Saat ditanya, apa saja yang boleh di dunia ini? Saya menjawab, selagi itu baik dan bermanfaat apa saja boleh. Silakan, apapun bentuknya kerjakanlah. Tapi yang harus dipahami adalah ada satu jenis manusia yang paling berbahaya di dunia ini. Bukan orang yang kasar, bukan orang yang keras. Banyak yang tidak sadar bahwa ada perilaku atau tingkah kita yang membuat orang lain tidak bisa makan, membuat orang lain menangis diam-diam, atau memilih membisu karena lelah menjelaskannya.
Semuanya boleh, asal jangan jadi
penyebab orang tidak makan atau menangis. Kalimat itu memang sederhana. Tapi sebenarnya
tamparan halus buat kita semua. Jangan jadi penyebab orang tidak makan. Jangan
jadi penyebab orang menangis. Jangan jadi penyebab orang jadi diam. Jangan
pernah menjadi manusia yang menjadi alasan seseorang berdoa sambil menangis.
Agak miris memang, karena
kita semua pernah, entah sadar atau tidak, berada di posisi itu. Bukan sebagai
monster yang sengaja menyakiti. Tapi sebagai manusia biasa yang abai. Lalai
pada ucapan. Lalai pada nada bicara. Lalai bahwa diamnya seseorang
bukan berarti baik-baik saja. Yang paling nyelekit adalah kalimat terakhir: doa
sambil menangis. Dalam tradisi spiritual kita, doa orang yang terzalimi itu
tidak bertirai. Ia langsung naik, tanpa filter, tanpa antre.
Tidak peduli siapa yang
berdoa, tidak peduli agamanya apa, tidak peduli ia rajin ibadah atau tidak. Air
mata yang jatuh karena luka yang tidak adil adalah tanda tangan semesta yang
paling sah.
Kita sering terlalu sibuk
menjaga wudhu, menjaga jadwal ibadah, menjaga bacaan, tapi lupa menjaga hati
orang lain. Padahal, bisa jadi satu kalimat enteng kita yang menyakitkan, lebih
merusak daripada setumpuk dosa yang kita minta ampun setiap malam. Bukankah itu
ironi spiritual yang paling getir? Rajin sujud, tapi jadi alasan seseorang
menangis di sajadahnya. Coba lihat sekeliling. Pasangan yang memilih diam
karena setiap bicara selalu dipatahkan.
Ada kawan yang perlahan
menjauh karena nasihat kita selalu terasa seperti vonis. Anak yang berhenti
cerita karena orang tuanya selalu menyela dengan "kamu sih...". Orang
tua yang menahan lapar karena uangnya kita pinjam tanpa kabar atau tidak
dikembalikan. Karyawan yang menunduk karena atasannya tidak pernah puas. Kita memang
belum tentu jahat. Tapi kita mungkin sedang melatih diri menjadi penyebab sunyi
yang menyakitkan bagi orang lain.
Spiritualitas bukan cuma soal
hubungan vertikal. Ia juga soal memastikan bahwa kehadiran kita di bumi ini
tidak membuat orang lain berdoa dalam isak tangis. Jangan sampai ibadah kita
rapi, tapi ada nama kita disebut di sepertiga malam oleh seseorang yang dadanya
sesak karena perbuatan kita. Itu bukan amal, itu utang yang sulit
dilunasi.
Jadi, sebelum tidur malam,
bolehlah kita bertanya pelan: “adakah aku yang jadi penyebab orang tidak enak
makan hari ini? Adakah air mata yang jatuh karena ucapanku? Adakah doa yang
sedang dipanjatkan seseorang, dan aku adalah alasannya?” Kalau ada, besok masih
sempat. Belum terlambat. Meminta maaf itu tidak menurunkan gengsi. Ia justru
menaikkan derajat jiwa. Karena hanya orang yang kenal dirinya sendiri yang
berani berkata, "Aku salah. Maafkan aku."
Semoga kita semua dijauhkan
dari menjadi manusia yang membuat orang lain menangis dalam doanya. Sebab, doa
dari mata yang sembab tidak pernah main-main. Ia didengar tanpa halangan hingga
ke atas. Pasti dan selalu. Maka, jangan jadi penyebab orang tidak makan atau menangis.
#TBMLenteraPustaka


Tidak ada komentar:
Posting Komentar