Tiba-tiba saja, seorang kawan posting foto saat Presiden Prabowo mengunjungi Jenderal (Purn) Subagyo HS di Yogyakarta. Entah, momen itu terjadi kapan. Mungkin tahun 2024 saat Prabowo terpilih sebagai Presiden di Pilpres lalu. Menurut saya, kunjungan Prabowo menjadi simbol kerendahan hati seorang pemimpin. Jenderal TNI (Purn) Subagyo Hadi Siswoyo, mantan Kepala Staf Angkatan Darat dan salah satu senior yang pernah membentuk karakter kepemimpinan Prabowo di dunia militer begitu dihormatinya. Bisa jadi, kunjungan itu bukan sekadar silaturahmi. Tapi menjadi simbol dari seorang murid yang tidak pernah melupakan gurunya, betapapun tinggi jabatan yang kini ia emban.
Di tengah kesibukan sebagai kepala negara, Presiden Prabowo tetap menghormati
seniornya. Ia selalu menekankan pentingnya menghormati orang tua, guru, dan
para senior yang pernah membimbingnya. Setinggi apa pun kedudukan seseorang, ia
tidak lupa untuk berterima kasih. “Terima kasih Pak Subagyo” ujarnya.
Kerendahan hati seorang pemimpin. Mungkin, menjadi isu penting
yang harus dikedepankan di zaman sekarang. Sebab, tidak sedikit pemimpin hari
ini yang arogan dan hanya mengejar kekuasaan, merebut jabatan. Lalu, menyalah-nyalahkan
seniornya bahkan mendeskreditkan legacy yang dibuat pemimpin sebelumnya. Hingga
lupa, siapa dirinya sendiri? Pemimpin yang “lupa kacang akan kulitnya”,
pemimpin ynag ternyata hanya “haus” jabatan. Pemimpin tanpa prestasi yang
mengaku punya prestasi.
Ada pelajaran kepemimpinan di balik kunjungan Presiden Prabowo ke
Jenderal Subagyo HS. Sebagai contoh nyata, bahwa kekuasaan tidak boleh membuat
seseorang lupa diri. Rasa hormat adalah fondasi kepemimpinan yang hakiki. Senior
adalah guru kehidupan yang patut dihormati. Karenanya, seorang pemimpin besar pasti
lahir dari sikap-sikap kecil yang tulus. Bukan dari sikap dan perilaku yang
arogan dan subjektif. Hingga mengabaikan etika dan akhlak kepemimpinan itu sendiri.
Menyuarakan kerendahan hati seorang pemimpin, jadi penting disosialisasikan.
Sebab di tengah dunia modern hari ini, banyak orang lupa pada akar dan norma
dasar kepemimpinan. Bahwa kekuatan karakter seorang pemimpin justru terlihat
dari bagaimana ia memperlakukan mereka yang pernah membantunya berdiri tegak. Sebagai
bentuk penghormatan, balas budi, dan menjaga kebersamaan. Karena sejatinya,
senior atau guru bukan hanya pemberi ilmu tetapi juga penanam nilai.
Dan akhirnya, hubungan baik jauh lebih penting dan melampaui sebuah
jabatan. Sebuah pertemanan dan hubungan batin yang tidak lekang oleh waktu, mau
setinggi apapaun jabatan dan kekuasaan yang dimilikinya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar