Namanya Arman. Usianya 50 tahun, dan suatu sore ia duduk lama di ruang kerjanya yang mulai terasa asing. Sebuah pengumuman sederhana dari bagian HRD siang itu terus terngiang di kepalanya: lima tahun lagi ia akan memasuki masa pensiun. Awalnya terdengar seperti waktu yang masih panjang. Tapi entah kenapa, kali ini terasa sangat dekat, terlalu dekat untuk seseorang yang belum benar-benar siap untuk pensiun.
Selama lebih
dari dua puluh empat tahun bekerja, Arman selalu merasa hidupnya berjalan
baik-baik saja. Gaji rutin, kenaikan jabatan, bonus tahunan, semuanya cukup
untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ia berhasil menyekolahkan anak-anaknya,
membeli rumah, bahkan sesekali berlibur. Namun, di balik semua itu, ada satu
hal yang tak pernah benar-benar ia pikirkan: bagaimana hidupnya nanti setelah pensiun
yang tinggal 5 tahun lagi? Gimana bila benar-benar tidak punya gaji lagi saat
berhenti bekerja?
Sepulang ke rumah
di malam hari, untuk pertama kalinya Arman mencoba menghitung. Ia membuka
catatan keuangannya, melihat saldo tabungan, dan mencoba memperkirakan
kebutuhan hidup bulanan. Jantungnya berdegup lebih cepat. Tabungan yang ia kira
cukup ternyata hanya bisa menopang hidupnya selama satu atau dua tahun setelah
pensiun. Setelah itu? Ia tidak punya jawaban. Tidak ada punya dana pensiun, tidak
ada investasi jangka panjang yang siap dicairkan saat pensiun. Paling-paling hanya
JHT BPJS yang tidak seberapa dan uang pesangon dari kantornya (bila diberikan).
Arman mulai
membayangkan hari-harinya setelah pensiun. Tidak ada lagi gaji bulanan yang
masuk ke rekening. Tidak ada lagi fasilitas kantor seperti asuransi kesehatan. Sementara
istrinya mulai sakit-sakitan dan butuh biaya yang tidak kecil. Sementara
kebutuhan hidup yang terus berjalan, bahkan anaknya yang bungsu masih SMA dan
butuh biaya untuk kuliah. Semua itu terasa seperti gelombang besar yang
perlahan mendekat, sementara ia berdiri tanpa pelampung.
Rasa bingung
berubah menjadi kecemasan. Arman mulai bertanya-tanya, “Apa yang sudah aku
lakukan selama ini?” Ia merasa telah bekerja keras, tapi kenapa tidak pernah
benar-benar menyiapkan masa depan? Ia menyesal karena dulu sering menunda untuk
siapkan pensiun. Merasa masih ada waktu, merasa penghasilan akan selalu ada.
Kini, waktu yang tersisa justru terasa sempit. Tinggal 5 tahun lagi Arman
pensiun.
Di kantor, ia
mulai memperhatikan rekan-rekannya yang sebaya. Beberapa terlihat tenang,
bahkan antusias menyambut pensiun. Ada yang bercerita tentang usaha kecil yang
sudah dirintis 10 tahun lalu. Ada yang punya DPLK sejak awal bekerja sehingga
dapat menopang masa pensiunnya. Ada pula yang punya investasi di saham sejak
lama dan terus berkembang. Ada pula yang sudah punya rencana menikmati hari tua
dengan lebih santai. Arman hanya bisa tersenyum, menyembunyikan kegelisahan
yang tidak bisa ia ceritakan dengan mudah.
Namun di tengah
kegundahan itu, muncul satu kesadaran penting: lima tahun masih lebih baik
daripada terlambat sama sekali. Ia mulai mencari informasi, belajar tentang dana
pensiun, dan mencoba menyusun langkah kecil yang bisa ia lakukan untuk
mempersiapkan masa pensiunnya sendiri. Di sisa waktu yang ada, Arman berencana jadi
peserta DPLK. Mungkin tidak akan besar manfaatnya, mungkin tidak akan seideal
yang diharapkan, tapi setidaknya ia muali berani menyisihkan sebagian gajinya
untuk hari tua. Arman bertindak nyata dan tidak lagi diam untuk masa pensiunnya.
Malam
berikutnya, Arman menutup buku catatannya dengan perasaan yang sedikit berbeda.
Masih ada takut, masih ada cemas, tapi juga ada tekad. Ia tahu jalan di depan
tidak mudah, tapi ia juga sadar, masa depan tidak akan berubah jika ia terus
menunda untuk punya dana pensiun.
Dan untuk
pertama kalinya, ia benar-benar memikirkan hidupnya di hari tua, Jelang 5 tahun
lagi ia akan pensiun. Mulai menjadi peserta dana pensiun di sisa waktu masa bekerja.
#YukSiapkanPensiun
%20rev.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar