Sabtu, 31 Oktober 2020

Jl. Sama Aku - Nikah Sama Orang Lain, 1 dari 8 Nama Jalan Candaan TBM Lentera Pustaka

Setiap daerah, setiap wilayah pasti punya nama jalan masing-masing. Biasanya, nama jalan ada sejarahnya, ada asal-usulmya. Seperti nama pahlawan, nama buah-buahan, nama hewan dan masih banyak lagi. Semua itu, tentu nama jalan resmi dan ada aturannya.

Namun, beda halnya di sekitar Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka di Kaki Gunung Salak Bogor. Di sini, ada nama-nama jalan sekadar candaan. Nama jalan yang dibuat agar orang yang lewat tersenyum. Maklum, orang sekarang kan banyak yang stress atau galau. Jadi, bolehlah diberi hiburan saat melintas di sekitar TBM Lentera Pustaka.

 

Nama jalan candaan di sekitar TBM Lentera Pustaka dibuat bukan tanpa tujuan. Nama jalan candaan diharapkan mampu "memanggil" orang-orang yang peduli pada taman bacaan dan wisatawan untuk "mampir" ke taman bacaan. Ibaratnya biar ada "pemantik hiburan" buat medsos mereka. Maklum, TBM Lentera Pustaka terletak dan berada di kawasan wisata Gn. Salak Bogor yang tiap week end ada 5.000-an orang berwisata. Alhasil, hampir tiap hari Minggu selalu saja ada tamu yang berkunjung, entah menyumbang buku bacaan atau berbagi snack ke anak-anak TBM atau bahkan melihat aktivitas TBM. Itulah yang disebut "TBM Edutainment", sebuah model pengembangan taman bacaan yang memadukan edukasi n entertainment di taman bacaan. Agar anak-anak yang membaca lebih semangat karena dipedulikan orang-orang lain di luar sana. Sebuah kepedulian orang dewasa ada di taman bacaan. Bila mau dikelola dengan kreatif.

Lalu apa saja nama jalan candaan di TBM Lentera Pustaka? Jika disimak pelan-pelan bikin tergelitik yang membacanya. Dan jangan sampai baper. Anggap saja nasihat kehidupan. Berikut 8 nama jalan candaan yang sudah ada di TBM Lentera Pustaka dan artinya:

1.      JL. MASA DEPAN – BARENG ELO? GAK DEHYA. Artinya, banyak orang baru “jalan berdua’ sudah ngomongin masa depan. Inilah itulah padahal belum modal apa-apa. Maka “jalan masa depan” bereng elo, gak deh ya.

2.      JL. KITA TUH - MASIH PANJANG TAU. Artinya, banyak orang yang baru jalin hubungan sebentar alias seumur jagung tapi imajinasinya sudah kemana-mana. Kurang sadar diri, kayak sudah lama dan mapan gitu, padahal nol besar. Maka, “jalan kita tuh” masih panjang tau.

3.      JL. NIN AJA DULU – KALO COCOK BARU NIKAH. Artinya, setiap hubungan dijalankan saja dulu. Tidak usah banyak keinginan apalagi janji palsu. Ngomong sana-sini, tapi buktinya gak ada. Maka, “jalan nin aja dulu” kalo cocok baru nikah.

4.      JL. DOANG AJA – JADIAN KAGAK. Artinya, sekarang ini banyak orang ngajak pacaran ngajak jalan. Sering chat romantis bahkan tiap hari selalu WA atau telpon. Tapi sayang, statusnya gak jelas. Dibilang pacar bukan, tapi jalan bareng terus. Maka, “jalan doang aa”, jadian kagak.

5.      JL. BARENG YUK – ASAL SAMBIL BACA. Artinya, banyak orang awalnya ngajak jalan bareng sebelum pacarana. Penjajakan sambil pengen tahu satu sama lainnya. Sah-sah saja sih tapu jangan lupa sambil baca buku. Biar jadi pasangan yang literat. Maka, “jalan bareng yuk” asal sambil baca buku

6.      JL. SAMA AKU – NIKAH SAMA ORANG LAIN. Artinya sitiran buat orang-orang yang suka ngajak jalan orang bahkan sampai pacarana lama. Tapi ujung-ujungnya malah nikah sama orang lain. Alias PHP. Maka, “jalan sama aku” bikah sama orang lain.

7.      JL. BAHAGIA – ULAH DILUPAKAN. Artinya, pesan moral buat semua orang. Apapun kondisi dan keadaannya, maka jangan lupa untuk bahagia. Karena tidak ada yang bisa bahagiakan diri sendiri selain orangnya itu sendiri. Tidak udah berharap banyak dari orang lain. Maka, “jalan Bahagia” jangan (ulah) dilupakan.

8.      JL. LENTERA PUSTAKA – HIDUP LEBIH BERKAH. Artinya, sesuai nama taman bacaan “Lentera Pustaka”, tradisi baca dan budaya literasi harus tetap tegak berdiri apapun kondisinya. Agar anak-anak tidak “kalah” dari ponsel atau pergaulan bebas. Maka, “jalan lentera Pustaka” hidup jadi lebih berkah.

 

Begitulah kira-kira 8 nama jalan candaan yang ada di TBM Lentera Pustaka. Sebagai upaya memotivasi dan menghibur 70-an anak-anak yang kini telah rajin membaca smeinggu 3 kali (Rabu-Jumat-Minggu). Padahal sebelumnya, mereka anak-anak yang jauh dari akses buku bacaan. Bahkan terancam putus sekolah akibat kemiskinan atau ketiadaan ekonomi orang tua.

 


Kampanye “nama jalan candaan’ di TBM Lentera Pustaka pun akan diteruskan. Ada nama-nama jalan lain yang belum dibuat, seperti: 1) JL. BERDAMPINGAN – TAPI GAK PERNAH JAJAN, 2) JL. KEMANA-MANA – UJUNGNYA BALIK KE GUE, 3) JL. KUATKAN HATIMU - BILA MAU BERSAMAKU, 4) JL. SUNYI SEPI – SEPERTI HATIKU SENDIRI, 5) JL. SIBUK BANGET – TAPI GAK ADA HASILNYA, 6) JL. INI LURUS – YANG BENGKOK KAMU, 7) JL. MUTER-MUTER – GAK JELAS KAYAK KAMU, dan 8) JL. TERBAIK APA? – KITA PUTUS AJAH.

 

Untuk diketahui, TBM Lentera Pustaka merupakan taman bacaan masyarakat (TBM) swadaya yang didirikan oleh Syarifudin Yunus, seorang dosen, konsultan dan edukator dana pensiun dan kini menjadi pegiat literasi di Indonesia. Terletak di kaki Gunung Salak Bogor, TBM Lentera Pustaka berdiri sejak tahun 2017 dan kini menjadi tempat membaca 70-an anak-anak usia sekolah yang terancam putus sekolah akibat kemiskinan di wilayahnya. Secara rutin mereka membaca seminggu 3 kali (Rabu-Jumat-Minggu) dan kini telah terbiasa membaca buku 5-8 buku per minggu. Dari sebelumnya tidak memiliki akses buku bacaan sama sekali. Dengan koleksi lebih dari 3.800 buku, TBM Lentera Pustaka bertekad menegakkan tradisi baca dan budaya literasi pada anak-anak agar tidak tergerus oleh nafsu era digital yang kadang menyesatkan anak-anak. 

 

Berbekal tata kelola taman bacaan model "TBM Edutainment" yang berbasis edukasi dan entertainment, TBM Lentera Pustaka menjadi taman bacaan yang dikenal unik dna kreatif karena mentradisikan 1) membaca bersuara, 2) senam literasi, 3) salam literasi, 4) doa literasi, 5) laboratoriun baca, 6) event bulanan dengan mendatangkan "tamu dari luar" setiap bulan, dan 7) jajanan kampung gratis. 

 

Selain aktivitas taman bacaan, TBM Lentera Pustaka pun memeiliki program GEBERBURA (GErakan BERantas BUta aksaRA) yang diikuti 11 ibu-ibu buta huruf namun  kini sudah bisa membaca dan menulis secara perlahan, di samping membina 12 anak yatim sebagai binaan agar tetap lanjut sekolah walaupun bapaknya sudah tidak ada. 

 

Semua dilakukan, demi tegaknya tradisi baca dan budaya literasi masyarakat. Salam literasi #TBMLenteraPustaka #TamanBacaan #PegiatLiterasi #NamaJalanCandaan



Tidak ada komentar:

Posting Komentar