Di dunia kerja, setiap karyawan selalu diajarin satu hal. “Kerja aja yang rajin, nanti pasti dihargai kantor kok”. Doktrin itu dianut sebagian besar atasan dan HRD. Makanya, karyawan yang fanatik alias “kena” doktrin itu, sampai sekarang selalu datang paling pagi, paling cekatan di kantor, paling jarang menolak kerjaan bahkan pulnganya pun paling malam. Jadilah karyawan yang berdedikasi.
Tapi salah
seoarang kawan saya, belakangan bbaru sadar. Dia tanya, “kok gue kerja udah
paling rajin, paling malam pulangnya tapi begini-begini aja ya” katanya.
Sambil tersenyum,
saya kasih tahu kawan itu. “Begini bro, kerja paling rajin itu belum tentu
bikin posisi elo di kantor ikut naik. Pulang kerja paling malam bukan berarti
gaji paling gede. Kerja ya ikut jobdes aja” jawab saya.
Mungkin, kita
pernah lihat orang kerja kayak kawan saya. Paling rajin, paling cekatan dan
paling rapi urusan kerjaan. Tia pada kerjaan yang belum selesai, dia paling
duluan turun tangan. Sangat membantu sekali. Bahkan sering bantu atasi kerjaan
orang lain juga. Tapi anehnya, tiap ada promosi di kantor, namanya jarang masuk
hitungan. Seolah sistem kantor nyaman banget memakai dia sebatas pekerja yang
rajin.
Saya pun kasih
tahu ke kawan tadi, Jadi, kalau elo begitu terus kerja dan posisinya
begitu-begitu aja, sangat mungkin elo bakal capek sendiri. Karena dari sudut
pandang elo, semua kerjaan sudah dilakukan dengan benar. Loyal, dedikasi,
rajin, kerja sama, dan tanggung jawab. Cuma akhirnya elo bingung sendiri
nantinya. Penghargaan dan hasil yang diperoleh tidak sebanding dengan effort
yang kita keluarkan setiap hari di kantor. Jadi, banyak karyawan
burnout ya karena kayak gitu-gitu di kantor.
Kerja yang rajin
sih nggak ada yang salah, bagus banget malah. Kalau karier gitu-gitu aja bukan karena
kita kurang bagus kerjanya. Tapi karena kita terlalu fokus jadi “orang rajin di
kantor”. Sampai lupa bangun value dan posisi tawar di kantor. Kita cuma sibuk nunjukin
ke atasan kalau kita ini rajin dan bisa kerja keras. Tapi nggak pernah bikin
sistem di kantor sadar, “kenapa kita layak dianggap penting dan dihargai?”.
Dan akhirnya,
kerja model begitu justru makin bahaya. Karena orang mulai menganggap kerja
keras kerja rajin itu hal biasa. Beban
kerja makin bertambah, ekspektasi atasan makin tinggi tapi posisi kita tetap
segitu-gitu saja. Kita capek terus, sementara orang lain mulai naik. Karena orang
lain paham “cara main” yang beda di kantor. Sementara si rajin si pekerja keras
ya tetap saja datang paling pagi pulang paling malam.
Banyak orang lupa,
effort memang penting di dunia kerja. Tapi effort tanpa positioning cuma bikin kita
jadi “karyawan andalan” di kantor, bukan karyawan yang “diprioritaskan” untuk
punya karier berkembang atau naik. Makanya di kantor-kantor itu, ada karyawan yang
kelihatannya Santai. Tapi lebih cepat naik, lebih cepat berkembang. Coba deh
dicek, siapa?
Faktanya, banyak
karyawan yang rajin justru mentok di level worker. Kerja paling rajin bahkan
kerja keras itu nggak cukup untuk menyelamatkan karier atau masa depan. Tapi kalau
mau jadi pekerja rajin dan keras ya silakan sih dilanjut saja. Cuma besok-besok
jangan kaget, beberapa tahun lagi kita masih jadi orang yang paling sibuk. Tapi
bukan yang paling dianggap besar kontribusinya. Dan akhirnya, untuk bisa naik
level terpaksa harus “cari muka” bukan bikin kerjaan lebih berdampak dan nail
value-nya.
Dan yang paling
memprihatinkan, buat apa dikenal kerja paling rajin paling loyal kalau akhirnya
nggak bisa nabung di dana pensiun. Kerjanya pasti bisa puluhan tahun tapi hari
tuanya nggak pasti. Bisa sehat dan Sejahtera nggak di masa pensiun?
#YukSiapkanPensiun
%20rev.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar