Ini menarik nih
buat diceritakan. Saya punya kawan, keren banget. Gajinya gede, sekitar 3 kali
lipat saya. Kawan saya biasa makan siang di tempat yang saya cuma bisa lihat
dari luar. Mobilnya baru. Jabatannya mentereng di LinkedIn. Tapi tiap kali kita
ngobrol, matanya nggak pernah kawan saya jarangtenang.
Awalnya saya iri.
Atas kesuksesan kawan ini. Wajar kan, sebab kita semua pernah lihat orang
"sukses" dan otomatis menghitung “apa kekurangan kita?”. Kok kita
nggak bisa seberuntung kawan yang sukses, kira-kira begitu.
Tapi lama-lama,
saya justru mulai menangkap hal lain dari kawan yang sukses ini. Dia nggak
pernah cerita soal hal-hal yang bikin dia senang saat bekerja. Dia cuma cerita
soal hal-hal yang bikin dia bertahan. Dia sering cerita strategi untuk bertahan
di posisinya, bukan hal yang menyenangkan dari pekerjaannya.
Satu malam, dia chat
saya via WA. Bukan darurat, tapi dia cerita nggak bisa tidur. Katanya sudah 4
bulan ini kayak gitu. Tidur Cuma 3-4 jam, bangun dengan jantung berdegup,
langsung cek email. Atau nge-cek kerjaan yang masuk lewat WA. Susah tidur
tapi “dihantui” pekerjaan, berat juga ya dalam hati saya.
Saya akhirnya bertanya,
"Elo kerja Cuma buat bertahan? Terus pernah kepikir untuk resign nggak?"
Dia diam lama dan
belum jawab chat di WA. Lalu, menjawab dengan "Kepikir sih, tapi gue udah
di level ini. Kalau gue turun, orang bakal mengira gue gagal."
Yah, saya nggak jawab
apa-apa. Karena saya tahu itu bukan alasan yang pas. Itu hanya ketakutan yang “dikasih”
baju logika. Dan saya sangat memhami ketakutan kawan saya itu.
Bukan soal
gajinya. Tapi soal title-nya. Soal persepsi orang. Soal identitas yang sudah
terlanjur dibangun dari jabatan. Memang, jabatan itu suka bikin pemiliknya
ketakutan. Takut hilang jabatannya, Sebab ketika jabatan itu pergi, “yah
siapalah kita sebenarnya?”
Punya jabatan
jadi susah tidur, jantung selalu berdegup soal kerjaan. Terladang saya suka mikir
keras soal ini. Kawan saya lelah pikirannya. Waktu yang dia habiskan untuk
recover dari burnout gara-gara jabatan. Dan nggak sadar kondisi begitu nggak
bisa dibeli balik. Saraf yang sudah terlalu sering terbakar juga kan ada
batasnya. Gaji boleh besar. Tapi “tagihan” kesehatan mental yang datang
belakangan juga jauh lebih besar. Maka pantas, banyak orang kerja mungkin mentalnya
agak sakit tapi jaran disadari.
Jujur sih saya nggak
bilang gaji kecil itu mulia. Saya juga nggak mau me-romantisasi tidak cukupnya
gaji untuk biaya hidup. Karena kondisi itu fakta di lapangan. Ada yang gaji
gede ada yang gaji kecil tapi kesehatan mental kerja sering diabaikan.
Tapi jelas dari
obrolan dengan kawan tadi. Ada jarak yang gede antara "gaji cukup dan
tenang" dengan "gaji besar tapi selalu di ujung jurang." Dan
banyak orang kerja milih yang kedua. Bukan karena itu lebih baik. Tapi karena
takut dilihat mundur, takut kehilangan jabatan.
Dan setelah enam
bulan kemudian, apa yang terjadi? Kawan saya akhirnya keluar dari tempat
kerjanya itu. Dan bekerja lagi di kantor lain. Gajinya turun hampir separuh.
Jabatannya nggak sekeren dulu. Tapi waktu saya ketemu dia minggu lalu, untuk
pertama kalinya setelah bertahun-tahun. Kawan saya bisa tertawa beneran, kelihatan
lebih happy di kerjaan yang sekarang.
Dan saya pun
tanya ke dia, “’elo sudah punya dana pensiun belum? Buat hari tua, takutnya elo
berhenti kerja mendadak?” Jangan sampai kerja puluhan tahun punya gaji tapi
nggak mau siapin masa pensiun sendiri. Seperti orang yang aktif kerja, masa
pensiun juga butuh “ketenangan” dan itu mahal harganya. #YukSiapkanPensiun
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar