Saat kita berkiprah di taman bacaan, sudah pasti tidak semua orang melihat apa yang kita lihat. Sebagian besar orang mungkin hanya melihat hasilnya kecil, tidak menghasilkan uang besar, atau dianggap kurang “prestisius”. Padahal, kita sedang membangun sesuatu yang dampaknya jangka panjang: budaya baca, ruang aman untuk anak-anak, dan harapan untuk masa depan.
Menang tidak semua orang mengerti jalan kita. Alasannya sederhana,
karena nilainya tidak langsung terlihat Dampak taman bacaan itu pelan tapi
dalam. Tidak seperti bisnis yang keuntungannya bisa dihitung cepat. Lagi pula,
sudut pandang tiap orang berbeda. Ada yang mengukur keberhasilan dari materi,
jabatan, atau popularitas. Sementara kita mungkin mengukurnya dari perbuatan
dan perubahan hidup seseorang. Apalagi kiprah di taman bacaan yang prosesnya
sunyi. Mengelola taman bacaan sering penuh perjuangan: cari buku, urus relawan,
dana terbatas. Dari luar terlihat sederhana, padahal penuh dedikasi.
Ibaratnya, “Saat berkiprah di taman bacaan, kita mungkin tidak
membangun gedung tinggi, tapi kita membantu membangun mimpi anak-anak lewat
buku. Hasilnya mungkin tidak terlihat hari ini, tapi akan terasa di masa depan.”
Intinya, tidak semua orang harus mengerti jalan kita di taman bacaan. Yang
penting, kita paham alasannya untuk melangkah dan tahu nilai-nilai yang kita
perjuangkan.
Saat orang tidak mengerti jalan kita, tentu bukan berarti salah. Ada pesimisme,
ada pikiran negatif bahkan selalu dipertanyakan. Biarlah, berbeda bukan tanda
kesalahan. Sebab, jalan hidup dan persepsi tentang kebaikan setiap orang memang
tidak sama. Dan ketikaa kita menyadari bahwa tidak dipahami bukan berarti
keliru, beban di dada terasa lebih ringan. Lebih dari itu, setiap orang punya hidupnya
sendiri. Semuanya dibentuk oleh pilihan, pendidikan, lingkungan, dan pengalaman
emosional. Jadi, sangat wajar saat berkiprah di taman bacaan terlihat asing
bagi yang tidak memahaminya. Yang penting, kita tidak perlu mengubah arah hanya
demi menyesuaikan diri dengan peta orang lain.
Spirit itulah yang melekat pada relawan TBM Lentera Pustaka di kaki
Gunung Salak Bogor. Untuk tetap mengabdi dan memilih jalan hidup berkiprah di
taman bacaan. Membimbing anak-anak yang membaca, bermain bersama, mengajar kaum
buta aksara, hingga menjalankan aktivitas taman bacaan dengan sepenuh hati. Atas
komitmen dan konsistensi personal. Sekalipun di bulan puasa, tetap menjalankan “Ngabubu
Read di TBM” sebagai bagian mendidik akhlak dan adab anak-anak usia sekolah di
taman bacaan. Dan akhirnya, menjadi relawan TBM memang berhadapan dengan
realitas. Bahwa tidak semua orang mengerti jalan kita dan yang penting kita mengerti
arah Langkah kita sendiri.
Sungguh, betapa menenangkannya ketika kita berhenti memaksa dunia untuk
selalu setuju dan mulai fokus merawat kompas dalam diri. Untuk selalu berbuat
baik dan menebar manfaat di taman bacaan. Jadi, tidak semua orang mengerti
jalan kita. Salam literasi!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar