Pernah lihat organisasi yang strukturnya rapi dan lengkap. Tapi hasilnya nggak ada, kerjanya nggak jelas. Kata ketuanya waktu terpilih, mau begini, mau begitu. Tapi saat dievaluasi, seperti apa? Organisasi jalan sendiri, anggotanya banyak nggak paham. Kok bisa?
Organisasi itu bukan hanya mengajarkan cara kerja, tapi cara
menjaga satu sama lain. Organisasi itu nggak bisa dijalankan dengan kekuasaan. Tapi
harus kebersamaan. Apalagi organsasi nirlaba, susah cari orang yang peduli dan
punya kapasitas. Henry Mintzberg (1973) sudah bilang, ”Organisasi out bukan
sekadar struktur kerja. Tapi sistem sosial yang hidup dan saling memengaruhi”.
Di dalam organsiasi, relasi antar manusia sering kali jauh lebih menentukan
daripada sekadar bagan jabatan atau struktur organsisasi itu sendiri. Keputusan
bukan hanya lahir dari prosedur tapi juga kepercayaan. Kinerja bukan hanya
dibentuk oleh target. Tapi oleh kerja sama dan sikap saling menghargai.
Organisasi itu hidup karena manusianya. Bukan karena stuktur atau
lamanya organisasi itu berdiri. Ketika yang satu lelah, yang lain menopang. Ketika
yang satu sibuk, yang lain mengerjakan. Ketika yang satu salah, yang satu
memperbaiki. Ketika yang satu tumbuh, seluruh sistem dan orang di organisasi
ikut bergerak.
Itulah sebabnya, organisasi nggak pernah benar-benar netral. Ia
bisa tumbuh bisa hancur, organsiasi bisa sehat bisa sakit. Oragnsiasi bisa jadi
ruang belajar bersama atau ruang yang melelahkan. Bisa menumbuhkan
kepemimpinan, bisa pula mematikan kepedulian.
Dan pada akhirnya, organisasi yang sehat bukan yang paling rapi
struturnya apalagi paling hebat omongannya. Melainkan yang paling mampu menjaga
manusianya tetap utuh, sebagai pekerja, sebagai kawan, dan sebagai sesama
manusia. Ada sikap saling menghormati, saling menghargai.
Tapi kalau organisasi dipimpin oleh orang yang arogan dan sangat
subjektif, maka orang-orang yang peduli pun akan pergi, bahkan anggotanya
berubah jadi apatis. Lebih banyak diam daripada aktif. Organisasinya ada,
struktur rapi tapi realitasnya sepi asilnya nggak ada. Komunikasi cuma searah,
tidak ada lagi ruang diskusi. Organisasi jadi sebatas label, sebatas
formalitas.
Coba deh dicek, apa yang sudah dikerjakan organisasi yang kita ikuti?
Lihat visi dan misinya lagi, mau ke mana dan seperti apa? Bila organisasi kita mengalami
“stuck” seperti jalan di tempat, hati-hati dan perbaikilah. Jangan dibiarkan,
kasihan organisasinya. Sebab organisasi yang hancur, sering kali karena salah
pilih orang.
Ketahuilah, organisasi itu ruang belajar bersama. Di sana kita
belajar memahami orang lain, bekerja dengan empati, dan saling menjaga dalam
setiap prosesnya. Nilai kemanusiaan menjadi dasar setiap Langkah organisasi
apapun. Karena keberhasilan sejati lahir dari kerja yang disertai kepedulian
antar sesama, bukan dari arogansi dan subjektivitas manusia!
_cropped_processed_by_imagy_cropped_processed_by_imagy.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar