Kenapa sih kita bekerja? Ternyata, 75% pekerja yang sudah berkeluarga (punya pasangan dan anak) menjawab untuk menafkahi keluarga, sebagai wujud cinta sepenuh hati. Saking sayangnya pada anak dan pasangan, rela bekerja keras siang malam. Berangkat gelap pulang gelap, ditempa panas dan hujan, semuanya karena cintanya pada keluarga. Banting tulang dan menahan lelah, demi anak-anaknya. Memang harus diakui, ada fase dalam hidup di mana kita mau melakukan apa saja karena mencintai keluarga sepenuh hati. Bekerja bukan lagi sekadar aktualisasi diri atau mengejar cita-cita.
Tapi seiring
waktu berjalan dan tahun demi tahun pun berganti, satu pertanyaan penting muncul:
Apakah cinta saja sudah cukup untuk keluarga? Bekerja keras untuk memenuhi
kebutuhan hidup keluarga sebagai tanda cinta pada keluarga, apa sebatas itu
saja? Ternyata, banyak pekerja baru menyadari satu hal saat semuanya sudah
terlambat. Yaitu, selama bekerja tidak punya dana pensiun sebagai perencanaan
hari tua di saat sudah tidak bekerja lagi, saat nanti pensiun.
Faktanya, 1 dari 2 pensiunan yang bekerja puluhan tahun pada akhirnya
mengandalkan transferan anaknya setiap bulan untuk memenuhi biaya hidupnya di
hari tua. Bahkan 9 dari 10 pekerja hari ini sama sekali tidak siap untuk
pensiun akibat tidak punya dana yang cukup untuk menjaga standar hidupnya saat
tidak bekerja lagi. Terbukti, cinta keluarga tanpa mempersiapkan hari tua pada
akhirnya hanya meninggalkan beban. Sementara siapapun yang bekerja pada
akhirnya akan pensiun, cepat atau lambat. Sekalipun dana pensiun dianggap
penting tapi hingga kini masih belum punya persiapan pensiun. Bahwa niat baik
tanpa tindakan nyata, bisa berubah menjadi penyesalan.
Pekerja sering lupa. Dana pensiun seperti DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan)
bukanlah tentang hari tua semata, bukan pula tentang iuran atau waktunya masih
lama. Dana pensiun bukan soal sudah punya aset berupa rumah, kendaraan,
tabungan, bahkan investasi. Dan dana pensiun juga bukan soal waktu tapi soal
keadaan, mau seperti apa di hari tua? Maka dana pensiun jelas tentang tanggung
jawab pada keluarga yang tetap berjalan, bahkan saat kita sudah tidak ada. Dana
pensiun adalah bukti cinta pekerja pada keluarganya.
Dana pensiun sejatinya tentang kesinambungan penghasilan di hari tua untuk
orang-orang yang kita cintai. Tentang memastikan hidup orang-orang yang kita
cintai tidak ikut runtuh, hanya karena kita sudah tidak bekerja lagi. Justru dana
pensiun menjadi bagian penting untuk menjaga suasana rumah tetap tetang dan
nyaman sekalipun kita sudah tua. Tetap terjaga standar hidup di saat kita sudah
pensiun. Agar nanti, saat kita sudah tidak bekerja lagi, kehidupan keluarga yang
kita cintai tetap berjalan sebagaimana mestinya. Dana pensiun untuk menjaga
kemandirian finansial di hari tua, seperti saat kita masih bekerja.
Maka di situlah
dana pensiun khususnya DPLK mengambil peran. Bukan sebagai produk keuangan,
tapi sebagai “janji” kita untuk orang-orang tercinta. Karena dengan adanya dana
pensiun, kita punya kepastian dana untuk hari tua, punya kesinambungan
penghasilan saat tidak bekerja lagi, dan akhirnya tidak menjadi beban keuangan
keluarga di masa depan.
Tahun baru 2026
telah tiba, kerja pun sudah puluhan tahun. Banting tulang bekerja dan cinta
kepada keluarga, tidak cukup bila belum punya dana pensiun. Maka siapkanlah
masa pensiun mumpung masih ada waktu, mumpung masih bisa menyisihkan sebagian
gaji untuk hari tua. Tentu bukan untuk kaya raya di hari tua tapi sebagai wujud
cinta pada keluarga. Agar nanti, tidak bergantung pada anak di hari tua atau
berharap pada keberuntungan di masa pensiun.
Sebab masa pensiun sama sekali tidak bisa dihadapi dengan “gimana nanti” tapi “nanti
gimana”. Sungguh, cinta keluarga tanpa tindakan pada akhirnya hanya tinggal
omongan. Siapkanlah dana pensiun dari sekarang, mumpung masih mampu. #YukSiapkanPensiun
#EdukasiDPLK #DPLKSAM

Tidak ada komentar:
Posting Komentar