Libur lebaran telah usai, besok Senin (20/3/2026), semua pekerja mulai aktivitas lagi ke kantor. Bekerja, bekerja, dan belerja seperti biasanya. Tapi bukan tidak mungkin, ada pekerja yang sejujurnya sudah tidak antusias dengan pekerjaan. Sehingga datang ke kantor hanya memenuhi rutinitas. Bekerja seperti hari-hari sebelumnya.
Banyak pekerja
masih aktif datang ke kantor tapi sudah tidak antusias dengan pekerjaannya. Sebabnya,
mungkin karena kita merasa di kantor hanya mengerjakan pekerjaan yang tidak
penting. Bisa juga karena kita hanya mengerjakan pekerjaan yang “itu-itu lagi”
dalam beberapa tahun terakhir. Atau berada di pekerjaan yang sebenarnya dapat
dikerjakan oleh karyawan lain yang lebih junior. Tapi yang paling banyak, atas
sebab burn out, sudah capek kerja. Lelah mental Lelah fisik.
Survei global dari
Gallup (2024) menyebut hanya sekitar 20–25% pekerja di dunia yang benar-benar
engaged (bersemangat dan terlibat dalam pekerjaan). Artinya, sekitar 75–80%
pekerja berada pada kondisi tidak terlibat (disengaged) atau sangat tidak
terlibat (actively disengaged). Itu artinya, mayoritas pekerja tidak bekerja
dengan semangat optimal. Sekitar 7–8 dari 10 pekerja tidak bekerja dengan
semangat penuh.
Sudah tidak
semangat bekerja. Biasanya terlihat dari motivasi kerja menurun, produktivitas
rendah, tidak antusias terhadap pekerjaan atau bekerja hanya “sekadar memenuhi
kewajiban. Akhirnya, bekerja tidak lagi sebagai bagian aktualisasi diri atau
berkontribusi atas keahlian. Tapi hanya sekadar kewajiban rutin. Dan pikiran
mulai bergeser pada pertanyaan: “Setelah ini mau apa?”
Sayangnya di
Indonesia, 9 dari 10 pekerja sama sekali tidak siap berhenti bekerja apalagi
pensiun (HSBC, 2019). Akibat tidak tersedianya dana yang cukup untukmemenuhi
kebutuhan hidup bila tidak bekerja lagi alias menganggur. Seperti “buah
simalakama”, tetap datang ke kantor meskipun sudah tidak antusias terhadap
pekerjaan tapi mau resign atau pensiun pun tidak siap. Begitulah kondisi
psikologis banyak pekerja hari ini.
Sederhana saja
sih. Bila sudah tidak antusias dengan pekerjaan tapi masih aktif datang ke
kantor. Itu tanda-tanda kita sudah pengen berhenti bekerja alias pensiun. Tapi
karena tidak punya persiapan pensiun (tidak punya dana pensiun) akhirnya tetap aktif
datang ke kantor. Padahal, hati dan pikiran sudah tidak lagi “pengen ngantor”.
Sebuah kondisi psikologis pekerja yang tidak disadari. Seseorang mungkin tetap
datang ke kantor setiap hari, tetapi bekerja tanpa energi dan motivasi seperti
sebelumnya. Pekerjaan sudah tidak lagi memberikan rasa aman. Eaktu produktif makin
terbatas tapi persiapan keuangan belum optimal. Akibatnya, muncul rasa cemas
yang menggerus antusiasme dalam bekerja.
Memang sulit
sih, bila pekerja sudah berada di titik kejenuhan karier (career plateau) dan
tidak lagi semangat bekerja. Tapi harus berhadapan dengan ketidakpastian
finansial akibat tidak siap pensiun atau berhenti bekerja. Berada di posisi
yang “serba tanggung”, belum siap berhenti bekerja tapi juga tidak lagi
memiliki dorongan kuat untuk berkembang dan produktif di kantor. Bila sudah begitu,
mau gimana lagi dong?
Maka penting
bagi pekerja untuk melakukan evaluasi diri dan bersikap serius tentang
perencanaan masa pensiun. Jangan sampai kerja bertahun-tahun tapi tidak mau
mempersiapkan “masa pensiun”. Cepat atau lambat, siapapun akan pensiun. Jangan
sampai gaji bulanan dipakai hanya untuk menutupin biaya hidup atau gaya hidup.
Tapi tidak mau menyisihkan 10% - 15% gaji untuk dana pensiun. Kenapa dan alasan
apalagi yang harus dibuat? Bila akhirnya sudah tidak antusias dengan pekerjaan
tapi tetap datang ke kantor.
Bila dicermati,
di stulah pentingnya dana pensiun seperti DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan).
Sebagai jaminan kesinambungan penghasilan saat tida bekerja lagi atau pensiun.
Sebagai sumber penghasilan alternatif untuk menjaga standar hidup dan
kemandirian finansial. Agar tidak bergantung secar ekonomi kepada orang lain. Punya
dana pensiun itu bukan untuk kaya. Tapi untuk memastikan punya uang” bila
berhenti bekerja, pensiun atau kondisi darurat terkait pekerjaan seperti
di-PHK.
Di mata pekerja
yang punya dana pensiun, mereka merasa lebih tenang punya dana pensiun. Bukan karena
merasa kaya atau punya uang banyak. Tapi tidak khawatir bila situasi terburuk
terjadi misal resign atau PHK. Sebab ada kepastian dana di saat tidak bekerja
lagi. Maka dana pensiun bukan soal “nilai manfaatnya” tapi lebih ke “nilai
psikologisnya”. Agar tetap semangat dan antusias untuk mencari alternatif “pekerjaan
baru” yang lebih sesuai dengan passion. Masih dapat gaji bulanan masih aktif datang
ke kantor tapi tidak antusias pada pekerjaan, kenapa tidak mau pensiun?
Jadi, bila pekerja
masih aktif datang ke kantor tapi sudah tidak antusias dengan pekerjaannya itu
tanda kita lebih baik pensiun. Alias berhenti dari pekerjaan yang sudah tidak
lagi memotivasi. Bila masih aktif datang ke kantor, bisa jadi karena atasan
segan untuk memecat atau perusahaan tidak mau bayar uang pesangon. Begitulah kira-kira.
Maka, siapkan
masa pensiun sejak dini. Nabung di DPLK biar tetap punya uang saat pensiun atau
saat berhenti bekerja. #YukSiapkanPensiun

Tidak ada komentar:
Posting Komentar