Saya pernah punya teman satu kantor. Hidupnya kelihatan rapi, tidak banyak gaya. Dia sendiri sudah bekerja lebih dari 10 tahun di kantor itu. Gajinya naik tiap tahun, KPI-nya juga lumayan. Dia yang bilang sendiri saat kerja dulu. Rumahnya sudah lunas. Anaknya sekolah di tempat bagus bagus. Saat pekerja lainnya berkeluh-kesah soal harga sembako dan lainya naik dia cuma senyum. "Santai aja. Rezeki sudah ada yang atur." Katanya.
Kamis Minggu kemarin,
tiba-tiba dia telepon dan minta ketemu sambil ngopi. Empat mata, katanya. Saya juga
agak bingung, tumben mau ketemu empat mata. Tumbenn banget nih teman. Ada apa
gerangan, pikir saya.
Saat ketemuan dan
ngopi. Dia bilang, "Bro, gue mau jujur sesuatu yang belum pernah gue ceritain
ke siapapun sebelumnya."
"Apaan?"
kata saya.
"Sebanranya,
rumah gue itu belum lunas. Masih 10 tahun lagi. Dan bulan ini, gue tidak tahu
dari mana bayar buat bulan depannya."
Saya pun diam. "Tapi
elo bilang dulu kan …."
"Iya, gue tahu
apa yang gue bilang. Itu kann yang orang perlu dengar, bukan yang benaran
terjadi pada diri gue."
"Jadi selama
ini elo pura-pura aja?"
"Iya, pura-pura
tiap hari. Di kantor, di rumah dan di mana saja."
"Kenapa
begitu?" tanya saya.
"Karena gue
kan seorang ayah. Ayah tidak boleh kelihatan tidak punya jawaban. Itu yang gue
percaya sejak pertama kali jadi kepala keluarga."
Lalu, dia pegang
gelas kopinya. Sambil meneguk sebentar lalu dipegangnya lagi.
"Dan yang
paling capek bukan kerjanya, Bro. Tapi pura-puranya itu yang menguras energi.
Pikiran dan mental gue capek"
Sejenak, saya
mengalihkan pembicaraan masa-masa sekantor dulu. Sambil meneguk, kopi hitam kesukaaan
saya. Karena ngobrol masalah serius begini butuh kepala jernih lebih. Karena
percakapan seperti begini, tidak bisa dihadapi dengan pikiran yang setengah
hadir.
Lanjut lagi ceritanya.
"Berapa lama elo sudah seperti ini?" tanya saya.
"Empat tahunan."
"Empat tahun?!"
"Iya. Selain
gue punya cicilan rumah, gue juga ada cicilan motor. Tadinya, gue pikir aman.
Ternyata tidak. Tapi gue nggak cerita ke istri."
"Kenapa?"
"Takut dia
panik. Takut dia kecewa. Takut dia kelihatan gagal."
"Terus
sekarang gimana?"
"Sekarang gue
yang panik sendirian, tiap malam. Sudah empat tahun."
"Jadi yang
bikin elo hancur bukan cicilannya?"
Dia geleng pelan.
"Bukan.
Cicilan bisa dihitung. Bisa dinegosiasi. Bisa dicari jalan keluarnya kalau pun
nggak kebayar."
"Terus?"
"Yang bikin
hancur adalah hue menganggu sendirian perasaan kayak gini selama empat tahun. Tanpa
satu orang pun yang tauh. Setiap pagi bangun pasang muka yang sama. Setiap
malam tidur dengan beban yang sama."
"Itu beneran
menguras pikiran elo. Bukan karena cicilannya. Tapi karena elo merasa
menanggung sendirinya?"
“Iya bro ..”
Lalu, saya tanya
satu hal: "Istri elo tahu nggak sekarang?"
Dia mengangguk
pelan. "Baru dua minggu lalu gue cerita ke istri"
"Terus reaksinya
gimana?"
"Dia nangis.
Gue pikir karena marah. Ternyata bukan…."
"Kenapa?"
Istri gue bilang:
“Kenapa baru sekarang cerita sekarang? Aku ini istrimu. Bukan penilaimu.'"
Taman saya pun
mikir sebentar. "Kalimat dari istri itu yang gue sesali juga. Kenapa dari empat
tahun lalu, gue nggak tahu bedanya antara istri dan penilai”.
Mau tahu
lanjutannya? Sepertinya sudah cukup. Saya pun masih ngobrol soal itu. Tapi apa
hikmah di balik cerita teman saya itu?
Justru, cerita
kawan saya itulah yang tidak pernah diajarkan untuk menjadi “Ayah”. Harus menanggung
sendiri itu bukan bentuk tanggung jawab. Tapi bentuk “kesepian” yang paling
mahal harganya. Karena kita menanggung yang berat sendirian. Kita tidak bayar
dengan uang. Tapi dengan kesehatan. Dengan tidur, dengan kehadiran. Dengan
tahun-tahun yang tidak bisa diulang lagi.
Sebelum pulang, dia
bilang satu hal ke saya: "Bro, satu yang gue pelajari dari kondisi gue ini"
"Apa?"
"Masalah
keuangan itu bisa diselesaikan. Sekalipun butuh waktu, butuh rencana tapi tapi
bisa diselesaikan. Tapi kerusakan pikiran dan mental yang terjadi pada gue selama
tahun itu lebih berat. Menanggung sendiri semuanya itu, capek psikologis dan lebih
lama waktu sembuhnya."
Lalu teman saya berdiri
hendak pamit duluan. Saya pun berpesan: "Ingat, jangan tunggu empat tahun
untuk cerita ke istri kalau besok ada lagi. Daripada nanggung sendiri. Uang
memang penting tapi psikologis jauh lebih penting. Sehat itu mahal bro …."
====
Bisa jadi, cerita
teman saya ini dialami juga oleh banyak “ayah” di luar sana. Ayah-ayah yang
lagi makan siang atau ngopi sambil baca ini. Saya tidak tahu beban apa yang
lagi ditanggung sendirian seorang ayah. Berceritalah, masalah itu bukan hukuman,
bukan pula vois hidup yang tidak sempurna. Tiap orang punya masalah itu pasti.
Tinggal cara menanganinya, mau gimana?
Coba deh untuk cerita
satu hal saja. Tidak harus semuanya. Tidak harus dengan detail atau angka yang
lengkap. Tapi cukup bilang "Aku lagi berat. Aku butuh kamu tahu."
Kalimat itu sudah bikin lebih ringan kok, daripada menanggung sendirian. Dan buat
ayah yang masih bekerja, bersyukurlah dan bijaklah mengelola uang. Gunakan
sesuai kebutuhan, bukan keinginan. Jangan pura-pura, lebih baik apa adanya saja.
Termasuk jangan
pura-pura punya dana pensiun, padahal belum punya. Memang dana pensiun nggak
diperlukan saat kerja. Tapi sangat dibutuhkan saat pensiun atau tidak kerja
lagi. #YukSiapkanPensiun

Tidak ada komentar:
Posting Komentar