Raka, mungkin salah satu gambaran anak muda di kota yang hidupnya penuh gaya. Di usia 25 tahun, ia sudah bekerja di perusahaan ternama dengan gaji yang bagi banyak orang tergolong besar. Bujangan, kerja mentereng dan gaji besar, oke banget. Setiap pulang kerja nongkrong di kafe, akhir pekan hunting beli pakaian bermerek, dan sesekali mengganti gadget hanya demi mengikuti tren. Bagi Raka, hidup adalah tentang menikmati hari ini. Soal masa depan, itu urusan nanti.
Teman-temannya di
kantor sering membicarakan soal investasi, dana darurat, bahkan dana pensiun.
Namun Raka selalu menanggapinya dengan tawa ringan. “Ngapain lo masih muda, mikirin
tua ngomongin pensiun?” sergah Raka. Ia merasa waktu masih panjang dan rezeki
akan selalu ada. Baginya, menabung apalagi untuk pensiun adalah tidak mendesak
dan bisa dilakukan nanti saja. “Nikmatin aja hidup selagi muda”, pikir Raka.
Tahun demi
tahun berlalu, gaya hidup Raka tidak banyak berubah. Kenaikan gaji justru
diikuti dengan kenaikan gaya hidup. Ia membeli mobil dengan cicilan panjang,
pindah ke apartemen yang lebih mahal, dan mulai terbiasa dengan liburan ke luar
negeri. Tanpa disadari, penghasilannya habis tanpa sisa. Tiap gajian habis,
bayar ini beli itu. Tidak ada tabungan yang tersisa, apalagi dana pensiun.
Memasuki usia
40-an, kondisi Raka mulai berubah. Perusahaan tempatnya bekerja mengalami
restrukturisasi. Raka yang dulu dianggap aset, kini perlahan tergeser oleh
tenaga kerja yang lebih muda dan lebih murah. Pada akhirnya, ia terkena
pemutusan hubungan kerja. Pesangon yang didapat hanya cukup untuk bertahan
beberapa bulan saja. Akibat tidak mau dan tidak belajar cara mengelola uang dengan
bijak.
Di usia 50-an,
Raka masih harus bekerja serabutan. Ia mencoba berbagai usaha kecil, namun
sering kali gagal karena tidak punya cukup modal dan pengalaman. Tubuhnya pun tidak
lagi sekuat dulu. Sementara teman-teman seusianya mulai menikmati masa pensiun
dengan tenang, Raka justru masih berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari. Gaya
hidup Raka di usia tua, jauh berbeda saat masih muda dan bekerja dengan gaji
besar.
Ketika usia
senja tiba, Raka benar-benar merasakan akibat dari pilihannya di masa muda. Hari-harinya
serba kekurangan. Tidak ada dana pensiun, tidak ada aset yang cukup, bahkan
untuk kebutuhan dasar pun ia harus bergantung pada anaknya. Rasa penyesalan
datang terlambat. Ia sering termenung, mengingat masa mudanya yang dihabiskan
untuk kesenangan sesaat. Kini di usia tua, wajah dan kulit-kulit sekujur tubuh Raka
kian mengerut. Tua yang susah dan merepotkan anak.
Raka menyadari
bahwa bukan gaya hidup yang salah. Tapi ketidakseimbangan dalam mengelola
hidup. Ia dulu punya kesempatan untuk menyiapkan masa depan, namun memilih
mengabaikannya. Ia punya gaji besar tapi tidak mau menyisihkan untuk masa
pensiun. Kini, Raka harus menghadapi kenyataan bahwa masa tua tidak seindah
yang dibayangkan jika tidak dipersiapkan sejak dini. Masa tua tidak dijamin oleh
banyaknya uang di saat muda dan bekerja.
Kisah Raka
menjadi pelajaran bahwa masa muda bukan hanya tentang menikmati hidup. Tapi
juga tentang menyiapkan hari tua, masa pensiun. Karena pada akhirnya, waktu
akan terus berjalan, dan hari tua pasti akan datang: siap atau tidak siap!
Akankah kita
mengalami seperti kisah Raka sang pekerja? Kerja banyak gaya, tua mati gaya. Salam
#YukSiapkanPensiun

Tidak ada komentar:
Posting Komentar