Mungkin, pensiun sejahtera bagi banyak pekerja di Indonesia hanya diciptakan untuk dikagumi dalam imajinasi, tapi ditakuti dalam kenyataan. Puluhan tahu bekerja sambil membayangkan masa pensiun yang nyaman, tenang, bahkan tinggal di suatu desa yang halaman rumahnya ada suara gemericik air. Tapi realitasnya, kini 1 dari 2 pensiunan mengandalkan transferan dari anaknya untuk biaya hidup. Bahkan 80% pensiunan benar-benar bergantung kepada anak-anaknya. Kontradiksi antara harapan dan kenyataan soal masa pensiun di kalangan pekerja.
Terkadang, masa
pensiun yang sejahtera itu seperti perempuan. Selalu menyimpan dan menjadi
misteri yang membuat dunia berhenti sejenak untuk berpikir. Dalam cerita fiksi,
ia tampak sempurna menadi simbol keindahan, ketenangan, dan keajaiban yang
diabadikan oleh kata-kata. Namun ketika menjadi nyata, ketika ia (masa pensiun
dan perempuan) hadir dan berhadapan dengannya, dunia seakan mulai gentar. Sebab
keindahan yang didambakan di hari tua itu kini menuntut untuk dipahami dan
dibuktikan. Seperti perempuan, pensiun pun tidak bisa diajak bicara cinta hanya
dengan kata-kata tapi butuh realisasi. Tidak cukup hanya niat baik tapi harus
ada aksi nyata.
Paradoks di
hari tua, saat kerja berjaya sata pensiun merana. Seperti perempuan yang
dijadikan lambang keanggunan dalam kisah-kisah fiksi justru dianggap mengancam
ketika hadir sebagai fakta yang menuntut akal sehat. Perempuan tidak lagi
sekadar tokoh dalam narasi laki-laki, melainkan penulis bagi dirinya sendiri.
Begitu pula masa pensiun sebagai lambang kesejahteraan dalam cerita mimpi justru
menjadi momok yang menakutkan ketika hadir sebagai fakta bagi pekerja yang
tidak siap. Pensiun tidak lagi sekadar narasi indah dalam diri pekerja,
melainkan sosok misteri yang menjadikan pemiliknya akan seperti apa dikemudian
hari?
Masa pensiun, mungkin
di situlah letak keindahan sekaligus bahayanya: ketika pensiun sejahtera berhenti
menjadi imajinasi, dan mulai menjadi kesadaran yang mengguncang logika pekerja.
Maka pensiun bukan lagi waktu yang menunggu di halaman cerita, tapi menjadi tangan
yang menggenggam pena sejarah. Karena sesungguhnya, dunia selalu takut pada masa
pensiun yang selalu dianggap masih lama tapi pasti dialami semua orang. Pensiun
adalah wujud paling nyata akan seperti apa pekerja di hari tuanya?
Pensiun sejahtera
bagi banyak pekerja memang ada untuk dikagumi dalam imajinasi, tapi ditakuti
dalam kenyataan. Itu hanya kalimat reflektif dan agak satire. Sebagai gambaran kontradiksi
antara harapan dan kenyataan soal masa pensiun. Banyak orang membayangkan
pensiun Sejahtera. Hidup tenang, cukup uang, bisa menikmati waktu dengan
keluarga, jalan-jalan, dan bebas stres. Sebuah kondisi indah dan sering
dijadikan tujuan ideal atau mimpi semua pekerja. Sayangnya, hanya sampai di
level imajinasi karena sedikit yang benar-benar merencanakan dan
mempersiapkannya masa pensiunnya secara nyata. Pensiun beralih jadi ditakuti
dalam kenyataan. Ketika waktunya tiba, pekerja yang belum punya cukup tabungan pensiun, tidak
punya pemasukan tetap, atau biaya hidup meningkat maka masa pensiun malah jadi sumber
kecemasan. Terbayangkan, masa pensiun bukan lagi simbol kebebasan, melainkan fase
ketidakpastian dan bergelimang ketakutan finansial di hari tua.
Ternyata, pensiun
sejahtera memang bukan hasil mimpi, tapi hasil dari perencanaan. Ia mengajak
orang untuk tidak hanya mengagumi gagasan pensiun bahagia, tapi juga mulai
mempersiapkan diri sejak sekarang melalui dana pensiun.
Pensiun sejahtera,
terkadang seperti perempuan cantik. Selalu menyimpan misteri yang belum selesai
diceritakan. Sering dikagumi dalam imajinasi, tapi ditakuti dalam kenyataan.
Salam literasi!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar