Jangan memaksa siapapun untuk memeluk jiwamu, adalah pesan reflektif tentang hubungan, penerimaan, dan kedewasaan emosional yang ada di TBM Lentera Pustaka. Jangan memaksa anak untuk membaca tapi cukup biarkan bila sudah mau datang ke taman bacaan. Asal di taman bacaan, boleh membaca boleh main atau hanya sekadar ngobrol dengan teman sebaya.
Apapun, bila dipaksa pasti melahirkan kekecewaan. Begitu pula
cinta, jangan dipaksa. Sebab cinta tidak lahir dan bekerja dari logika
penaklukan. Ia tidak mengenal strategi, tekanan, atau kemenangan. Sebab apapun
yang dipaksa mungkin akan bertahan tapi tidak pernah benar-benar hadir. Hanya
kamuflase dan menunggu waktu untuk bebas.
Seperti agama pun tidak pernah memaksa umatnya. Ia tidak bisa
diwariskan dengan tangan yang menggenggam terlalu erat. Tidak mengekang apalagi
menghakimi. Hanya jiwa-jiwa yang sadar yang ikhlas menjalankannya. Apa yang
lahir dari paksaan hanya akan menjadi rutinitas tanpa makna.
Kedekatan emosional harus lahir secara alami. Tumbuh dari
ketulusan, bukan tuntutan. Jika seseorang benar-benar peduli, ia akan hadir
tanpa diminta. Hargai batas emosional orang lain. Sebab, setiap orang punya
kapasitas empati yang berbeda. Memaksa orang “memeluk jiwa” kita berarti
melanggar batas yang mungkin belum siap dilakukannya. Daripada memaksa, lebih
baik kita belajar mencukupi diri sendiri secara emosional.
Karenanya, jangan menggantungkan kenyamanan dan urusan batin pada
orang lain. Ketenangan sejati hanya lahir saat kita berdamai dengan diri
sendiri. Orang yang tepat akan datang tanpa dipaksa. Dalam hidup, akan ada
sedikit orang yang mampu menerima kita apa adanya. Dan untuk itu, mereka tidak
perlu diyakinkan, karena akan hadir dengan sendirinya.
Kata orang tua dulu, mencintai bukan soal memiliki. Melainkan
memberi ruang agar yang lain tetap menjadi dirinya. Karena hanya dalam
kebebasan, cinta dan iman menemukan kejujurannya. Jangan memohon pengertian,
jangan menuntut kehadiran. Siapa yang mampu memeluk jiwamu, akan melakukannya
dengan sukarela. Begitu pula, siapa yang mau ke taman bacaan maka ia akan
melangkah dengan sepenuh hati. Salam literasi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar