Abu al-Hasan al-Shadhili pernah merangkum tentang peta batin manusia. Tentang apa yang merusak, apa yang menjerumuskan, dan apa yang menyelamatkan seorang manusia. Sebagai literasi kehidupan, sebagai pembelajaran ke depan.
Penyebab rusaknya akal adalah
nafsu. Ketika keinginan dibiarkan menguasai, akal kehilangan kejernihannya.
Keputusan tidak lagi didasarkan pada kebenaran, tetapi pada dorongan sesaat.
Nafsu sering kali menguasai akal manusia.
Penyebab kesengsaraan adalah
cinta dunia. Bukan berarti dunia harus ditinggalkan, melainkan peringatan agar
tidak terlalu terikat. Ketika hati bergantung pada hal yang fana, maka kian
mudah kecewa saat kehilangan. Sengsara karena terlalu cinta dunia.
Penyebab fitnah adalah
kedengkian. Karena iri hati selau mendorong seseorang melihat orang lain dengan
buruk, bahkan memutarbalikkan kebenaran. Dari sinilah banyak konflik bermula.
Sering kali fitnah, ghibah dan prasangka buruk lahir dari sifat dengki.
Penyebab perpecahan adalah
perselisihan. Ego yang tidak dikendalikan akan memperbesar perbedaan hingga
merusak persatuan, menghancurkan kebersamaan. Kian banyak orang berselisih
untuk urusan sepel dan tidak sepatutnya. Hati-hati soal ini.
Namun ada penutupnya yang
memberi jalan. Bahwa penyebab keselamatan adalah diam. Diam bukan pasif, tapi menahan diri dari ucapan
yang tidak perlu, menjaga lisan dari menyakiti, dan memberi ruang bagi
kebijaksanaan untuk muncul. Diam lebih baik dari apapuan. Jangan bicara bila
tidak diminta, apalagi tidak didengarkan.
Nasihat literasi ini
mengajarkan bahwa sumber kerusakan dan keselamatan sama-sama ada dalam diri
manusia. Ketika nafsu, cinta dunia, dan iri hati tidak dikendalikan, hidup
menjadi sempit. Namun ketika lisan dijaga dan hati ditenangkan, keselamatan pun
mendekat. Pada akhirnya, inilah renungan akan pentingnya mengelola diri dengan
sadar. Karena dari situlah arah hidup seseorang ditentukan. Semakin baik atau
buruk!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar