Fakta hari ini, 9 dari 10 pekerja di Indonesia sama sekali tidak siap pensiun. Alhasil, 8 dari 10 pensiunan bergantung secara finansial kepada anggota keluarganya yang bekerja (BPS, 2024). Sementara ADB (2024) menyebut 1 dari 2 pensiunan di Indonesia benar-benar mengandalkan transferan anak untuk memenuhi biaya hidupnya setiap bulan. Bila begitu, maka ada pertanyaan penting. Bagaimana aku menghadapi masa pensiun?
Mungkin ada yang sepakat. Akan kuhadapi masa pensiun dengan penuh
kesiapan, keyakinan, dan rasa syukur. Pensiun bukanlah akhir dari perjalanan
hidup, melainkan awal dari babak baru yang memberi kesempatan untuk menikmati
hasil kerja keras selama bertahun-tahun. Masa ini menjadi momentum untuk
menjalani kehidupan dengan lebih tenang, lebih bermakna, dan lebih dekat dengan
hal-hal yang selama ini mungkin tertunda karena kesibukan pekerjaan.
Akan kuhadapi masa pensiun dengan semangat untuk terus bertumbuh dan
berkarya. Berhentinya aktivitas kerja formal tidak berarti berhentinya
produktivitas. Justru pensiun dapat menjadi waktu yang tepat untuk
mengembangkan hobi, menekuni usaha kecil, berbagi pengalaman kepada generasi
muda, atau terlibat dalam kegiatan sosial yang memberikan manfaat bagi
masyarakat. Pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki selama bekerja tetap
menjadi aset yang berharga.
Akan kuhadapi masa pensiun dengan hati yang bahagia dan pikiran yang
positif. Masa pensiun adalah kesempatan untuk lebih banyak meluangkan waktu
bersama keluarga, menjaga kesehatan, memperkuat hubungan sosial, dan menikmati
berbagai pengalaman yang membawa kebahagiaan. Dengan persiapan yang baik, masa
pensiun dapat menjadi periode kehidupan yang penuh makna, produktif, sehat, dan
sejahtera.
Tapi sayangnya, aku belum siap pensiun karena belum punya perencanaan
yang matang dan pengelolaan keuangan yang bijak untuk pensiun. Mau tidak mau,
di sisa wkatu tersisa, aku harus persiapkan masa pensiunku sendiri. untuk
memastikan tetap mandiri secara finansial di hari tua sekaligus tidak bergantung
kepada anak atau keluarga. Lebih dari itu, aku harus mencari cara untuk bisa memiliki
kesinambungan penghasilan setiap bulan setelah pensiun. Agar masa pensiun bisa
lebih tenang dan tetap sejahtera.
Karena itu, aku mulai berpikir untuk mulai menjadi peserta DPLK (Dana
Pensiun Lembaga Keuangan). Menabung rutin setiap bulan dan menyisihkan sebagian
gaji untuk hari tua. Sebab melalui DPLK, aku berharap 1) ada kepastian dan yang
cukup untuk hari tua, 2) punya kesinambungan penghasilan di masa pensiun, dan
3) bisa menjaga standar hidup seperti saat masih bekerja.
Karenanya, aku mencari di mana ada DPLK yang bisa mendaftar secara online?
Tentu, aku harus memilih DPLK yang punya akses digital (melalui aplikasi dana
pensiun secara online). Agar aku sebagai pekerja bisa lebih mudah memantau akumulasi dana dan
terlayani dengan cepat. Sebagai peserta DPLK, aku ingin terlibat langsung dalam
menentukan pilihan investasi, tahu biaya yang dikenakan, dan bisa memanta dana
secara langsung di mana pun dan kapan pun. Apalagi sekalipun sudah puluhan
tahun bekerja, kantor tempatku bekerja tidak menyediakan fasilitas DPLK. Maka
harus mencarinya sendiri untuk bisa memiliki DPLK. Agar aku tahu, berapa iuran
yang harus disetor dan berapa besar manfaat yang akan diterima saat pensiun? (Untuk
itu, silakan kunjungi: https://simpensiun.com/).
Aku sadar, cepat atau lambat pasti akan pensiun. Karena itu, aku harus
persiapkan masa pensiunku sendiri. agar kelak, aku tidak menyusahkan anak-anak
atau orang lain. Dan kini aku sadar, harus berani siapkan masa pensiun yang
tenang dan sejahtera untuk diriku sendiri, Salam sehat selalu dan
#YukSiapkanPensiun
%20rev.png)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar