Pernah lihat nggak, abang-abang ojol lagi istirahat alias ngaso di trotoar? Apalagi di siang yang terik matahari, banyak abang ojol lagi ngobrol sambil menikmati secangkir kopi dari pedagang kopi starling. Ngaso di trotoar, kenapa ya kira-kira abang ojol begitu?
Tentu, bukan karena abang ojol nggak punya rumah. Bukan pula
karena nggak ada orderan. Tapi karena di trotoar itu mereka bisa berhenti
sebentar. Tanpa harus menjelaskan apa pun, kepada siapa pun. Di trotoar,
abang ojol lebih rileks dan menjauh dari penatnya mengais rezeki.
Abang ojol, begitulah hidupnya. Di jalan, mereka dikejar target.
Di aplikasi, dikejar rating. Di konsumen, harus antar kemana pun. Bahkan di
rumah, tetap dituntut kuat tapi harus penuhi segala kebutuhan rumah.
Beban hidup abang ojol berat. Lebih berat dari pekerja kantoran.
Setiap hari haru keluar rumah, bukan cuma tanggung jawab tapi untuk menafkahi
keluarganya. Capek ditahan, kecewa ditelan. Terus, harus mengeluh ke mana? Cuan
kan harus dicari, bukan diadukan ke pemerintah.
Ngaso di trotoar, istirahat di pinggir jalan. Ngetem di
pedestrian. Memang nggak bagus bahkan nggak boleh. Tapi di trotoar itulah abang
ojol cuma duduk. Ngaso sambil menikmati kopi sachet buatan pedagang jalanan.
Sambil narik napas panjang. Lega lega dan lega buat abang ojol.
Di atas trotoar, Abang ojol ngaso sebentar. Kadang, bengong dan
ngobrol sebentar. Kumpulin tenaga untuk narik lagi, untuk layani dan antar
penumpang lagi.
Abang ojol nggak perlu cerita. Nggak perlu terlihat hebat. Nggak
perlu menjelaskan kenapa hari ini berat? Abang ojol hanya tahu berjuang dan
bertahan di segala keadaan.
Laki-laki termasuk abang ojol, nggak perlu gaya hidup nggak butuh
liburan mahal. Mereka hanya butuh jeda kecil, rileks yang murah, tenang, dan
nggak banyak prasangka. Cukup dengan Rp4000 kopi sachet dan meneguknya. Tapi
rasanya seperti istirahat dari dunia sebentar.
Jadi kalau kita lihat abang ojol duduk lama di trotoar, bareng
sama teman-temannya. Mereka bukan malas, bukan pula ngga punya etos. Tapi
mereka sedang menguatkan diri sebelum kembali ke jalan.
Karena hidup memang harus terus jalan. Cuan memang harus dicari
(karena nggak ada yang ngasih). Tapi hati juga kan perlu “parkir” sebentar.
Ngaso di trotoar, nongkrong sambil ngopi buat Abang ojol. Sungguh
jadi saksi cucuran keringat seorang pejuang jalanan. Salam literasi!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar