanpa membenci dan prasangka buruk.
Di momen Idul Fitri ini patut direnungkan. Tidak harus menunggu
kaya untuk berbuat baik. Tidak perlu menunggu punya jabatan untuk menebar
manfaat kepada orang lain. Tidak perlu modal besar untuk membenahi hidup. Kita
bisa memulainya dari hal kecil dan sederhana. Caranya bisa dimulai dari hal
kecil: 1) menjaga lisan, 2) memperbaiki sikap, dan 3) peduli terhadap sesama.
Di sinilah kita belajar, biar bagaimana pun akhlak tetap di atas
ilmu. Pangkat, jabatan atau status sosial hanya titipan. Bukan jaminan untuk bisa
bermanfaat untuk orang lain. Itulah pentinganya kekuatan iman, bukan hebatnya
pergaulan. Semakin kuat iman dan keyakinan seseorang kepada Allah, semakin
tenang hatinya dan semakin tulus perbuatannya. Saat kita berbuat baik dan
bermanfaat bukan demi pujian, tapi karena kesadaran. Mengerjakan sesuatu yang
kecil tapi bermanfaat. Salam literasi!
.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar