Sabtu, 28 Maret 2026

Bila Sudah Tidak Antusias Bekerja ya Pensiun Aja, Kenapa?

Libur lebaran telah usai, besok Senin (20/3/2026), semua pekerja mulai aktivitas lagi ke kantor. Bekerja, bekerja, dan belerja seperti biasanya. Tapi bukan tidak mungkin, ada pekerja yang sejujurnya sudah tidak antusias dengan pekerjaan. Sehingga datang ke kantor hanya memenuhi rutinitas. Bekerja seperti hari-hari sebelumnya.

 

Banyak pekerja masih aktif datang ke kantor tapi sudah tidak antusias dengan pekerjaannya. Sebabnya, mungkin karena kita merasa di kantor hanya mengerjakan pekerjaan yang tidak penting. Bisa juga karena kita hanya mengerjakan pekerjaan yang “itu-itu lagi” dalam beberapa tahun terakhir. Atau berada di pekerjaan yang sebenarnya dapat dikerjakan oleh karyawan lain yang lebih junior. Tapi yang paling banyak, atas sebab burn out, sudah capek kerja. Lelah mental Lelah fisik.

 

Survei global dari Gallup (2024) menyebut hanya sekitar 20–25% pekerja di dunia yang benar-benar engaged (bersemangat dan terlibat dalam pekerjaan). Artinya, sekitar 75–80% pekerja berada pada kondisi tidak terlibat (disengaged) atau sangat tidak terlibat (actively disengaged). Itu artinya, mayoritas pekerja tidak bekerja dengan semangat optimal. Sekitar 7–8 dari 10 pekerja tidak bekerja dengan semangat penuh.

 

Sudah tidak semangat bekerja. Biasanya terlihat dari motivasi kerja menurun, produktivitas rendah, tidak antusias terhadap pekerjaan atau bekerja hanya “sekadar memenuhi kewajiban. Akhirnya, bekerja tidak lagi sebagai bagian aktualisasi diri atau berkontribusi atas keahlian. Tapi hanya sekadar kewajiban rutin. Dan pikiran mulai bergeser pada pertanyaan: “Setelah ini mau apa?”

 

Sayangnya di Indonesia, 9 dari 10 pekerja sama sekali tidak siap berhenti bekerja apalagi pensiun (HSBC, 2019). Akibat tidak tersedianya dana yang cukup untukmemenuhi kebutuhan hidup bila tidak bekerja lagi alias menganggur. Seperti “buah simalakama”, tetap datang ke kantor meskipun sudah tidak antusias terhadap pekerjaan tapi mau resign atau pensiun pun tidak siap. Begitulah kondisi psikologis banyak pekerja hari ini.

 


Sederhana saja sih. Bila sudah tidak antusias dengan pekerjaan tapi masih aktif datang ke kantor. Itu tanda-tanda kita sudah pengen berhenti bekerja alias pensiun. Tapi karena tidak punya persiapan pensiun (tidak punya dana pensiun) akhirnya tetap aktif datang ke kantor. Padahal, hati dan pikiran sudah tidak lagi “pengen ngantor”. Sebuah kondisi psikologis pekerja yang tidak disadari. Seseorang mungkin tetap datang ke kantor setiap hari, tetapi bekerja tanpa energi dan motivasi seperti sebelumnya. Pekerjaan sudah tidak lagi memberikan rasa aman. Eaktu produktif makin terbatas tapi persiapan keuangan belum optimal. Akibatnya, muncul rasa cemas yang menggerus antusiasme dalam bekerja.

 

Memang sulit sih, bila pekerja sudah berada di titik kejenuhan karier (career plateau) dan tidak lagi semangat bekerja. Tapi harus berhadapan dengan ketidakpastian finansial akibat tidak siap pensiun atau berhenti bekerja. Berada di posisi yang “serba tanggung”, belum siap berhenti bekerja tapi juga tidak lagi memiliki dorongan kuat untuk berkembang dan produktif di kantor. Bila sudah begitu, mau gimana lagi dong?

 

Maka penting bagi pekerja untuk melakukan evaluasi diri dan bersikap serius tentang perencanaan masa pensiun. Jangan sampai kerja bertahun-tahun tapi tidak mau mempersiapkan “masa pensiun”. Cepat atau lambat, siapapun akan pensiun. Jangan sampai gaji bulanan dipakai hanya untuk menutupin biaya hidup atau gaya hidup. Tapi tidak mau menyisihkan 10% - 15% gaji untuk dana pensiun. Kenapa dan alasan apalagi yang harus dibuat? Bila akhirnya sudah tidak antusias dengan pekerjaan tapi tetap datang ke kantor.

 

Bila dicermati, di stulah pentingnya dana pensiun seperti DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Sebagai jaminan kesinambungan penghasilan saat tida bekerja lagi atau pensiun. Sebagai sumber penghasilan alternatif untuk menjaga standar hidup dan kemandirian finansial. Agar tidak bergantung secar ekonomi kepada orang lain. Punya dana pensiun itu bukan untuk kaya. Tapi untuk memastikan punya uang” bila berhenti bekerja, pensiun atau kondisi darurat terkait pekerjaan seperti di-PHK.

 

 

Di mata pekerja yang punya dana pensiun, mereka merasa lebih tenang punya dana pensiun. Bukan karena merasa kaya atau punya uang banyak. Tapi tidak khawatir bila situasi terburuk terjadi misal resign atau PHK. Sebab ada kepastian dana di saat tidak bekerja lagi. Maka dana pensiun bukan soal “nilai manfaatnya” tapi lebih ke “nilai psikologisnya”. Agar tetap semangat dan antusias untuk mencari alternatif “pekerjaan baru” yang lebih sesuai dengan passion. Masih dapat gaji bulanan masih aktif datang ke kantor tapi tidak antusias pada pekerjaan, kenapa tidak mau pensiun?

 

 

Jadi, bila pekerja masih aktif datang ke kantor tapi sudah tidak antusias dengan pekerjaannya itu tanda kita lebih baik pensiun. Alias berhenti dari pekerjaan yang sudah tidak lagi memotivasi. Bila masih aktif datang ke kantor, bisa jadi karena atasan segan untuk memecat atau perusahaan tidak mau bayar uang pesangon. Begitulah kira-kira.

 

Maka, siapkan masa pensiun sejak dini. Nabung di DPLK biar tetap punya uang saat pensiun atau saat berhenti bekerja. #YukSiapkanPensiun

Tidak ada komentar:

Posting Komentar