Seorang kawan mengeluh soal kerjaan di kantor. Katanya, kerja sudah lebih dari 10 tahun tapi merasa tidak maju. Semua kerjaan dikerjain dan beres tapi merasa tidak dihargai. Dia bertanya, “apa yang salah dengan gue soal kerjaan?”
Jawabnya, sederhana
sih. Tidak ada yang salah. Tapi kita sering kurang paham. Bahwa di tempat
kerja, kita nggak akan naik kalau rajin mengerjakan semua hal. Kedengarannya
aneh. Tapi begitulah nyatanya. Sebab, semakin kita ambil semua kerjaan justru semakin
kita kelihatan sebagai karyawan yang biasa. Karena yang bikin kita naik bukan
banyaknya kerja, tapi nilai dari kerjaan kita.
Banyak karyawan
di tempat kerja, mikirnya “yang penting semua kerjaan beres dulu.” Akhirnya,
semua dikerjain. Dari yang penting, sampai yang cuma numpang lewat. Kita jadi
sibuk terus tiap hari. Tapi di akhir hari, kita merasa capek tanpa merasa maju. Lelah
tapi demotivasi. Nah, kalau kita merasa kerja kayak gitu, itu bukan karena kita
nggak mampu milih kerjaan. Tapi kita belum pernah diajarin: “mana kerjaan yang
punya value tinggi, dan mana yang cuma buang energi?”.
Anehnya di tempat
kerja, sistem kerja itu jarang dibahas. Job desc ada tapi apresiasi jarang ada.
Bahkan ada yang dikotori politik kantor, akhirnya jadi pilih kasih soal carrier
path. Makanya ada karyawan yang kerja lebih sedikit, tapi naik lebih cepat. Bukan
karena dia malas. Tapi karena dia fokus ke kerjaan yang berdampak. Sementara kita?
Hanya menghabiskan waktu untuk kerjaan-kerjaan yang seharusnya nggak perlu kita
sentuh.
Kita sering lupa.
Di tempat kerja, yang bikin kita naik bukan jumlah kerjaan. Tapi pilihan
kerjaan. Kita dibayar bukan untuk sibuk, tapi buat memberi dampak. Dan selama kita
belum bisa memilih, kita bakal terus muter di situ.
Kerja yang bernilai
itu bukan soal jadi lebih rajin. Tapi soal mulai sadar: “mana yang harus kita
ambil, dan mana yang harus kita lepas”. Kerjaan memang nggak sesimpel
kelihatannya tapi harus ada sikap yang jelas dalam bekerja. Sama seperti urusan
dana pensiun, sangat gampang bilang nanti saja atau masih lama pensiun. Tapi
bila kerja sudah puluhan tahun, tapi nggak punya dana pensiun, itu berarti kita
tidak punya prioritas dalam bekerja. Bukankah cepat atau lambat, setiap karyawan
pasti pensiun?
Urusan kerjaan di kantor memang pelik. Banyak orang tahu mereka capek di hal yang salah, tapi tetap dilakukan setiap hari. Karena nggak tahu harus mulai dari mana., dan akhirnya kerja jadi begitu-begitu saja. Sama halnya banyak karyawan tahu dana pensiun itu penting tapi kok belum mau mulai nabung untuk masa pensiunnya sendiri? Akhirnya, berjaya hanya saat bekerja, setelah pensiun jadi merana. Hari tua yang bergantung pada anak dan tidak mandiri secara finansial. Jadi, relasi kerjaan di kantor dan dana pensiun: bukan soal jumlahnya tapi dampaknya buat si karyawan. #YukSiapkanPensiun

Tidak ada komentar:
Posting Komentar