Ternyata, ukuran kemuliaan seseorang bukan jabatan atau hartanya. Ini hanya menegaskan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari apa yang ia miliki, tetapi dari siapa dirinya sebenarnya. Jabatan dan harta hanyalah atribut luar yang bisa berubah, hilang, atau dipinjamkan oleh keadaan. Sedangkan kemuliaan sejati bersumber dari kualitas batin dan perilaku seseorang.
Jabatan hanya titipan, bukan ukuran nilai manusia. Seseorang bisa
memiliki jabatan tinggi karena kesempatan, kekuasaan, atau sistem. Namun
jabatan tidak otomatis membuat seseorang mulia. Banyak orang berjabatan tinggi
tetapi tidak dihormati karena perilakunya tidak baik. Sebaliknya, ada orang
tanpa jabatan apa pun tetapi dihormati karena kejujuran, kebijaksanaan, dan
kebaikan hatinya. Jabatan memang memberi kekuasaan, tetapi tidak selalu memberi
kemuliaan.
Begitu pula harta, hanya menunjukkan kemampuan memiliki, bukan
kualitas diri. Harta sering dianggap simbol keberhasilan. Namun harta hanya
menunjukkan bahwa seseorang mampu mengumpulkan kekayaan. Ia tidak selalu
mencerminkan kedewasaan, kebijaksanaan, atau kebaikan hati. Orang kaya bisa
saja dermawan dan rendah hati, tetapi bisa juga sombong dan merendahkan orang
lain. Karena itu harta bukan ukuran kemuliaan, melainkan hanya alat yang bisa
digunakan untuk kebaikan atau keburukan.
Jadi, kemuliaan sejati terlihat dari akhlak dan cara memperlakukan
orang lain. Kemuliaan lebih terlihat dari hal-hal seperti:kejujuran, kerendahan
hati, kepedulian pada orang lain, kemampuan menahan diri, dan konsistensi dalam
kebaikan. Orang yang mulia biasanya tetap baik ketika tidak diawasi, tetap
rendah hati ketika dihormati, dan tetap adil ketika memiliki kekuasaan.
Dan pada akhirnya, yang diingat orang bukanlah berapa besar
jabatan atau kekayaan seseorang, tetapi bagaimana ia memperlakukan manusia
lain. Banyak tokoh besar dikenang bukan karena hartanya, tetapi karena
integritas, pemikiran, dan manfaat yang ia tinggalkan.
Jelas sudah, kemuliaan tidak melekat pada status, tetapi pada
karakter. Bukan pada apa yang dimiliki, tetapi pada bagaimana seseorang hidup
dan memperlakukan sesama. Kadang justru terlihat jelas ketika jabatan hilang
dan harta berkurang, kemuliaan sejati tetap tinggal pada diri seseorang.
Ternyata, ukuran kemuliaan seseorang bukan jabatan atau hartanya.
Kata Umar bin Khattab, kemuliaan sejati ada pada tiga hal: akal,
agama, dan akhlak. Selamat berpuasa!

.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar