Ini sebuah refleksi di momen
lebaran. Bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah rangkaian
perjalanan hidup. Dan skenario dari Allah SWT adalah yang terbaik buat kita,
buat hambanya. Tergantung tiap kita untuk menjalankannya dengan cara yang baik
atau kurang baik.
Sebab, memang ada manusia
yang fokus pada kebaikan. Hanya tahu berbuat baik dan menebar manfaat apapun
alasannya. Di sisi lain, ada pula manusia yang fokusnya pada kejelekan,
berprasangka buruk pada orang lain, dan berbuat baiknya dipilih sesuai dengan pikirannya
yang subjektif. Baik hanya menurut dirinya, bukan baik versi kebanyakan orang.
Kita sering lupa, tentang dua
hal besar dalam hidup yaitu 1) takdir (ketentuan Allah) dan 2) ikhtiar (cara
manusia menjalaninya). Sebagai rangkaian skenario terbaik, hidup siapapun dan
semua yang terjadi berada dalam ketetapan Allah. Itulah konsep Qada dan Qadar,
bahwa Allah sudah mengetahui dan menetapkan segala sesuatu. Disebut
"skenario terbaik" bukan berarti semua terasa menyenangkan, tapi apa
yang terjadi selalu punya hikmah. Kadang yang kita anggap buruk justru
menyelamatkan. Sebaliknya, kadang yang kita inginkan belum tentu baik untuk
kita. Artinya, Allah melihat dari sudut pandang yang lebih luas daripada
manusia.
Kita sebagai manusia, hanya
berperan memilih cara menjalaninya. Walaupun ada takdir, manusia tetap diberi
pilihan (free will). Di sinilah letak ujiannya: dua orang bisa mengalami
kejadian yang sama. Tapi hasil hidupnya bisa sangat berbeda. Kenapa Karena cara
menyikapinya berbeda. Ada yang sabar, belajar, dan bangkit. Ada yang mengeluh,
menyalahkan, dan menyerah. Jadi, bukan hanya "apa yang terjadi", tapi
bagaimana kita merespons apapun yang menentukan kualitas hidup kita?
Kehilangan pekerjaan itu
takdir. Bangkit dan mencari peluang baru adalah ikhtiar baik, sedangkan
menyerah dan putus asa adalah ikhtiar kurang baik. Maka takdir + sikap = hasil
akhir. Takdir adalah kejadian yang datang, sedangkan sikap adalah pilihan kita.
Karenya, hasil akhir adalah kombinasi keduanya.
Pesan utamanya adalah
keseimbangan: antara takdir dan ikhtiar. Tenang dalam menerima karena percaya
segala yang terjadi adalah skenario Allah. Aktif dalam bertindak karena kita
bertanggung jawab atas pilihan kita. Jadi, hidup bukan pasrah tanpa usaha. Tapi
juga bukan merasa segalanya di tangan sendiri. Semuanya ada takdirnya tapi
harus ada ikhtiarnya.
Hidup memang sudah ditulis,
tapi cara membacanya apakah dengan sabar, syukur, atau keluh kesah? Jawabnya
tergantung pilihan kita. Kalau dijalani dengan cara yang baik, takdir yang sama
bisa menjadi jalan kemuliaan. Kalau dijalani dengan cara yang buruk, bisa
terasa sebagai beban. Begitulah hidup yang selalu dihadapkan pada dua hal
besar.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar