Jumat, 19 Juni 2026

Ramainya Taman Bacaan Berbekal Konsep TBM Edutainment

Membangun budaya literasi di era digital memang tidak mudah. Begitu pula mengembangkan taman bacaan sebagai sentra perilaku membaca anak-anak pun tidak gampang. Maka wajar, banyak taman bacaan seakan “mati enggan hidup tak mau”. Lalu, bagaimana mempertahankan taman bacaan di tengah era digital?

 

Salah satu yang bisa dilakukan adalah menerapkan konsep “TBM Edutainment”, sebuah  model pengelolaan taman bacaan yang menggabungkan unsur edukasi (pendidikan) dan hiburan - edutainment. Konsep ini digagas oleh Dr. Syarifudin Yunus, M.Pd. pada tahun 2017 yang secara langsung diterapkan di TBM Lentera Pustaka Bogor hingga saat ini. Intin dari TBM Edutainment adalah menjadikan kegiatan membaca sebagai aktivitas yang asyik, kreatif, dan menyenangkan bagi masyarakat, khususnya anak-anak,

 

Semua orang tahu, membaca itu penting. Tapi sayangnya, aktivitas membaca dianggap banyak orang tidak asyik dan tidak menyenangkan. Karenanya TBM Edutainment menyajikan cara-cara menjadikan kegiatan membaca sebagai aktivitas yang asyuk dan menyenangkan. Beberapa poin-poin utama dari konsep TBM Edutainment dalam mengelola taman bacaan antara lain:

1.        Prinsip dasar: Menjadikan taman bacaan bukan sekadar tempat membaca buku, melainkan pusat kegiatan masyarakat yang rekreatif namun tetap memiliki muatan nilai pendidikan,.

2.        Aktivitas khas TBM Edutainment: Dirancang khusus untuk menjadikan taman bacaan sebagai tempat yang asyik dan menyenangkan sehingga menjadi pemicu anak-anak untuk konsisten datang ke taman bacaan seperti kegiatan:

o  Salam literasi, yel-yel sebelum kegiatan membaca dimuali

o  Doa literasi, membaca doa bersama sebelum membaca

o  Senam literasi, gerakan senam yang dilakukan sebelum waktu baca dimulai untuk membangkitkan semangat dan mengusir rasa bosan.

o  Membaca bersuara, teknik membaca bersuara secara massal untuk meningkatkan kepercayaan diri dan konsentrasi terhadap bacaan.

o  Laboratorium baca, aktivitas motivasi setiap hari Minggu di ruang terbuka untuk bermain, motivasi bahkan eksplorasi buku-buku bacaan melalui permainan.

o  Event bulanan, selalu ada event setiap bulan yang dibarengi dengan jajanan kampung gratis untuk anak-anak pembaca aktif agar mereka lebih betah,.

o  Membaca di alam, dengan memanfaatkan ruang terbuka (seperti di Sungai, di kebun) untuk membaca agar anak-anak tidak merasa terkekang di dalam ruangan.

3.        Model Inovasi: TBM Edutainment juga mencakup sarana akses bacaan yang fleksibel, seperti Motor Baca Keliling (MOBAKE) yang mendatangi kampung-kampung untuk menyediakan akses buku bacaan bagi warga yang memiliki keterbatasan bahan bacaan.

 

TBM Edutainment sudah dijadikan buku berjudul “Membangun Budaya Literasi dan Taman Bacaan berbasis Edukasi dan Hiburan – TBM Edutainment” oleh Dr. Syarifudin Yunus, M.Pd. pada November 2022. Sebagai antisipasi terhadap keadaan taman bacaan yang nyatanya hanya 20% ruang baca TBM yang memadai, 60% koleksi buku TBM tidak memadai, dan 60% TBM yang beroperasi tidak punya legalitas. Taman bacaan sebagai jalan sunyi pengabdian kian “jauh panggang dari api”, karena itu dibutuhkan model pengembangan taman bacaan yang lebih kreatif dan kompetitif. Agar taman bacaan di mana pun dapat tetap eksis dan bertahan dalam menebarkan virus membaca ke tengah masyarakat.

 

TBM Edutainment pun menekankan pentingnya praktik baik di taman bacaan, di samping memelihara 3 syarat utama TBM dapat bertahan di era digital, yaitu 1) ada anak, 2) ada buku bacaan, dan 3) ada komitmen pengelola sepenuh hati. Untuk itu, salah satu cara yang ditempuh adalah menerapkan model “TBM Edutainment” sebuah model tata kelola taman bacaan berbasis edukasi dan hiburan sebagai solusi untuk menjadikan taman bacaan sebagai tempat asyik dan menyenangkan.

 

Pada tahun 2024, konsep TBM Edutainment akhirnya dijadikan penelitian disertasi Dr. Syarifudin Yunus, M.Pd. untuk meraih gelar doktor manajemen pendidikan dari SPs Universitas Pakuan dengan tujuan sebagai strategi untuk meningkatkan efektivitas tata kelola taman bacaan sebagai layanan dasar pendidikan nonformal.

 

Bebekal pengalaman nyata menerapkan TBM Edutainment, kini TBM Lentera Pustaka menjalani 16 program literasi dengan 200-an anak pembaca aktif dan melayani 350-an pengguna layanann setiap minggunya. Beroperasi 6 hari dalam seminggu dan didukung 18 relawan aktif, kebiasaan membaca sudah melekat di anak-anak TBM Lentera Pustaka, di samping adanya partisipasi orang tua untuk ikut serta berada di taman bacaan. Dengan menerapkan model TBm Edutainment, TBM Lentera Pustaka berhasil membina anak-anak yang semula jauh dari akses buku menjadi pembaca aktif yang mampu melahap 5 hingga 8 buku per minggu, salam literasi!

 







Tidak ada komentar:

Posting Komentar