Minggu, 30 Desember 2018

Riska, Secuil Kisah Anak Yatim Juara 3 Tahfidz dari TBM Lentera Pustaka


Harus diakui, zaman now tidak banyak anak-anak yang pandai membaca Al Quran. Kenapa? Sebagian menjawab karena malas, sebagian lagi bilang sangat sulit. Bahkan yang paling banyak bilang tidak punya waktu. Sudah pasti, alasan apapun terlalu mudah untuk dicari. Padahal bagi umat Islam, hanya di Al Quran ada petunjuk untuk hidup di dunia, ada pahala yang besar. Dan membaca Al Quran, yang paling penting, pasti mendatangkan kebaikan.

Berangkat dari realitas itu, saya menuliskan catatan ini. Sebagai bentuk apresiasi dan sekaligus “cara mudah dimudahkan segala urusan” akibat kita senang membaca Al Quran. Adalah Riska Nurul Fajirin, anak yatim kelas VI SD yang selama ini aktif dan rajin membaca di TBM Lentera Pustaka berhasil menggaet Juara III Lomba Tahfidz “Hisbah Ceria Season 2 – Menciptakan Generasi Muda Robbani” yang diselenggarakan Yayasan Al Hisbah Bogor pada 30 Desember 2018.

Di usia 12 tahun, Riska mampu bersaing dengan 30 peserta lomba tahfidz yang ada. Sebagai juara 3, dia berhak memeproleh hadiah berupa uang R. 75.000 + piala + piagam. Tentu jangan dilihat dari hadiahnya. Tapi ini sinyal bahwa anak-anak yang mampu membaca Al Quran apalagi hafal, adalah penyelamat kehidupan dunia yang kian hingar-bingar.  Silakan dicek, di balik musibah tsunami di Selat Sunda, bahkan di Palu dan Aceh dulu, pasti ada anak-anak yang diselamatkan Allah SWT karena mereka “tercatat dalam keseharian” rajin membaca Al Quran, termasuk hafiz atau penghafal Al Quran.


Maka TBM Lentera Pustaka yang terletak di Kp. Warung Loa Desa Sukaluyu Kec. Tamansari Kab. Bogor merasa penting untuk mengangkat kisah Riska, 12 tahun yang sekitar pertengahan tahun 2018 lalu baru saja ditinggalkan ayahnya. Kini Riska seorang anak yatim. Sejak TBM Lentera Pustaka berdiri November 2017 lalu, Riska adalah anak yang aktif dan rajin membaca di TBM. Bahkan ia sempat menyabet “pembaca terbaik” TBM Lentera Pustaka pada Maret 2018 lalu. Atas ketekunan dan kerajinannya untuk selalu hadir pada jam baca tiap Rabu sore, Jumat sore, dan Minggu pagi.

Harus diakui, mencetak anak-anak yang pandai membaca Al Quran tidaklah mudah. Bahkan mencetak anak yang hafal Al Quran pastinya sangat sulit. Di samping butuh kemauan dan niat yang tulus, anak yang gemar membaca Al Quran harus didukung oleh lingkungan dan keluarga yang “getol” membaca Al Quran. Inilah salah satu pentingnya membangun “budaya literasi” di sebuah lingkungan, di sebuah wilayah. Agar anak-anak rajin membaca, termasuk membaca Al Quran.

Khusus untuk Riska, kemampuan membaca Al Quran dan menjadi seorang hafiz, apalagi dalam keadaan sebagai anak yatim sudah pasti “kebiasaan” hari-harinya tidak sama dengan anak-anak lainnya. Di samping rajin sholat, keseharian Riska pasti dekat dengan kebiasaan membvacxa Al Quran di rumah di madrasah, membantu Ibu di rumah, membimbing adik-adiknya di rumah, membaca di TBM Lentera Pustaka hingga rajin belajar. Perilaku anak-anak zaman now seperti Riska inilah yang sudah langka.

"Saya menuliskan kisah tentang Riska, sebagai rasa syukur dan bangga. Karena setidaknya, kehadiran TBM Lentera Pustaka telah membuatnya berani tampil di muka umum dalam lomba tahfiz. Alhamdulillah, dia bisa meraih Juara 3. Ini prestasi anak kampung yang patut diapresiasi. Sederhana tapi harus ada yang mau mempromosikannya” ujar Syarifudin Yunus, Kepala Program TBM Lentera Pustaka yang sangat bergembira saat mendapat kabar ini.

Zaman boleh maju. Tapi sayang, peradaban dan sikap cinta kepada dunia pun makin menggila. Hingga akhirnya, berapa banyak anak-anak dan orang dewasa yang kian “menjauh” dari Al Quran. Manusia sering lupa, kehidupan dunia bukanlah tujuan tapi “jembatan” untuk menuju kehidupan yang abadi di akhirat. Oleh karena itu, ibadah wajib termasuk ibadah membaca Al Quran harus mampu mengimbangi kehidupan dunia yang kian fana.

Inilah momentum penting untuk “menghidupkan kembali” anak-anak kita untuk dekat dengan Al Quran; membacanya lalu mengahfalnya. Alasannya sederhana, karena hebatnya keutamaan membaca Al Quran. Mungkin kita lupa, Membaca Al Quran adalah perdagangan yang tidak pernah merugi. Satu huruf AL Quran yang dibaca. Selain itu, membaca Al Quran bagaimanapun akan mendatangkan kebaikan dan syafaat yang luar biasa. Dan yang paling penting, salah satu ibadah paling agung di mata Allah SWT adalah membaca Al Quran. Karena dengan membaca Al Quran, siapapun tidak akan sesat di dunia dan tidak akan merugi di akhirat.

Maka, jadikanlah membaca Al Quran sebagai tradisi. Budaya literasi untuk membaca, membaca buku pengetahuan dan membaca Al Quran. Agar mendapat petunjuk dan tuntunan, bagaimana seharusnya kita “hidup” di dunia yang sementara ini?

Bukan hanya dimuliakan oleh Allah SWT, membaca Al Quran sevara terus-menerus dan setiap hari pada akhirnya pun mampu menyelamatkan kedua orang tua, seperti apa yang dilakukan Riska si anak yatim. Bahkan lebih dari itu, bila suatu wilayah atau keluarga ingin terbebas dari masalah di dunia dan mendapatkan anugerah Allah SWT yang tiada berbatas, menurut saya, resepnya hanya satu: “rajin-rajinlah membaca Al Quran”.

Semangat budaya literasi inilah yang menjadikan TBM Lentera Pustaka ingin berbuat lebih banyak kepada masyarakat dan anak-anak usia sekolah. Oleh karena itu, TBM Lentera Pustaka mengusung motto #BacaBukanMaen agar anak-anak “selalu dekat dengan buku”. Bahkan kini, TBM Lentera Pustaka pun telah memulai GErakan BERantas BUta aksaRA (GEBER BURA) sebagai ikhtiar untuk membebaskan ibu-ibu dan bapak-bapak dari buta hurif. Sederhana saja, agar mereka bisa membaca Al Quran atau terjemahannya saat di bulan puasa.
Ini hanya secuil kisah anak yatim dari TBM Lentera Pustaka, Riska namanya yang berhasil meraih Juara 3 Tahfiz. Sementara anak-anak lainnya, tiap malam sibuk memegang remote televisi menonton acara yang tidak bermanfaat. Sementara anak-anak lain lebih senang nongkrong yang tidak ada gunanya. Mengapa kita tidak menyuruh anak-anak kita untuk rajin membaca Al Quran bila tahu kehebatan manfaatnya?

Semoga anak-anak kita, anak-anak TBM Lentera Pustaka kian rajin membaca. Karena dengan membaca, Allah akan memberi kekuasaan di tangan kanan dan kekekalan di tangan kiri. Dan di atas kepala akan dipasang “mahkota perkasa” yang harganya tidak dapat dibayar oleh seluruh penghuni dunia sekalipun.
Maka budaya literasi, harus terus tumbuh dan bersemayam di anak-anak kita. Kalau bukan kita siapa lagi? Kalau bukan sekarang kapan lagi? …. Salam Literasi  #BudayaLiterasi #BacaBukanMaen #TBMLenteraPustaka


Tidak ada komentar:

Posting Komentar