Ini cuma cerita di kantor sebelah. Seorang kawan awal tahun 2026 ini baru dapat promosi jabatan. Jadi manajer di kantornya, gajinya naik dan dapat fasilitas mobil. Hampir semua orang di kantor tepuk tangan buat dia.
Saat ketemuan sambil ngopi
dengan dia, saya ucapkan selamat dan doa semoga sukses selalu di kerjaannya. Tapi
mimik wajahnya malah kayak orang gelisah. Dia bilang "Gue merasa semua ini
cuma kebetulan aja bro. Sebenarny ague belum pantas. Sekarang, malah tiap hari
gue takut kalau orang kantor sadar, sebenernya nggak jago-jago amat. Takut
dipecat kalau gue ketahuan aslinya” ujar dia.
Agak aneh kawan saya ini.
Naik jabatan kok malah merasa kayak “pencuri yang lagi nunggu ditangkap”. Naik
pangkat malah stress dan bilangnya mendingan jadi pekerja biasa-biasa saja. Bukannya
bersyukur dan bangga, kok malah jadi gelisah.
Mungkin, perasaan seperti
kawan saya ini bisa terjadi di banyak orang. Pekerja yang justru khawatir saat dapat
promosi. Gelisah saat naik jabatan atau pangkat. Orang-orang yang stress bukan
pada saat gagal. Tapi stress gara-gara ptomoosi jabatan atau llagi
sukses-suksesnya. Dan ternyata, di kalangan pekerja, itulah yang disebut dengan
“imposter syndrome”. Sebuah kondisi psikologis di mana seseorang merasa tidak
layak atas pencapaiannya, meragukan kemampuan diri, dan takut dianggap sebagai
penipu meskipun ada bukti kompetensi yang jelas.
Ada benarnya di kalangan
pekerja. Semakin tinggi pencapaian justru semakin besar suara batin yang bilang
"ini cuma keberuntungan" atau "ini cuma hasil akting atas
kerjaan”. Naik jabatan dianggap hasil spekulasi. Sehingga pengidapnya sering
merasa kesuksesan hanyalah faktor keberuntungan, bukan kerja keras. Dan akhirnya,
si pekerja yang imposter syndrome jadi cemas dan burnout. Lelah
sendiri dengan jabatan dan kerjaannya.
Saya pun berpikir, kok ada ya
pekerja yang tidak yakin dengan pencapaiannya sendiri? Dan ternyata, memang
sebagian pekerja menganut “perfeksionis”. Pekerja yang tidak mampu melihat keberhasilan
kerjanya sendiri yang begitu banyak. Karena fokusnya pada satu hal kecil yang
dirasa kurang. Dari perasaan inilah, si pekerja akan merasa dirinya tidak
kompeten.
Kasihan juga ya, pekerja
yang mengalami imposter syndrome. Malah tersikssa batin dan pikiran saat naik
jabatan atau dipromosikan di kantornya, Tidak bisa menikmati “kemenangan” yang
diraihnya sendiri. Merasa kemampuan dan kerjanya biasa saja tapi diapresiasi
bos atau kantor. Dia merasa jadi penipu, karena apa yang dikerjakannya bukan kehebatan
tapi standar yang bisa dilakukan semua orang.
Tidak sedikit pekerja yang
kurang percaya diri. Bahkan menyatakan dirinya tidak kompeten. Bikin simpel
saja di kantor, semua apresiasi harusnya diterima karena ada mekanismenya.
Berhentilah berpikir perfeksionis. Teruslah ikhtiar untuk membuktikan bahwa apa
yang diraih sepada dengan kerja dan tanggung jawab yang dijalankan.
Jangan gampang bilang hoki
atau keberuntungan. Sebab tidak ada di dunia ini yang “kebetulan”, semuanya
sudah ada jalannya masing-masing. Hoki itu tidak mungkin bisa diulang. Justru
karena kita punya kapasitas maka diapresiasi orang lain atau kantor. Jangan
terllau merendahkan apa yang sudah dicapai diri sendiri, apalagi yang diraih
orang lain. Sikap menghargai itu penting, buat diri sendiri dan orang lain.
Jadi, buat siapapun yang lagi
ada di posisi sekarang. Bersyukurlah, karena itu adalah hasil ikhtiar yang
panjang. Berhenti merasa bersalah atas kesuksesan diri sendiri. Dan kita memang
panras untuk mendapatkannya.
Jangan sampai naik jabatan malah
stress, lalu berpikir pengen kerja yang biasa-biasa aja. Pikiran itu salah. Justru
dengan naik jabatan dan gaji besar, muali nabung untuk masa pensiun. Bila perlu
bilang ke kantor, tolong sediakan dana pensiun untuk semua karyawan. Sebab cepat
atau lambat, semua pekerja akan pensiun. #YukSiapkanPensiun
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar