Kamis, 21 Mei 2026

Nasihat Literasi: Jangan Jadi Penyebab Orang Tidak Makan atau Menangis

Saat ditanya, apa saja yang boleh di dunia ini? Saya menjawab, selagi itu baik dan bermanfaat apa saja boleh. Silakan, apapun bentuknya kerjakanlah. Tapi yang harus dipahami adalah ada satu jenis manusia yang paling berbahaya di dunia ini. Bukan orang yang kasar, bukan orang yang keras. Banyak yang tidak sadar bahwa ada perilaku atau tingkah kita yang membuat orang lain tidak bisa makan, membuat orang lain menangis diam-diam, atau memilih membisu karena lelah menjelaskannya.

 

Semuanya boleh, asal jangan jadi penyebab orang tidak makan atau menangis. Kalimat itu memang sederhana. Tapi sebenarnya tamparan halus buat kita semua. Jangan jadi penyebab orang tidak makan. Jangan jadi penyebab orang menangis. Jangan jadi penyebab orang jadi diam. Jangan pernah menjadi manusia yang menjadi alasan seseorang berdoa sambil menangis.

 

Agak miris memang, karena kita semua pernah, entah sadar atau tidak, berada di posisi itu. Bukan sebagai monster yang sengaja menyakiti. Tapi sebagai manusia biasa yang abai. Lalai pada ucapan. Lalai pada nada bicara.  Lalai bahwa diamnya seseorang bukan berarti baik-baik saja. Yang paling nyelekit adalah kalimat terakhir: doa sambil menangis. Dalam tradisi spiritual kita, doa orang yang terzalimi itu tidak bertirai. Ia langsung naik, tanpa filter, tanpa antre.

 

Tidak peduli siapa yang berdoa, tidak peduli agamanya apa, tidak peduli ia rajin ibadah atau tidak. Air mata yang jatuh karena luka yang tidak adil adalah tanda tangan semesta yang paling sah.  

 

Kita sering terlalu sibuk menjaga wudhu, menjaga jadwal ibadah, menjaga bacaan, tapi lupa menjaga hati orang lain. Padahal, bisa jadi satu kalimat enteng kita yang menyakitkan, lebih merusak daripada setumpuk dosa yang kita minta ampun setiap malam. Bukankah itu ironi spiritual yang paling getir? Rajin sujud, tapi jadi alasan seseorang menangis di sajadahnya. Coba lihat sekeliling. Pasangan yang memilih diam karena setiap bicara selalu dipatahkan.  

 


Ada kawan yang perlahan menjauh karena nasihat kita selalu terasa seperti vonis. Anak yang berhenti cerita karena orang tuanya selalu menyela dengan "kamu sih...". Orang tua yang menahan lapar karena uangnya kita pinjam tanpa kabar atau tidak dikembalikan. Karyawan yang menunduk karena atasannya tidak pernah puas. Kita memang belum tentu jahat. Tapi kita mungkin sedang melatih diri menjadi penyebab sunyi yang menyakitkan bagi orang lain.  

 

Spiritualitas bukan cuma soal hubungan vertikal. Ia juga soal memastikan bahwa kehadiran kita di bumi ini tidak membuat orang lain berdoa dalam isak tangis. Jangan sampai ibadah kita rapi, tapi ada nama kita disebut di sepertiga malam oleh seseorang yang dadanya sesak karena perbuatan kita. Itu bukan amal, itu utang yang sulit dilunasi.  

 

Jadi, sebelum tidur malam, bolehlah kita bertanya pelan: “adakah aku yang jadi penyebab orang tidak enak makan hari ini? Adakah air mata yang jatuh karena ucapanku? Adakah doa yang sedang dipanjatkan seseorang, dan aku adalah alasannya?” Kalau ada, besok masih sempat. Belum terlambat. Meminta maaf itu tidak menurunkan gengsi. Ia justru menaikkan derajat jiwa. Karena hanya orang yang kenal dirinya sendiri yang berani berkata, "Aku salah. Maafkan aku."  

 

Semoga kita semua dijauhkan dari menjadi manusia yang membuat orang lain menangis dalam doanya. Sebab, doa dari mata yang sembab tidak pernah main-main. Ia didengar tanpa halangan hingga ke atas. Pasti dan selalu. Maka, jangan jadi penyebab orang tidak makan atau menangis. #TBMLenteraPustaka



Tidak ada komentar:

Posting Komentar