Ada ungkapan “tidak semua tanah siap menerima benih”. Mungkin itu hanya metafora biasa tapi punya makna yang dalam. Akan pentingnya hati dan pikiran untuk terus bertumpuh, untuk bersedia memperbaiki diri seperti di momen bulan puasa ini.
Bila tanah sebagai representasi hati dan pikiran. Maka tanah
melambangkan kesiapan mental, kematangan emosi, dan keterbukaan pikiran. Bahkan
lebih dari itu, menjadi simbol kerendahan hati untuk belajar. Kesediaan pikiran
untuk membaca. Akan tetapi, bila hati dan pikiran tertutup dan merasa sudah
tahu segalanya, maka membaca hanya untuk membantah. Di situlah, sebaik apa pun
“benih” (ilmu), akan sulit tumbuh di “tanah” (hati dan pikiran) yang sempit.
Benih adalah ilmu atau bacaan. Buku yang sama bisa mengubah hidup
seseorang atau tidak memberi dampak apa-apa pada yang membacanya. Bukan karena isinya
berbeda, bukan pula karena pemahamannya. Tapi karena “tanahnya” yang berbeda.
Hati dan pikirannya yang tidak sama.
Karenanya membaca itu bukan sekadar melihat teks. Agar “benih” tumbuh, maka
“tanah” perlu digemburkan (refleksi diri), disirami (diskusi, perenungan), dan dibersihkan
dari gulma (prasangka, ego). Begitu juga membaca perlu niat yang benar, perlu
kesediaan untuk berubah, dan perlu waktu untuk mencerna.
Begitulah yang dilakukan anak-anak TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak
Bogor. Selama bulan puasa menggelar “Ngabubu-Read Ramadhan Ceria” sebagai
bagian untuk menyirami “tanah” dengan akhlak dan karakter yang baik. Senbulan
penuh bertekad melakukan khataman al Quran secara “keroyokan” setiap Minggu. Mengubah
bacaan buku umum ke Al Quran, untuk merampungkan khataman secara bersama-sama.
Tentu, untuk menggaai berkah bulan suci Ramadhan.
Dalam Al-Qur’an sering disebut bahwa ada orang yang mendengar, tapi
tidak memahami. Ada yang melihat tapi tidak menangkap makna. Jadi bukti, lmu
bukan hanya soal informasi tapi soal kesiapan batin menerima kebenaran.
Karenanya, tidak semua orang siap menerima gagasan baru, meskipun bahasanya
jelas, argumennya kuat, dan sumbernya terpercaya. Karena membaca yang sejati
bukan sekadar aktivitas mata, melainkan proses menumbuhkan kesadaran.
Dan faktanya, memang tidak semua tanah siap menerima benih Salam
literasi!


_cropped_processed_by_imagy.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar