Mungkin terlalu klise untuk menyatakan “Membaca buku untuk kejernihan batin dan menemukan makna hidup yang sejati”. Tapi memang, sebagian orang membaca bukan untuk pintar secara akademik. Sebab membaca baginya sebagai proses batiniah.
Membaca untuk menjernihkan batin. Agar pikiran tidak terlalu
gaduh, emosi lebih tertata, dan mampu
melihat hidup dengan lebih tenang. Saat membaca buku, apapun jenisnya seperti cerita
rakyat, sastra, sains, refleksi hidup, atau biografi. Siapapun akan berhenti
sejenak dari hiruk-pikuk dunia. Masuk ke ruang sunyi pikiran dan belajar
memahami perasaan sendiri lewat pengalaman orang lain. Bukti bahwa buku menjadi
cermin untuk melihat diri sendiri di dalamnya. Bukan sekadar tahu banyak hal
tapi “tahu apa yang sedang kita rasakan dan butuhkan”.
Terkadang, membaca juga untuk menemukan makna hidup. Sebab makna
hidup tidak datang dari jawaban instan. Ia tumbuh dari perenungan, perbandingan
pengalaman, dan ialog batin. Buku bisa menghadirkan penderitaan orang lain, perjuangan
tokoh, pilihan moral, bahkan cerita kegagalan dan harapan. Maka sering saat
membaca, kita bertanya: “Apa yang penting dalam hidup kita?” atau “Untuk apa kita
berjalan sejauh ini?”. Jadi, buku tidak memberi makna secara langsung. Tapi
membantu kita menemukannya sendiri.
Di zaman modern, membaca buku kian penting. Karena hidup modern
terlalu cepat, dangkal, penuh distraksi dan terkadang instan. Media sosial
melatih kita untuk “bereaksi cepat tanpa berpikir” hingga lupa merenung. Sedangkan
membaca melatih kita untuk diam, menyelami, dan memahami. Maka, membaca jadi bentuk
perlawanan halus terhadap kehidupan yang serba tergesa-gesa.
Jalaludin Rumi pernah menyebut pentingnya melepaskan, menjernihkan
batin, dan menemukan makna hidup yang sejati. Tentang pentingnya “Saat kita
melepaskan semua yang tidak penting”. Mengajak manusia untuk berani
menanggalkan hal-hal yang sering menyita energi batin: ambisi berlebihan,
pengakuan semu, gengsi, dendam, perbandingan, dan keterikatan pada hal-hal yang
fana. Sebab banyak kegelisahan hidup bukan berasal dari kekurangan, tetapi dari
kelebihan beban yang kita pikul tanpa perlu.
Ketika membaca, siapapun akan mampu menemukan apa yang benar-benar
penting. Ruang batin dibersihkan, pikiran dijernihkan sehingga yang tersisa
justru nilai-nilai hakiki berupa ketenangan dan kejujuran pada diri sendiri. Hubungan
yang tulus, cinta yang bersih, serta kedekatan dengan Tuhan. Hal-hal inilah
yang sering tertutup oleh hiruk-pikuk keinginan dan tuntutan dunia. Apa yang
dilepaskan mungkin terasa berharga di mata dunia. Tapi sering kali jadi
penghalang bagi ketenangan dan kedamaian. Dengan melepaskan, kita tidak menjadi
miskin, melainkan menjadi ringan dan lebih merdeka.
Membaca, sering kali mengembalikan hati tidak lagi terikat pada
yang sementara. Membaca sangat mampu menyeleksi pikiran. Agar siapapun mau berhenti
menggenggam terlalu banyak hal. Tapi cukup dengan menyadari apa yang pantas
dijaga dan diperjuangkan. Siapapun yang membaca, berarti berani memilah: apa
yang sekadar ramai dan apa yang benar-benar bermakna? Karena dengan melepaskan
yang tidak penting, hati akan memiliki ruang untuk menerima yang paling penting:
ketenangan, cinta, dan kebenaran.
Membaca buku bukan sekadar menambah pengetahuan. Tapi jalan untuk
menenangkan batin, memahami diri, dan perlahan menemukan apa yang benar-benar
bermakna dalam hidup. Salam literasi!
%20rev.jpg)
%20rev.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar