Rabu, 31 Desember 2025

Catatan Literasi Tahun Baru 2026, Kita Mau Apa?

Selain membawa lembaran baru, tahun 2026 disikapi dengan semangat baru. Bukan hanya memperbanyak harapan baru. Karenanya, kita memulai langkah pertama dengan menyebut nama Allah. Dengan doa sederhana yang tulus, berharap 365 hari ke depan selalu diisi dengan perbuatan baik, bermanfaat dan berkah.

 

Bismillah, begitulah kata yang pantas untuk mengawali perjalanan tahun 2026 ini. Sebab lisann kita adalah awal dari nasib kita esok. Dan setiap kata yang kita ucapkan punya  kekuatan besar dalam membentuk hidup di masa mendatang. Ucapan memiliki kekuatan yang luar biasa, karena memengaruhi perasaan, tindakan, dan pada akhirnya kenyataan yang kita dapatkan.

 

Lisan yang positif sudah pasti baik, dan mampu membangkitkan harapan. Sementara kata-kata negatif akan membawa beban dan kesulitan. Ketika kita melukai orang lain dengan perkataan, sejatinya kita sedang melukai diri kita sendiri. Begitu pula saat kita merusak harga diri orang lain, kita juga sedang merusak nilai diri kita.

 

Jangan lupa, dunia ini dipenuhi dengan hukum tabur tuai. Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai. Jika kita menabur kebaikan dengan kata-kata bahkan perbuatan, maka kebaikan pula yang akan kembali kepada kita. Oleh karenanya, jagalah lisan kita dari perkataan buruk, niscaya hidup kita akan terhindar dari hal-hal yang buruk.

 

Terkenang 9 tahun lalu, momen 1 Januari 2017 di Masjid Nabawi Madinah, saya berpesan kepada istri dan anak-anak untuk menjaga lisan. Selain simbol akhlak, lisan juga menjadi refleksi dari pikiran dan hati kita. Berusahalah untuk menjadi lisan di mana pun. Sebab saat kita berbicara dengan cinta, kebaikan, dan ketulusan, Insya Allah kehidupan kita akan terjaga dalam kesehatan, kedamaian, dan keberkahan. Sesederhana itu saja.

 


Siapapun tidak harus sempurna, bahkan tidak perlu menyenangkan semua orang. Banyak orang ingin terlihat baik dan sempurna, akhirnya stress sendiri dan memikul beban yang seharusnya tidak perlu. Di titik ini, kita harus sadar sebagai manusia biasa. Pasti punya salah, khilaf, bahkan lalai. Tapi ada hal penting: untuk selalu memperbaiki diri dan ikhtiar yang baik, termasuk menjaga lisan. Selebihnya serahkan kepada Allah SWT.

 

Tidak semua hal harus dibenahi, nggak semua hal harus dibereskan. Cukup proporsional saja, dan ambil tanggung jawab kita sendiri. Posisikan diri sesuai peran, bukan untuk memenuhi ekspektasi orang lain. Penuhi saja yang diperintah Allah, jauhi yang tidak relevan. Manusia tidak suruh untuk sempurna tapi harus seimbang. Dunia akhirat, lahir batin, jasmani rohani, semuanya harus seimbang. Kita tidak disuruh menanggung segalanya. Tapi kerjakan yang seharusnya. Agar tidak kehilangan keseimbangan.

 

Di tahun baru 2026, cukup kita menjaga lisan, sebagai cerminan hati dan pikiran kita. Jika ingin hasil yang berbeda di tahun ini, maka ubahlah cara bicara dan pikiran kita! Mulailah dari diri sendiri, memulai tahun dengan ikhtiar dan doa yang baik. Agar hidup lebih tenang, tidak berisik, dan fokus memperbaiki diri untuk menebar manfaat kepada sesama.

 

Jadi tahun baru mau apa? Nggak usah banyak, cukup selalu mau memperbaiki diri. Selama ada niat, usaha, doa, dan kesungguhan hati, langkah kita pasti mudah dan berkah. Insya Allah bisa!

Target Tahun Baru, Memutus Lingkungan Toxic

Ada yang tanya, punya rencana apa di tahun 2026 nanti? Jawabnya sederhana, Insya Allah tahun depan lebih selektif pilih pergaulan. Memutus orang dan lingkungan yang toxic. Agar terhindar dari keluh-kesah, menjauh dari tradisi ngomongin orang tanpa memberi solusi. Jadi, tahun 2026 tidak usah muluk-muluk, cukup “perkecil saja circle yang buruk” dan lebih fokus pada aktivitas yang baik dan bermanfaat.

 

Memutus orang-orang toxic memang butuh keberanian dan sikap tegas. Ibarat mau menghapus 5GB sampah dari HP. Awalnya ragu, takut kehilangan, tapi setelahnya ringan dan lega. Orang toxic juga sama, sering menguras energi tanpa kita sadari: lewat drama, tuntutan, atau menyalahkan orang lain. Fokusnya di masalah bukan di solusi. Karenanya, menjaduh dari lingkungan toxic terbukti dapat menurunkan stres dan meningkatkan kejelasan pikiran-tindakan. Melepaskan teman yang toxic, bukan berarti kejam tapi bentuk perlindungan diri.

 


Terkadang, hidup itu jadi berat bukan karena masalah besar. Justru lahirnya dari hal sepele seperti teman yang toxic. Akibatnya, menguras pikiran dan energi. Kelihatan biasa saja, bahkan sering dianggap wajar. Memang begitu orang-orang toxic, cara kerjanya halus tapi membuat kita rusak. Seperti kebocoran kecil di atap rumah kan tidak langsung bikin bangunan roboh tapi pelan-pelan merusak. Saat disadari, tenaga sudah habis, waktu sudah terlanjur lewat. Di sinilah pentingnya memutus lingkungan toxic.

 

Jadi, bisa memutus orang toxic di tahun depan bisa dibilang prestasi. Daripada lelah sendiri, lebih baik putuskan pergaulan negatif dan tidakada manfaatnya. Dengarkan kata hati diri sendiri saja, karena hidup yang lebih ringan sering dimulai dari berani jujur pada hal-hal sepele. Salam literasi!

 

Selasa, 30 Desember 2025

Orang Kantoran Suka Sok Tahu

Nggak tahu kenapa, orang kantoran banyak yang sok tahu. Terlalu gampang nge-judge orang, doyan menghakimi orang lain. Katanya orang kantoran profesional, katanya pendidikannya tinggi. Ternyata, otak nya nggak sesuai dengan tempat kerjanya. Akhlak-nya nggak sebanding dengan pekerjaannya. Sok tahu memang orang kantoran, seolah semua yang ada di pikirannya selalu benar. Kasihan juga ya orang kantoran.

 

Kita sering lihat bahkan alami sendiri. Orang kantoran, terlalu gampang menilai orang. Tanpa sadar tanpa konteks, sering memvonis orang lain.

 

Ada orang lain pulangnya on time, cepat waktu. Dibilang nggak loyal, sok sibuk di rumah. Padahal temannya pulang cepat karena malamnya mau narik ojol lagi demi bantu ekonomi orang tuanya.

 

Ada teman ke kantor, bajunya sederhana dan itu-itu lagi. Dibilang nggak punya uang, nggak niat kerja. Malu sama kantor, katanya. Padahal dia lagi nabung untuk ngajak anak istrinya rekreasi akhir tahun.

 

Tentu masih banyak lagi. Nggak ikut nongkrong, dibilang sombong. Nggak suka ngimpul, dibilang penyendiri. Bahkan bisa jajan mahal juga dibilang kaya lo!

 

Kira-kira begitulah orang kantoran. Setting-nya jelas di kantor. Kalau pekerjaan sih relatif, kadang berat kadang enteng. Tapi masalahnya, orang kantoran itu ternyata terlalu gampang ber-asumdi, mudah berprasangka sehingga gampang nge-judge orang lain. Orang kantoran sering kehilangan konteks, nggak jelas yang dibahas. Banyak orang kantoran lupa, mereka itu nggak tahu banyak ceriat di balik hidup orang lain. Itulah sebab orang kantoran jadi sok tahu. Terlalu gampang menilai orang lain!

 

Emang apa sih yang diketahui orang kantoran? Kecuali jam datang, jam pulang, jam makan siang, cara bekerja, cara bicara, dan cara berpakaian. Terus apa lagi yang ditahu orang kantoran tentang temannya sendiri? Nggak ada, dan nggak peduli juga kan.

 

Yang jelas, orang kantoran nggak pernah tahu. Tentang tanggung jawab temannya di rumah, perjuangan temannya setelah jam kerja. Kondisi ekonominya seperti apa? Bahkan beban pikiran dan mental temannya sendiri pun, orang kantoran nggak pernah tahu. Jadi sederhananya saja, orang kantoran nggak usah sok tahu. Memangnya kita siapa? Ngasih makan nggak, nyekolahin nggak. Tapi giliran ngomong, seenak udelnya aja. Sok tahu orang kantoran.

 


Mungkin, orang kantoran banyak yang nggak tahu. Banyak orang resign atau mengundurkan diri dari kantornya bukan karena soal kinerja, bukan karena pekerjaannya berat. Tapi karena lingkungan kantornya toxic, karena teman kerjanya racun. Ego dan prasangka sering membabi buta. Ehh, pas dikasih tahu yang benar malah ngeyel. Tidak sedikit loh orang kantoran yang aroran dan subjektig banget.

 

Pesannya sederhana. Kalau kerjanya di tempat keren, kantornya mentereng, apalagi posisinya oke. Orang kantoran nggak usah sok tahu. Jangan banyak komentar tentang teman kerja atau orang lain. Berhenti gosip, apalagi gibah. Nggak usah menyangka orang lain, beginilah begitulah. Orang kantoran nggak usah banyak omon, fokus saja ke hasil kerja!

Oarang profesional itu bukan yang paling gampang menilai orang lain. Profesional itu bukan orang yang tahu sedikit tapi omong banyak. Profesional itu bukan orang yang dikasih jabatan sekarang tapi kerjanya menyalahkan masa lalu. Justru profesional itu yang tetap hormat walau tidak tahu banyak. Tetap saling menghargai meski tidak tahu cerita lengkapnya.

Ingat ya orang kantoran. Kita semua datang ke kantor dengan alasan yang berbeda. Motif kerjanya pun beda-beda. Tapi ada satu hal sama, bahwa semuanya yang di kantor sedang berjuang untuk dirinya sendiri dan orang-orang tercintanya di rumah. Lagi berjuang untuk hidupnya masing-masing, bukan untuk menilai orang lain. Masih sama-sama kerja saja banyak omong dan sok tahu, apalagi jadi pengusaha?


Jadi buat orang kantoran, nggak usah sok tahu nggak usah menghakimi orang lain. Karena kita nggak tahu hidup orang lain, nggak pernah tahu kondisi teman kerja kita sendiri. Bantu nggak nolong nggak tapi banyak omong, apa itu namanya?

Latih Skill Menulis Berita, Mahasiswa Unindra Luncurkan 2 Buku Liputan Jurnalistik

Sebagai upaya mengungkap realitas daya beli masyarakat dan perilaku belanja online dan menutup tahun 2025, mahasiswa semester VII PBSI FBS Universitas Indraprasta PGRI meluncurkan 2 buku sekaligus “Anatomi Belanja Online; Dari Klik Ke Keranjang” dan “Uangku Hilang Entah Ke Mana?” di Jakarta (30/12/2025). Kedua buku ini merupakan antologi liputan jurnalistik yang ditulis bersama 139 mahasiswa peserta kuliah Jurnalistik yang diampu Dr. Syarifudin Yunus, M.Pd. Selain meliput, mahasiswa mewawancari, menulis, dan mempublikasikannya dalam format berita.

 

"Kedua buku karya mahasiswa Unindra ini jadi kado akhir tahun untuk generasi muda. Akan pentingnya mengungkap realitas sosial dan meningkatkan kemampuan meliput dan menulis berita. Agar bisa jadi informasi yang bermanfaat untuk masyarakat. Buku ini jadi bukti mahasiswa mengenal cara kerja jurnalistik, di samping mampu menulis dan menerbitkannya. Ada berita menarik di dalam buku ini” ujar Dr. Syarifudin Yunus, M.Pd. , dosen pengampu Jurnalistik Unindra didampingi Agung, Sayadi, Akbar, Abid, dan Nata saat peluncuran buku kemarin.

 

Buku “Anatomi Belanja Online” mengungkap tentang perilaku belanja online masyarakat Indonesia. Ternyata, 80% konsumen di Indonesia lebih memilih berbelanja online dibandingkan offline. Akan tetapi, 70% pembelanja online merasa menyesal setelah membeli. Anehnya lagi, 80% konsumen mampu bertransaksi online 3-4 kali sebulan. Atas sebab itu, 75% masyarakat mengalami peningkatan frekuensi belanja online atau setara Rp100.000 hingga Rp500.000 per bulan. Menariknya lagi, 80% barang di keranjang pada kahirnya tidak jadi dibeli. Karenanya, masyarakat perlu memiliki pengetahuan dan edukasi yang memadai saat belanja online. Jangan sampai terjebak pada harga barang yang murah atau kemudahan semata tapi mengabaikan kebutuhan, bukan sesuai keinginan. Belanja prinsipnya harus sesuai kemampuan, bukan sesuai kemauan. Kapan waktu yang sering digunakan untuk belanja online juga diungkap di buku Anatomi Balanja Online.

 


Sementara itu di buku Uangku Hilang Entah Ke Mana?” menyajikan hasil liputan tentang daya beli masyarakat yang tergerus, mencakup kisah nyata turunnya gaya hidup secara drastis, kesulitan memenuhi kebutuhan pokok, dan tekanan finansial yang dialami oleh generasi muda, rumah tangga dan pelaku usaha kecil. Fenomena "Rojali" atau "Rombongan Jarang Beli" yang  viral menjadi cerminan perilaku masyarakat akibat daya beli yang kian menurun. Banyak orang hari ini, hidup jadi lebih irit dan gaya hidup harus hemat. Lalu bertanya, uangku hilang entah ke mana?

 

Peluncuran kedua buku liputan jurnalistik mahasiswa Unindra ini menjadi cerminan pentingnya memahami cara kerja jurnalistik, di samping menjadikan jurnalistik dan menulis berita sebagai proses dan keterampilan yang dimiliki mahasiswa. Mampu menjadikan jurnalistik sebagai sarana meliput dan menulis untuk berbagi peristiwa atas dasar data dan fakta, di samping menyajikan informasi yang layak. Di balik buku ini, mahasiswa belajar jurnalistik sambil menuliskan dan mempublikasikannya sendiri. Kedua buku ini, jadi bukti pertemuan antara teori dan praktik dalam jurnalistik. Kuliah sambil menulis sebagai proses meningkatkan keterampilan mahasiswa. Seperti dikatakan dalam buku "Jurnalistik Terapan" karya Syarifudin Yunus, bahwa sinergi teori dan praktik harus berujung pada tulisan jurnalistik.

 

Buku liputan jurnalistik "naatomi Belanja Online” dan “Uangku Hilang entah Ke Mana?” ini mengungkap secara sederhana, uang sebanyak apapun bila perilakunya impulsif dalam berbelanja pada akhirnya akan jadi sebab daya beli menurun. Hari ini belanja online, besok tidak punya uang. Urusan uang dan belanja, harusnya bertumpu pada kebutuhan bukan keinginan. Salam Jurnalistik! #AnatomiBelanjaOnline #UangkuHilang #KuliahJurnalistik #MahasiswaUnindra

 




Senin, 29 Desember 2025

Literasi Kepemimpinan, Kacau Organisasi Bila Pemimpinnya Arogan dan Subjektif

Sekarang ini mungkin lagi musim pemimpin kacau. Di organisasi, di tempta kerja bahkan mungkin di pemerintahan. Pemimpin yang tidak punya visi tapi dia menyebutnya sebagai hak prerogratif. Dia yang bilang demokratis padahal otoriter. Bilangnya objektof padahal subjektif. Terlalu banyak urus ecek-ecek dan campur tangan tapi bilangnya dukungan. Begitulah kira-kira pemimpin kacau. Hebatnya lagi, pemimpin kayak begitu dipilih!

 

Pemimpin organisasi yang kacau biasanya tidak hanya bermasalah pada gaya memimpin. Tapi juga menciptakan dampak sistemik: bikin tim bingung, kinerjanya nggak jelas, membuat organisasi nggak kondusif, dan isinya cuma omon-omon. Bila dicermati, pemimpin kacau tidak punya arah dan prioritas yang jelas. Visi, target, dan program sering berubah tanpa alasan logis. Hari ini A, besok B, lusa dibatalkan. Tim-nya disuruh kerja keras, tapi nggak tahu untuk apa? Akhirnya organisasi cuma nama, energi habis, hasil minim.

 

Makin kacau organisasi di bawah pemimpin yang nggak konsisten membuat keputusan. Nyuruh tim-nya begini begitu tapi di saat yang sama tidak boleh begini begitu, Pemimpinnya bingung sendiri apalagi tim-nya. Kebijakan hari ini dipuji, besok disalahkan. Aturan berbeda tergantung siapa yang bertanya. Mentalnya lebih sering reaktif daripada strategis. Akibatnya, kebingungan dan bikin tim-nya kehilangan kepercayaan.

 

Pemimpin kacau di organisasi juga minim keteladanan. Bicara tentang nilai-nilai, tapi perilakunya bertolak belakang. Ngomongnya A yang dilakoni B. Organisasi jadi nggak ada manfaatnya, nilai-nilai organisasi pun runtuh. Pemimpin yang anti kritik dan mudah tersinggung. Kritikan dianggap serangan pribadi, orang jujur dicap “tidak loyal”, dan akhirnya lebih suka dikelilingi penjilat. Jadilah akhirnya organisasi yang penuh kepura-puraan.

 

Anehnya lagi, pemimpin kacau itu lebih suka menyalahkan, anti tanggung jawab. Fokusnya hanya cari kesalahan orang lain, bukan kerja yang benar. Saat gagal “tim dianggap tidak becus”.. Saat berhasil bilangnya “ini karena saya”. Tidak pernah mengakui kesalahan, dan membuat moral organisasi jatuh. Pemimpin model begini, sering mengambil keputusan atas subjektivitas dan nggak transparan. Prosesnya nggak jelas, tiba-tiba bikin keputusan nggak jelas. Arogansi dan kepentingan pribadinya menonjol, akses informasi dibuat hanya untuk lingkaran tertentu. Akhirnya mulailah muncul konflik, gosip, dan politik internal yang malah bikin orang lain bingung.

 

Maka hati-hati, pemimpin kacau di organisasi biasanya tidak membangun sistem, hanya mengandalkan orang. Sebab semua harus lewat dirinya, tidak ada SOP yang jelas. Sebagian besar anggota tim-nya bekerja atas perintah dan ketakutan, bukan kepercayaan. Maka matilah inisiatif dan kreativitas di organisasi. Stagnasi dan terasa adem ayem. Tidak ada pergerakan organisasi yang berdampak, semuanya hanya seremonial. Cuma narasi bukan esensi.

 


Ternyata, dari pengalaman yang pernah terhaji di suatu organisasi, pemimpin kacau itu hanya fokus pada kekuasaan atau jabatan, bukan tanggung jawab. Sibuk mencitrakan diri “baik” tanpa kerja nyata yang konkret dan berdampak. Sibuk mensosialisasikan kinerja sebatas omongan. Organisasi dijadikan alat kekuasaan, bukan pengabdian. Bila begini, maka organisasi pun jadi suram

 

Organisasi bila sudah dirasuki pemimpin kacau, maka anggota tim hanya diam saat dia bicara. Tidak ada masukan atau saran, apalagi kritik. Karena anggota tim-nya bingung daa hanya berserah saja. Tapi begitu di belakangnya, semua anggota tim berasa sesak napas, curcol ke mana-mana. Pemimpin yang kacau, memang tidak membantu organisasi atau orang-orang yang ada di dalamnya untuk”menang”.

 

Organisasi yag dikomandoi pemimpin kacau, kian terlihat saat orang-orang kompeten dan cerdas terbakar habis. Bukan karena pekerjaannya sulit tapi karena politik dan subjektivitas si pemimpin kacau. Tim-nya persis seperti robot, ada aktivitas tapi tidak jelas mau kemana? Pemimpin kacau bergerak di jaluryang kacau. Dia tidak yang ingin menang sendiri tanpa bisa mengelola orang.

 

Pemimpin gagal mengelola lingkungan dan proses, sehingga membiarkan kekacauan organisasi merembes ke bawah. Isi kepalanya ketidak-percayaan sebelum tim-nya membuktikan. Micromanage dan bertanya Cuma, “Apa yang salah?” bukan “Di mana prosesnya kurang pas?” Pemimpin kacau makin bingung dan sulit membedakan, mana dukungan mana tuntutan?

 

Maka jauhi sikap arogan dan subjektif saat jadi pemimpin organisasi di mana pun. Sebab orang tidak akan mengingat pemimpin yang memberi target. Tapi mereka mengingat pemimpin yang memberi kesempatan untuk tumbuh. Pemimpin yang kacau bukan hanya tidak membawa organisasi maju, tetapi juga membuat orang-orang baik kelelahan dan memilih pergi. Jadi, belajar jadi pemimpin yang kompeten di tahun 2026!

Prinsip Berjuang di Taman Bacaan

Berjuang di literasi dan taman bacaan, bahkan aktivitas lain yang bersifat sosial sama sekali tidak mudah. Tidak ada yang instan, karena proses seberat apapun harus dijalani. Setiap langkah pasti penuh tantangan, setiap kali jatuh mengajarkan kita untuk bangkit menjadi lebih kuat lagi. Makanya, tidak ada taman bacaan yang sukses karena prosesnya tidak akan pernah usai. Persis seperti tidak ada teori yang paling benar di literasi, sebab semuanya bertumpu pada proses.

 

Apapun, hasil yang indah selalu lahir dari proses yang tidak mudah.  Bahwa sesuatu yang bernilai, bermakna, dan membanggakan hampir selalu menuntut perjuangan, kesabaran, serta pengorbanan. Keindahan hasil tidak muncul secara instan. Karena itu, proses menjadi titik penting perjuangan literasi. Kesulitan, tantangan, dan kegagalan dalam proses justru membentuk ketangguhan mental, mengasah konsistensi, sekaligus ujian terhadap sikap pantang menyerah. Sebab tanpa proses yang sulit, literasi dan taman bacaan sering kali rapuh dan dangkal.

 

Hasil pasti sebanding dengan usaha yang dilakukan. Semakin berat prosesnya maka semakin tinggi maknanya, semakin berat tantangannya maka dampaknya makin terasa. Sejalan dengan itu semua, maka semakin kuat rasa sabar dan syukurnya.  Sebab tantangan dan kesulitan di taman bacaan adalah bagian dari seleksi alam. Tidak semua orang sanggup bertahan megelola taman bacaan di proses yang berat. Karena itu, hanya mereka yang tekun dan sabar yang sampai di hasil akhir. Karenanya, hasil yang “indah” menjadi pembeda, bukan sesuatu yang biasa di dunia literasi.

 


Perjuangan literasi itu pahit, pengorbanan di taman bacaan pasti sulit. Seperti kopi hitam, awalnya getir tapi lama-lama memberi rasa hangat dan kekuatan yang tahan lama. Maka nikmati saja setiap tetes usaha yang ditorehkan. Ingat, pahitnya proses hari ini akan terasa manis saat kita melihat hasilnya kemudian. Saat berjuang di taman bacaan, jangan menyerah saat prosesnya terasa berat. Jangan iri pada hasil orang lain tanpa memahami perjuangannya, dan lebih baik hargai proses daripada mengejar hasil.

 

Di taman bacaan dan dunia literasi, jika prosesnya hari ini terasa sulit bukanlah tanda kegagalan, melainkan kita sedang menuju sesuatu yang lebih bernilai. Maka berhentilah sejenak dan beristirahatlah. Agar besok tetap terbangun dengan tubuh yang sehat dan rezeki yang melimpah, amiin. Salam literasi!

 



Minggu, 28 Desember 2025

Jangan Skeptis pada Dana Pensiun bila Punya Tanggung Jawab di Hari Tua

Banyak orang masih melihat manfaat dana pensiun hanya sebatas angka. Yang ditanya, berapa ROI-nya? Kalau saya jadi peserta DPLK hari ini, nanti saat pensiun dapat uangnya berapa? Bahkan banyak skeptis, menganggap pensiun masih lama dan belum waktunya dipersiapkan. Kita sering lupa, dana pensiun bukan soal angka. Tapi di balik angka itu, ada komitmen untuk hari tua, tanggung jawab, cinta, dan keberlanjutan hidup di saat kita tidak bekerja lagi.


Manfaat dana pensiun, tentu bukan hanya tentang berapa besar nilainya nanti. Tapi tentang kesinambungan penghasilan di hari tua, tentang siapa yang akan bisa hidup layak di masa pensiun? Siapa yang gaya hidupnya bisa terjaga, bahkan siapa yang masih bisa menyekolahkan anak ke perguruan tinggi? Siapa yang masih punya tanggung jawab di hari tua tapi tidak mengorbankan beban ekonimi kepada keluarga atau anak-anak kita?

 

Saat kita tidak bekerja lagi, saat kita sudah pensiun, bahkan saat kita meninggal dunia. Tentu, maunya biaya hidup dan urusan rumah tidak berhenti. Cicilan bila masih ada tetap terbayarkan. Bahkan bila anak masih kuliah, masih tetap bisa berlanjut hingga wisuda. Di situlah, pentingnya dana pensiun untuk seorang pekerja.   

 

Selagi masih bekera, mungkin setipa orang mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Tapi di saat pensiun dan tidak punya gaji lagi, dari mana untuk mempertahankan standar hidup keluarga? Jadi, keseharian dan mimpi keluarga kita di saat kita pensiun tetap berjalan atau terhenti, semuanya tergantung pada perencanaan hari tua yang kita siapkan di hari ini.

 

Dana pensiun, khususnya DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) bukan sekedar angka. Tapi untuk melanjutkan kehidupan kita dan keluarga di hari tua tetap berjalan. Memang, dana pensiun bekerja dalam diam dan tidak terlihat. Tapi tetap setia menjalankan perannya “untuk menjaga kesinambungan penghasilan di masa pensiun” sebagai bentuk tanggung jawab dan cinta kita kepada pasangan, anak dan keluarga. Bentuk kasih sayang yang konkret dan tidak ikut hilang di saat kita tiada.

 


Sederhana sekali di dana pensiun, besar kecilnya nilai manfaat pensiun tergantung pada besaran iuran, hasil investasi, dan lamanya menjadi peserta. Biar iurannya besar dan hasil investasinya gede tapi masa kepesertaan di bawah 5 tahun, tentu saja nilai manfaat pensiun tidak optimal. Karenanya, dana pensiun harus dilihat sebagai “jaminan penghasilan” di masa pensiun saat tidak bekerja lagi. Semakin muda menjadi peserta dana pensiun semakin baik, karenasetoran iuran semampunya, hasil investasi bersifat jangka panjang, dan jadi peserta tergolong lama.

 

Sebab siapapun yang menjadi peserta dana pensiun, khususnya DPLK berarti sedang mempersiapkan kesinambungan penghasilan di hari tua, berhak mendapat hasil investasi yang optimal, dan bisa mandiri secara finansial di masa pensiun. Dan dana pensiun adalah bentuk tanggung jawab dan cinta kita di masa pensiun terhadap keberlanjutan hidup di masa pensiun, saat kita tidak punya gaji lagi.

 

Maka dana pensiun tidak bisa dilihat hanya sekadar angka. Jangan pula menganggap remeh karena masih muda, apalagi skeptis terhadap hasil investasi semata. Justru dana pensiun menjadi tanggung jawab realistis yang bisa kita lakukan selagi masih bekerja. Hari ini bisa saja kita sudah siapkan rumah, kendaraan, bahkan jalan-jalan bersama keluarga. Tapi esok saat kita pensiun, apa masih bisa dilakukan?

 

Karena tanggung jawab dan cinta pada keluarga bukan hanya soal kita hadir di hari ini. Tapi memastikan standar hidup keluarga dan orang-orang yang kita cintai  tetap terjaga saat kita tua nanti, saat kita sudah pensiun. Bahkan bahkan saat kita tidak lagi bisa memeluk mereka secara langsung suatu waktu nanti. #YukSiapkanPensiun #EdukasiDPLK #DanaPensiun

 


Relawan TBM Lentera Pustaka Optimis Sambut Tahun 2026, Komitmen Terus Berkiprah di Taman Bacaan

Saat melakukan aktivitas di Minggu terakhir tahun 2025, relawan TBM Lentera Pustaka menegaskan komitmennya untuk berkiprah di taman bacaan. Menjadikan sedikit bicara banyak bertindak. Bukan bilang tapi tunjukkan, dan bukan berjanji tapi membuktikan. Itulah komitmen relawan TBM Lentera Pustaka saat menutup aktivitas sosial di tahun 2025 ini (28/12/2025).

 

Relawan TBM Lentera Pustaka sadar betul. Saat berkiprah di taman bacaan, selalu ada orang-orang yang meremehkan bahkan menjatuhkan dalam diam. Akan tetapi, relawan TBM percaya omongan tidak akan pernah membuat sesuatu keadaan menjadi lebih baik. Prasangkkan tidak akann memberikan solusi atas hal-hal yang dianggap tidak baik. Karenanya, orang-orang yang banyak omong atau dipenuhi prasangkann akan selalu ada di segala bidang kehidupan. Akan selalu ada di sekeliling kita, akan selalu melihat kekurangan kita. Itu semua dihadapi biasa saja oleh relawan TBM Lentera Pustaka.

 

Bila tidak sama, kenapa tidak boleh beda? Begitulah prinsip yang dianut relawan TBM Lentera Pustaka. Biarlah orang lain hidup dan bertidan dengan cara mereka sendiri. Sebab tidak semua tanya harus dijawab dengan suara. Terkadang menjawab dengan hasil kerja dan bukti nyata jauh lebih terhormat. TBM Lentera Pustaka hanya tahu berbuat baik dan menebar manfaat di taman bacaan secara konsisten. Selebihnya terserah sang pencipta.



Tidak ada manusia yang sempurna. Tidak ada pula orang yang hidup tanpa bantuan orang lain. Begitulah relawan TBM Lentera Pustaka memahami kehidupan ini. Selalu ada kebaikan yang kita terima, karenanya tindakan baik harus ditebarkan di mana pun. Ada guru yang sabar, teman yang baik, dan orang lain yang membantu. Maka salah satu menjaganya adalah meneruskan kebaikan yang pernah  kita terima kepada orang lain lagi. Agar kebaikan bersifat lebih tahan lama. Kebaikan yang erlanjut, efektnya berlifat, dan manfaatnya melampaui niat awal. Sebab satu kebaikan bisa melahirkan banyak kebaikan lain yang tidak kita kenal sebelumnya.

 

Di mata relawan TBM Lentera Pustaka, berbuat baik adalah dengan meneruskan kebaikan itu sendiri. Menjadikan pengalaman ditolong sebagai alasan untuk menolong bukan sebagai utang yang harus dibayar. Kebaikan sejati bukan tentang membalas, tapi tentang melanjutkan. Dan tidak terlalu perlu menjelaskan kebaikan itu kepada siapaun. Karena orang lain yang suka tidak butuh itu, dan orang lain yang benci tidak percaya itu.

 

Begitulah komitmen relawan TBM Lentera Pustaka di akhir tahun 2025, sambil ngobrol bareng untuk “bakar-bakaran” akhir tahun 2025 di TBM Lentera Pustaka, sambil memperkuuat semangat baru (bukan harapan baru) di tahun 2026 yang akan datang. Sekalipun tanpa pendiri TBM Lentera Pustaka yang akan umroh dari 3 s.d. 11 Januari 2026. Itulah tanda bersyukur relawan TBM Lentera Pustaka di akhir tahun, karena di tahun 2026 nanti TBM Lentera Pustaka didukung CSR korporasi dari Bank Sinarmas, Chubb Life Insurance, dan AAI Perancis yang akan membiayai operasional taman bacaan selama setahun 2026 nanti.  Salam literasi!

 



Sabtu, 27 Desember 2025

Karyawan Jago Bikin Resolusi Tiap Akhir Tahun tapi Pengen Resign Tahun Depan

Selain jago bikin rencana dan resolusi untuk tahun depan, faktanya tidak sedikit karyawan yang bekerja di suatu perusahaan ingin resign alias mundur dari pekerjaannya pada tahun depan. Segudang alasan bisa dicari, kenapa harus resign tahun depan dari kantornya?

 

Tentu saja, keinginan resign tahun depan bukan keputusan spontan. Tapi hasil akumulasi banyak hal selama bekerja. Merasa sudah capek kerja di lingkungan kerja yang tidak lagi sehat, target tahun ini yang tidak tercapai, bos yang micromanage, gaji yang tidak sesuai, dan masih banyak lagi alasannya. Ditambah banding-bandingkan hidup sama orang lain di media sosial. Si A enak banget hidupnya, gue masih begini-begini aja.


Entah kenapa, karyawan sering banget pengen resign dari kantornya karena Keputusan yang emosional. Merasa karier-nya salah, apa iya begitu? Jangan-jangan karena salah tempat kerja atau salah strategi mengelola diri dalam bekerja. Resign sering dianggap solusi, padahal belum tentu juga kan. Jangan buru-buru pengen resign, apalagi atas sebab emosi. Sesederhana itu sih bila mau resign dari pekerjaan.


Patut dipertimbangkan, setidaknya ada 7 (tujuah) alasan paling umum dan rasional bila seorang karyawan pengen resign. Kenapa kita harus resign tahun depan?

  1. Pekerjaan tidak lagi memberi makna. Awalnya berharap kerjaannya menantang, tapi lama-kelamaan terasa jadi rutinitas doang tanpa perkembangan, kerja tidak lagi bisa belajar hal baru, dan merasa kontribusinya tidak berdampak. Bukan karena lelah bekerja, tapi lelah karena merasa tidak lagi bisa tumbuh.
  2. Ketidakseimbangan kerja dan hidup. Jam kerja panjang, tapi apresiasi minim. Energi habis untuk kantor, hidup pribadi terabaikan. Akhirnya, kita sadar “karier penting, tapi hidup lebih penting.”
  3. Nilai pribadi tidak lagi sejalan dengan kantor. Lingkungan kantor sudah mulai toxic, etika kerja tidak sehat, politik kantornya kotor, budaya saling menyalahkan, dan kadang target angka seenak-enaknya mengalahkan rasa kemanusiaan. Kerjanya bukannya jadi realistis, malah terbiasa bikin target mimpi. Bekerja bertahun-tahun di tempat yang bertentangan dengan nilai diri itu melelahkan secara batin.
  4. Bos yang micromanage, atasan cuma urus yang kecil-kecil. Kepemimpinan yang butuk di kantor, atasan arogan dan subjektiff banget, banyak menuntut tanpa apresiasi, hobu mencari kesalahan masa lalu, dan lebih banyak kritik lebih daripada dukungan. Banyak karyawan resign bukan karena pekerjaannya, tapi karena atasannya.
  5. Gaji tidak seimbang dengan beban. Tanggung jawab bertambah tapi gaji stagnan. Kesejahteraan jangka panjang diabaikan, khususnya dana pensiun untuk karyawan tidak jelas. Ini bukan soal materialistis, tapi keadilan dan kesiapan untuk pensiun.
  6. Muncul kesadaran tentang masa depan. Biasanya semakin lama orang bekerja, orang mulai bertanya “kalau aku terus di sini, 10 tahun lagi jadi apa?” atau “apakah ini membawa aku ke hidup yang aku inginkan?” Resign itu sering jadi tanda kedewasaan berpikir, bukan pelarian.
  7. Capek kerja dan bosan sama pekerjaan. Berangkat gelap pulang gelap tapi tabungan segitu-segitu saja. Ternyata kerja tidak bisa jadi harapan memperbaiki ekonomi pribadi atau keluarga. Lelah, dari tahun ke tahun, kerja cuma begitu-begitu saja.


Jadi, karyawan yang ingin resign dari pekerjaan patut mengecek dulu. Apa sebab ingin resign? Jangan karena emosi dan nafsu pengen buru-buru keluar dari kantor, apalagi menghindari bos yang receh. Tapi pastikan sebabnya, agar langkah berikutnya benar. Karena kerja di tempat baru, belum tentu jadi solusi. Sebab keputusan resign harusnya lahir dari kesadaran, bukan dari Lelah selama bekerja.

 

Resign dari pekerjaan itu sah-sah saja kok. Asal alasannya jelas dan bukan karena pengen kabur dari kantor. Silakan resign asal sudah punya rencana seperti pekerjaan baru, pengen usaha, studi, atau jeda produktif. Dan pastikan juga kondisi keuangan relatif aman, punya tabungan, punya dana darurat. Jangan sampai begitu resign, akhirnya jadi terlibat pinjol atau sering utang sama teman. Resign harus siap mental, siap pikiran, dan siap uang.

 

Agar resign tidak dianggap akhir karier atau solusi dari kerja yang tidak sehat. Justru resign harusnya jadi awal hidup yang lebih jujur dengan diri sendiri. Punya kerjaan, punya gaji dan hidup lebih sehat lebih baik ke depannya. Dan pastikan di tempat kerja baru punya dana pensiun, untuk perencanaan hari tua agar kerja yes pensiun oke.



Di Taman Bacaan, Tidak Semuanya dari Buku

Anak yang cerdas dan kreatif, tidak semuanya dari buku. Bukan pula dari sekolah. Kebiasaan sederhana untuk belajar dan bergaul di taman bacaan pun mampu menjadikan anak tumbuh lebih baik. Intinya, memberi ruang anak untuk eksplorasi dan belajar bersama dengan teman-teman sebaya.

 

Tidak semuanya dari buku. Di TBM Lentera Pustaka, melalui program KElas PRAsekolah (KEPRA), anak-anak dilatih untuk berdialog, bertindak aktif, bermain bersama, belakar calistung, hingga menata emosinya sendiri. Mengikuti aturan main di taman bacaan, sangat penting dalam membiasakan anak untuk paham dan lebih percaya diri. KEPRA TBM Lentera Pustaka adalah ruang ekspresi anak secara sosial. Tidak melulu soal otak atau pengetahuan.

 

Hari ini anak-anak kita butuh ruang. Agar berani mencoba tanpa takut salah. Bekerja sama dengan teman sebaya tanpa prasangka, dan paham apa yang ada di hadapannya. Sekaligus mengingatkan orang tua, jangan buru-buru mengoreksi apa yang dilakukan anaknya. Biarlah si anak mencoba dan melakukannya. Menggambar, mewarnai, atau menyusun bentuk sesuka hati. Dari aktivitas sederhana itulah, si anak belajar kreativitas, melatih ekspresi dan akhirnya tahu sebab akibat.

 


Belajar itu proses, butuh waktu dan komitmen bersama. Membiasakan anak-anak terliat dalam aktivitas yang positif. Latihan bukan hanya otak tapi emosional. Tidak hanya spiritual tapi sosial. Semuanya harus seimbang dan diberikan kepada anak. Jangan hanya memberatkan pada intelektual, kecerdasan dan apalah itu namanya yang melulu soal otak. Karena belajar di mana pun itu untuk memberi bekal kepada anak, bukan menargetkan nilai bagus. Tidak ada rumus instan untuk anak berhasil tanpa proses yang dijalani.

Jadi, apa bedanya anak belajar di sekolah dan di taman bacaan? Di sekolah, anak belajar untuk pintar dan punya nilai bagus. Tapi di taman bacaan, anak belajar untuk mengenal potensi diri dan bertahan hidup di masa depan. Dan tidak semuanya dari buku. Salam literasi!

-----

Kami tetap belajar baca tulis hitung (calistung) di akhir tahun 2025 @KElas PRAsekolah (KEPRA) TBM Lentera Pustaka siang ini. Salam literasi!

 




Catatan Akhir Tahun: Skincare Semahal Apapun Tidak Akan mampu Menyetop Untuk Tua

Tiap orang punya tingkat kebahagiaan yang berbeda, punya kenyamanan yang tidak sama. Ada yang tidak mau dibilang tua, ada pula yang tidak mau dipanggil kakek. Karenanya, ada kata bijak yang dianut banyak orang. Katanya “umur boleh tua tapi jiwa tetap muda”. Entah apa maksudnya kata bijak itu, biar bisa seperti Ridwan Kamil atau gimana?

 

Alhamdulillah, sejak tahun 2023, saya sudah berpredikat seorang kakek. Berarti sudah tua, rambut memutih dan fisik mulai agak lelah. Maklum sudah pensiun pula. Kerjaan sekarang hanya untuk aktualisasi diri, bukan untuk mengejar kekayaan apalagi jabatan. Tapi satu yang saya suka sekarang, yaitu menggendong cucu. Cucu pertama dari anak pertama saya.

 

Sebagai kakek, ternyata senyum dan tawa cucu itulah kebahagiaan sejati. Setelah puluhan tahun mendidik 3 anak yang kini sudah tumbuh dewasa, hadirnya seorang cucu jadi energi yang luar biasa. Setiap hari jadi petualangan baru dan mengisi hidup dengan kegembiraan yang tidak terhingga. Saat bermain bersama cucu, saat bisa menggendong cucu.

 

Ada pelajaran penting dari menggendong cucu. Bahwa semakin menua, memang harus memilih circle yang terbatas. Bergaul terbatas saja, dan tidak perlu urus apapun yang tidak perlu diurus. Nikmati dan jalani hari tua bersama cucu. Bersyukur atas segala keadaan, berlapang hati atas segala pengalaman yang pernah menjadi pelajaran. Begitulah hidup semestinya disikapi, bukan dikeluhkan.

 

Saat menggendong cucu, saya diajarkan.  Bahwa hidup pada akhirnya jangan mentoleransi orang yang tidak pernah menghargai kita. Jangan pula bertekad ingin menyenangkan semua orang. Pilihlah lingkungan yang sehat, untuk bisa menikmati hari-hari tua. Dan jangan tidak bahagia karena perbuatan orang lain. Karena orang lain tidak kasih makan, tidak menyekolahkan kita. Orang lain, lebih sering membenci atau ngomongin di belakang.

 


Momen di akhir tahun dan jelang tahun baru, cukup selalu hormati diri sendiri dan temukan kenyamanan versi terbaik kita. Tidak usah punya resolusi karena tahun baru yang penting semangat baru bukan harapan baru. Ingat, bila hidup terlalu banyak berharap pasti kecewa.

 

Sudah jadi hukum alam, wajah yang indah akan menua pada waktunya. Tubuh yang sempurna akan berubah suatu waktu nanti. Jangan fokus pada fisik tapi optimalkan batin. Skincare sehebat apapun, tidak akan mampu menyetop untuk tua. Maka bangunlah jiwa yang positif, lingkungan yang sehat, dan pilih tempat berbuat baik serta menebar manfaat seperti berkiprah di taman bacaan.

 

Bisa jadi, hari ini dan kemarin, kita sedang berada di “musim” yang tidak diinginkan. Tidak apa-apa, karena itu fakta. Tapi yang terpenting adalah sikap kita, tentang bagaimana kita meresponsnya. Apakah kita memilih untuk mengeluh atau memilih untuk berubah dan tetap tumbuh? Ingatlah, setiap musim berlalu, dan setiap akhir selalu membawa awal yang baru. Jadilah seperti alam, yang selalu menemukan cara untuk berkembang, apapun musimnya.

 

Tua adalah fakta, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Orang yang kreatif, tidak akan menyesali usianya yang bertambah. Orang yang murah hati itu tidak akan menyimpan kepahitan dalam hatinya. Sebab hati yang pahit adalah sumber dari segala penyakit. Tapi hati yang gembira adalah obat. Maka di hari tua, simpan uang yang baik agar selalu cukup. Jangan simpan kebencian di hari tua yang bikin sakit.

 

Di hari tua, nikmati momen menggendong cucu. Jalani hari-hari dengan optimis tanpa keluhan. Syukuri yang ada dan dimiliki. Karena di hari tua, tidak ada suara yang lebih merdu dari tawa seorang cucu, tidak ada pelukan yang lebih hangat dari genggaman seorang cucu. Sebab cucu, adalah harta yang tidak ternilai dan tidak akan habis hingga kita tiada. Saya bangga menggendong cucu. Salam dari pensiunan yang sudah tua!

Jumat, 26 Desember 2025

Perkuat Karakter Anak, Mahasiswa Unpak Edukasi Anti Korupsi di TBM Lentera Pustaka

Sebagai bagian membentuk karakter baik sejak dini, mahasiswa semester 7 Ilmu Komunikasi Universitas Pakuan Unpak) melakukan edukasi dan sosialisasi "pendidikan anti korupsi" yang diikuti 50-an anak pembaca aktif usia sekolah di TBM Lentera Pustaka (26/12/2025). Sebagai pengenalan sejak dini, korupsi bukan sekadar kejahatan hukum, melainkan masalah karakter. Karena penanaman nilai-nilai jujur, tanggung jawab, integritas, dan berani berkata benar menjadi penting dilakukan.

 

“Terima kasih TBM Lentera Pustaka atas kerjasamanya untuk pendidikan anti korupsi. Selain untuk memenuhi tugas kuliah, kami jadi paham masih banyak yang bisa dilakukan untuk mendidik anak-anak kita utamanya budaya anti korupsi. Bagus untuk membentuk generasi muda yang berkarakter dan berintegritas di masa depan” ujar Ahnaf Arva Parahita, Ketua Pelaksana.

 

Diselingi ice breaking dan kuis, anak-anak TBM Lentera Pusatka begitu antusias menyimak pemaparan anti korupsi. Untuk mencegah perilaku tidak jujur sejak kecil, seperti mencontek, berbohong atau mengambil milik orang lain tanpa izin. Edukasi anti korupsi ini membantu anak memahami bahwa ketidakjujuran sekecil apa pun punya dampak.

 

Tim Ilmu komunikasi Unpak yang dipmpin oleh Ahnaf Arva Parahita (Ketua) dan anggotanya: Nurviqri, Fadila, Nazwa, Rangga, Habibunnajar, Putri, Raihan, Defan, Puput diterima oleh Susi (Ketua Harian TBM Lentera Pustaka) menekankan pentingnya pendidikan anti korupsi untuk menanamkan nilai, kebiasaan, dan cara berpikir moral untuk mencegah perilaku koruptif di mana pun.

 


Apapun alasannya, korupsi pasti merugikan banyak orang, menghilangkan hak orang lain, dan memperparah kemiskinan dan ketidakadilan. Karena itu membangun budaya integritas anak-anak sejak dini menjadi penting. Mendidik anti korupsi berarti mencegah korupsi dari akarnya, bukan sekadar menghukum di ujung. Sikap anti korupsi terbukti lebih efektif daripada edukasi orang dewasa. Karena itu, pendidikan anti korupsi sejak dini sejatinya bisa menjadi strategi pencegahan paling efektif.

 

Berbekal slogan sederhana “Jujur itu hebat”, anak-anak TBM Lentera Pustaka diajarkan untuk berani jujur itu keren. Edukasi anti korupsi di TBM Lentera Pustaka bukan mengajarkan hukum, tetapi membentuk anak-anak sebagai generasi penerus bangsa untuk memiliki integritas sejak awal. Uniilah kolaborasi antara mahasiswa dan taman bacaan yang perlu terus dilakukan sebagai upaya pendidikan anti korupsi.

 

Di akhir sesi, mahasiswa Unpak juga menyerahkan penghargaan kepada TBM Lentera Pustaka sebagai bukti Kerjasama apik antara kampus dan taman bacaan. Untuk literasi yang lebih berdaya di bumi Indonesia. Salam literasi #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan #BacaBukanMaen