Di dunia kerja, banyak orang berpikir kerja keras itu cukup. Katanya, kerja yang bagus pasti nanti hasilnya akan kelihatan sendiri. Logikanya bisa diterima dan terdengar masuk akal sih. Tapi dalam realitasnya, dunia kerja tidak selalu begitu. Ada yang namanya politik kantor.
Buktinya, ada karyawan
yang kerja keras, mampu jadi problem solver, kerja sama tim-nya keren. Berangkat
gelap pulang gelap. Bisa tuntaskan banyak hal yang mandek di kerjaan. Loyal dan
berdedikasi. Tapi waktunya penilaian – KPI justru tidak terbaca sama atasannya.
Kata kita sudah kerja bagus tapi kata atasan biasa-biasa saja. Kenaikan gaji
stag, boro-boro di promosi.
Masalahnya, bukan
di kerja bagus. Bukan pula soal kinerja kita sendiri. Hasil kerjanya jelas ada
tapi tidak terbaca oleh atasan atau oleh kantor. Kerja bagus kita tidak terbaca
dengan jelas, apa dan di mananya? Kontribusi kita nyampur, bahkan dianggap memang
sudah bagian jobdesc kita. Tidak ada yang Istimewa dari kerjaan kita.
Banyak karyawan
kerjanya bagus. Tapi tidak terdokmentasi dengan baik. Tidak ada catatan kondisi
kerjaan before-after. Berhari-hari bahkan berbulan-bulan kerjaan dituntaskan
tapi tidak ada buktinya. Dan pelan pelan, apa yang kita kerjakan akhirnya
dianggap hal biasa saja. Sementara sistem kantor terlihat semuanya berjalan,
profit company juga meningkat. Tapi siapa yang kontribusi, tidak terbaca sama
sekali.
Realitas itu yang
sering bikin karyawan mulai frustrasi kerja. Mulai memandang negatif atasan dan
kantornya sendiri. Merasa sudah kasih tenaga, effort pikiran, bahkan waktu dan
mental dikorbankan untuk pekerjaan. Tapi ujungnya, karyawan merasa kurag
dihargai. Gaji tidak bertambah, posisi tidak berubah. Akhirnya, burnout sama
kerjaannya, sama atasannya bahkan sama kantornya sendiri. Sementara di kantor
lain, yang dinilai sering bukan cuma siapa yang kerja paling keras. Tapi siapa
yang kontribusinya paling terbaca?
Sederhana sih
urusan kerjaan. Salah satu kebiasaan kecil yang penting itu “mencatat
kontribusi kita atas pekerjaan”. Dari kondisi seperti apa sebelumnya jadi
bagaimana sekarang? Semuanya harus didokumentasikan. Proyek apa yang kita pegan,
masalah apa dan gimana cara kira membereskan? Proses apa yang diperbaiki dan
apa dampaknya? Semua harus tercatat dalam pekerjaan. Bukan untuk pamer tapi
supaya rekam jejak pekerjaan kita tidak hilang ditelan rutinitas.
Banyak karyawan
setiap hari kerja. Beresin ini beresin itu. Tapi semuanya ada di kepalanya, ada
di fisiknya. Terjebak pada rutinitas kerjaan. Tidak ada dokumentasinya. Padahal,
atasan atau kantor seringnya hanya melihat hasil akhir. Kontribusinya apa? Kita
lupa, atasan atau kantor itu tidak akan pernah mau melihat tekanan, proses, dan
keputusan kecil yang bikin semua sistem di kantor bisa jalan.
Maka bila kita
tidak menyimpan dokumentasi atau rekam jejak kerjaan, sudah pasti narasi soal
kontribusi kita gampang dibentuk orang lain. Dan di kantor, orang yang
posisinya makin kuat biasanya bukan cuma rajin kerja. Tapi juga paham cara
bikin value-nya terbaca dan tahu banget politik kantor. Harus ada bukti, ada rekam
jejak, ada dokumentasi, dan ada alasan konkret. Kenapa kontribusi dann keberadaannya
sangat bernilai di kantor? Itulah kontribusi yang terbaca.
Selagi jadi
karyawan, sama sekali tidak cukup cuma kerja bagus. Tapi harus tahu cara membangun
track record yang terukur. Mampu bikin kontribusi yang lebih terbaca, dan bisa
meningkatkan value supaya posisi kita tidak gampang tergeser. Terkadang yang
bikin karyawan mandek di karier bukan kurang kerja keras tapi hasil kerjanya tidak
pernah terbaca sehingga terlihat biasa-biasa saja.
Sama seperti karyawan
yang bekerja puluhan tahun tapi tidak mau menyiapkan masa pensiunnya sendiri. Lupa,
masa pensiun yang Sejahtera itu harus ada rekam jejaknya ada dokumentasinya, di
mana menabung untuk dana pensiun? Agar tetap sehat dan Sejahtera sata tidak
bekerja lagi, saat nanti pensiun. #YukSiapkanPensiun
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar